Breaking News:

Salam

Kuncinya, Patuhilah Protokol Kesehatan  

Pemerintah Aceh mengeluarkan seruan "Tunda Mudik" secara berulang‑ulang guna mencegah penularan Covid‑19

(Dok. Istimewa)
Para pemudik memadati Pelabuhan Bakauheni, Kamis (23/4/2020) dini hari. Diperkirakan para pemudik memanfaatkan waktu sebelum diberlakukannya larangan mudik oleh pemerintah. 

Pemerintah Aceh mengeluarkan seruan "Tunda Mudik" secara berulang‑ulang guna mencegah penularan Covid‑19. Dalam seruan yang disampaikan ke masyarakat dan pegawai negeri melalui berbagai media massa dan sosial, Pemerintah Aceh menyampaikan lima hal untuk dipatuhi dan dilaksanakan masyarakat agar daerah ini segera bersih dari virus Corona. Di antara lima hal itu adalah masyarakat dan ASN diminta tidak mudik Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H.

Maklumat itu sudah disampaikan ke masyarakat dan pegawai negeri sejak awal pekan lalu. Sengaja terus disampaikan secara berulang‑ulang karena menurut pantauan, banyak warga yang belum mematuhinya. Padahal, menurut Presiden Joko Widodo, partisipasi masyarakat menjadi kunci utama untuk pencegahan penyebaran wabah Covid‑19.

Salah satu imbauan pemerintah yang paling diminta untuk kita patuhi adalah pembatasan sosial. Seruan pembatasan sosial menuntut kesadaran warga untuk menghindari kerumunan, seperti menjaga jarak dari orang lain minimal satu meter, tidak bepergian ke area publik (mall, bioskop, stadion, sekolah, tempat ibadah, gedung pemerintahan, dan lain‑lain), mengenakan masker, tidak bersentuhan dan sebagainya. Imbauan pembatasan sosial sejak hampir dua bulan lalu memaksa publik untuk belajar dari rumah, ibadah wajib di rumah, dan bekerja dari rumah.

Artinya, peran masyarakat untuk bersama‑sama menghadapi wabah Covid‑19 sangat penting dalam memutus rantai penyebaran virus. Para pengamat mengatakan, pandemi Covid‑19 yang muncul saat ini menguji modal sosial bangsa , yakni kecintaan pada bangsa dan negara, taat pada aturan (imbauan), serta mengutamakan kepentingan umum dan eksistensi negara.

Kita bersyukur, sebagian masyarakat sudah bahu‑membahu menangani dan mencegah penyebaran Covid‑19. Semangat untuk bangkit dan menghadapi wabah Covid‑19 bersama‑sama memunculkan ragam inisiatif dari publik. Misalnya, menumbuhkan inisiatif pada berbagai kelompok masyarakat untuk memproduksi sendiri masker dan cairan pencuci tangan.

Kekompakan dan keinginan berbuat sesuatu guna memecahkan masalah yang dialami tentu didasari keprihatinan setelah banyaknya warga yang positif terinfeksi virus Corona. Di Aceh, misalnya, setelah mereda satu pekan, kemudian muncul lagi dua pasien positif  Covid‑19. Ini membuktikan bahwa kita semua tak boleh lengah terhadap wabah yang berasal dari Wuhan, Cina, itu.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid‑19 sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo. mengajak kita semua supaya menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum meningkatkan disiplin pribadi dan kesadaran kolektif, serta bergotong royong untuk memutus rantai penularan. Doni menilai, cepat atau lambat pandemi Corona ini tergantung dari tingkat kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan.

"Semakin disiplin, semakin cepat wabah berakhir. Lakukanlah salat lima waktu, salat sunah, salat tarawih bersama keluarga di rumah saja. Serta tidak mudik dan tidak melakukan kegiatan berkumpul dalam bentuk apapun. Apabila dilaksanakan dengan baik maka Anda telah menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan keluarga, serta masyarakat di sekitarnya," tambah Doni.

Hasil pengamatan dua hari lalu, tingkat kepatuhan warga terhadap pembatasan sosial yang diberlakukan di banyak daerah ternyata masih minim. Padahal, seperti sudah kita katakan tadi, tanpa peran aktif masyarakat, kebijakan itu tak akan membuahkan hasil maksimal untuk memutus rantai penularan virus corona.

Para pakar, dokter, dan ahli kesehatan masyarakat kini sudah sangat sepakat bahwa kedisiplinan dalam mematuhi imbauan pemerintah sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. ''Kalau masyarakat tidak disiplin, pimpinan daerah wajib mendisiplinkan dengan memanfaatkan aparatnya.''

Seorang dokter senior yang juga tim Satgas Pencegahan Corona di Jakarta mengatakan, "Jika semua rangkaian dilakukan secara baik dan benar, sangat mungkin Corona akan mereda pada Mei atau Juni. Kalau tidak, saya tak dapat membayangkan, kapan pandemi ini berakhir."

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved