Selasa, 5 Mei 2026

Larangan Mudik di Malaysia, Matnoe Nekat Berjalan Kaki Hingga 428 Km

Kebijakan lockdown, sekaligus larangan mudik, yang diterapkan Malaysia membuat Matnoe Poksu Din nekat berjalan kaki hingga ratusan kilometer

Tayang:
Editor: bakri
FACEBOOK/MATNOE POKSU DIN
Kolase foto Matnoe Poksu Din dan sepatunya yang rusak setelah berjalan kaki sejauh 428 Km dari Kuala Lumpur ke kampungnya di Kelantan, Malaysia 

Kebijakan lockdown, sekaligus larangan mudik, yang diterapkan Malaysia membuat Matnoe Poksu Din nekat berjalan kaki hingga ratusan kilometer. Butuh waktu hampir empat hari bagi Matnoe untuk tiba di kampung halamannya di Kelantan, negera bagian Malaysia yang berbatasan dengan Thailand.

Kisah Matnoe ini viral di media sosial setelah dia mengunggah foto dan video perjalanannya dari Kuala Lumpur menuju ke kampung halamannya di Kelantan. Tidak main-main, jarak yang ditempuh Matnoe adalah 428 kilometer.

Matnoe pertama kali mengunggah sebuah foto Google Maps jarak Kuala Lumpur menuju rumahnya yang berada di Tanah Merah, Kelantan, pada 26 April. Dalam peta terlihat untuk mencapai rumah dengan jalan kaki membutuhkan waktu 3 hari 20 jam atau hampir 4 hari.

Menyertai foto peta itu, Matnoe menuliskan caption: “HARI LAGI SAPA .. marila sapo2 nok join .. kito pakat jalan kaki ghamaghama..”

Matnoe juga beberapa kali membagikan foto saat dia berjalan dan istirahat. Dia bercerita perjalanannya sempat tertunda karena hujan sehingga harus meneduh.

Pada tanggal 27 April atau hari kedua, Matnoe mengunggah video berjalan di jalan tol. Ia juga mengunggah foto sepatunya rusak saat sampai di ruas jalan Plaza Tol Ipoh Utara 1.500 m. Dalam perjalanan, Matnoe sempat beristirahat di Terminal Amanjaya.

Dalam beberapa unggahannya, Matnoe mengatakan dia rela berjalan kaki pulang untuk bertemu sang anak, Anisa. Apalagi, dia sudah tidak bekerja lagi di Kuala Lumpur karena kontraknya sudah habis.

Hal ini diketahui dari salah satu postingan Matnoe di Facebook.

“24 APRIL 2020 buat panggilan video ngn anok no 2 ..

anisa : abah bila nak balik? nisa rindu ko abah

abah : xdok bas loni .. abah xleh balik ..

anisa : pah nisa tokleh jupo nge abah sapa bilo2 la ? abah balik la jalan kaki ...

abah : jauhla sayang

anisa : dekat jah abah

200% semangat untuk cuba balik berjumpa anak ..”

Unggahan Matnoe itu kemudian dibagikan istrinya, Sara Anisa, dan beberapa temannya. Unggahan ini mendapat banyak respons positif dari netizen, hingga menarik perhatian sejumlah media online dan media cetak di Malaysia, hingga Singapura.

Setelah tiga hari berjalan, Matnoe Poksu Din tiba di rumahnya pada 28 April pukul 11 malam. Berikut postingannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

"Alhamdulillah. Pukul 11 malam tadi selamat sampai rumah... terima kasih kepada yang mendoakan, memberi bantuan.. terutama terima kasih kepada s / u susah dato ' pa saudara Ahmad Nazree Ramli atas donasi yang diberikan. Dia banyak membantu perjalanan saya..."

Setelah itu, akun Facebook Matnoe Poksu Din dipenuhi dengan foto-foto kebahagiannya dengan sang anak dan istrinya. Postingan-postingannya memperlihatkan dia sedang berbahagia, karena pada tanggal 1 Mei kemarin, dia merayakan ulang tahun pernikahannya.

Matnoe pun memenuhi imbauan Pemerintah Malaysia untuk melakukan karantina mandiri di rumahnya.

Sebelumnya, seorang pria lain di Malaysia juga berjalan kaki dari Kota Kinabalu ke Kota Marudu sejauh 120 kilometer selama tiga hari. Dilansir dari Straits Times, Kamis (9/4), pria bernama Alixson Mangundok (34) memilih berjalan kaki dari Kota Kinabalu ke Marudu, agar tidak membuat khawatir orang-orang di dalam bus, karena dia baru saja kembali dari Jepang pada tanggal 25 Maret 2020.

"Setelah mencapai Bandara Internasional Kinabalu, saya di-screening. Pejabat kesehatan mengatakan saya baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala. Saya kemudian diminta pergi ke Rumah Sakit Queen Elizabeth untuk screening lebih lanjut," kata Alixson.

Setelah memberikan sampelnya di rumah sakit itu, dokter memberitahu Alixson agar menjalani karantina mandiri di rumah dan tidak diharuskan memeriksakan diri ke pusat karantina, sambil menunggu hasil tes. Karena statusnya yang belum jelas, ia memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya di Marudu demi menghindari risiko penularan bagi banyak orang jika ternyata ia terinfeksi.

Begitulah di antara kisah anak manusia di saat wabah melanda. Ada yang memilih berjalan kaki ratusan kilometer demi bertemu anak istri, ada pula yang karena tak ingin membuat orang lain khawatir.(tribunjateng/nal)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved