Senin, 25 Mei 2026

Opini

Berbahagialah Orang yang Berpuasa  

Umat Islam di seluruh dunia saat ini sedang menunaikan rukun Islam yang ketiga, yaitu menunaikan ibadah Puasa di Bulan Ramadhan

Tayang:
Editor: bakri
IST
Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd, Wakil Ketua II Stai Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh 

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd, Wakil Ketua II Stai Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh

Umat Islam di seluruh dunia saat ini sedang menunaikan rukun Islam yang ketiga, yaitu menunaikan ibadah Puasa di Bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan. Selain itu, Ramadhan memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan bulan-bulan yang lain. Salah satunya adalah mampu membawa kita meraih kebahagiaan yang hakiki.

Dalam hadits Qudsi Allah Ta'ala berfirman, "Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya." (HR. Muttafaqun `alaih). Hadits ini adalah satu dari sekian banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan ibadah puasa. Allah secara langsung menyatakan bahwa puasa dapat mencapai kebahagiaan pada hati orang-orang yang melaksanakannya. Beban saat berpuasa menahan segala keinginan syahwat kelak berakhir dengan berjuta kebaikan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kesempatan dapat berjumpa bulan Ramadhan merupakan anugerah yang sangat agung bagi manusia. Pada saat telah memasuki bulan Rajab sering didengar dari pengeras suara dari masjid dan meunasah lantunan doa kerinduan berjumpa Ramadhan yang senantiasa bergema sampai akhir bulan Sya'ban, yaitu doa ma'tsur (yang berasal) dari Rasulullah Saw: Artinya, "Dari Anas Ra berkata, ketika bulan Rajab tiba Rasulullah Saw berdoa, Ya Allah, berkahilah untuk kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikan kami menjumpai Ramadhan." (An-Nawawi, Al-Adzkar, Beirut, Darul Fikr: 1414 H/1994 M], halaman 189). 

Orang-orang yang berpuasa akan merasakan bahagia saat ia menyelesaikan ibadah puasa karena ia dapat melakukan kembali perkara-perkara yang dilarang saat ia berpuasa. Dan lebih dari itu, ia akan berbahagia karena kepuasaan batin yang dirasakannya saat ia dapat melaksanakan ibadah kepada Allah seraya mengharap pahala dari-Nya. Kebahagiaan orang yang berpuasa tentu bukan bermakna bahwa ia tidak menyukai ibadah yang dilakukannya itu.

Kebahagiaan itu lahir dari kenikmatan yang ia rasakan saat ia diberikan kekuatan untuk melaksakan salah satu ibadah kepada Allah dengan baik. Kebahagiaan itu adalah tanda keimanan yang terpancang dalam hatinya, kesadaran yang dalam atas kebutuhannya terhadap ketaatan yang dapat mengangkat derajatnya kepada Allah swt. Dan ini adalah hakikat kebahagian orang yang beriman.

Meraih kebahagiaan adalah cita-cita setiap manusia. Tidak ada manusia yang ingin bersedih, sengsara, dan hidup dalam kegalauan. Siapa pun, akan berusaha mencari kebahagian itu, walaupun harus melalui kesengsaraan dan kesulitan terlebih dahulu. Namun, dari seluruh manusia yang mengharapkan kebahagian itu, ternyata hanya sedikit sekali manusia yang menemukan kebahagiaan sejati. Kebanyakan manusia terjebak pada pusaran kebahagiaan palsu yang berujung pada kesengsaraan. Jika demikian, apakah kebahagiaan yang hakiki itu? Dalam porsi apa kita menempatkan rasa bahagia itu sehingga ia dapat dinamakan sebagai kebahagiaan yang sejati? Dalam Alquran, Allah menyebut kata bahagia dalam dua sisi; Pertama, Kebahagiaan karena dunia. Dan kedua, Kebahagiaan karena keutamaan dan rahmat Allah. Kebahagiaan karena dunia adalah kebahagiaan yang tercela. Maksudnya adalah dunia yang melupakan keutamaan dan nikmat Allah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah tentang Qarun (yang artinya), "Janganlah engkau berbahagia, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbahagia." (QS. Al-Qashash: 76).

Di dalam Surah yang lain, Allah menerangkan tentang orang-orang yang diazab oleh-Nya, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al-An'am: 44).

Adapun kebahagiaan karena keutamaan dan rahmat Allah adalah kebahagian yang terpuji, bahkan diperintahkan. Allah berfirman (yang artinya), "Katakanlah: "Dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Keutamaan Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58).

Lalu, apakah yang dimaksud dengan keutamaan dan rahmat Allah itu? Untuk mengetahuinya dalam firman Allah (yang artinya), "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."(QS. Yunus: 57).

Maka, ia adalah bahagia karena pelajaran dari Allah, yaitu perintah dan larangan Allah yang sarat hikmah dan kebaikan. Bahagia karena penyembuh bagi penyakit-penyakit hati dalam dada berupa kejahilan, kegelapan dan kesesatan. Bahagia karena petunjuk dan rahmat yang menjamin penjagaan. Bahagia karena Rasul-Nya, karena Alquran, karena sunnah, ilmu, dan amal shaleh.

Inilah kebahagian yang hakiki. Kebahagiaan yang abadi sampai ke akhirat kelak. Ada pun bahagia karena dunia, ia adalah kebahagian yang sementara dan menuju kepada kehancuran. Dan di antara kebahagian bagi ahli iman adalah datangnya bulan Ramadhan. Ramadhan bulan rahmat dan keutamaan. Karena pada bulan Ramadhan Allah melipatgandakan pahala kebaikan, menjanjikan ampunan, menyempitkan jalan keburukan dan membuka selebar-lebarnya jalan amal shaleh yang menguntungkan. Maka berbahagialah dengan bulan agung ini, dengan memperbanyak kebaikan.

Sebagaimana orang beriman berbahagia di dunia dengan karunia dan keutamaan dari Allah dengan iman dan amal shaleh, di akhirat pun mereka berbahagia ketika mereka mendapatkan pahala yang sangat besar saat bertemu dengan Rabbul `Alamin. Dan ini adalah kebahagian yang sangat besar di akhirat nanti. Pertemuan dengan Allah adalah keniscayaan hidup yang diyakini oleh orang-orang yang beriman.

Allah berfirman, "Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemuinya." (QS. Al-Insyiqaq: 6).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved