Breaking News:

Viral Medsos

Seorang Siswa Singapura Bagikan Nasi Sahur di Tengah Kesibukan Kelas Online

Ruzaini Syazwan mendistribusikan 250 makanan di bawah #UmbrellaInitiativeSG kepada orang yang membutuhkan di Singapura.

Editor: Taufik Hidayat
Akun Facebook BERITAmediacorp
Ruzaini Syazwan mendistribusikan makanan sahur kepada orang yang membutuhkan di Singapura. 

SERAMBINEWS.COM - Komunitas Muslim di seluruh dunia merasakan bulan puasa yang sedikit berbeda pada tahun ini karena pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung.

Salah satunya komunitas muslim di Singapura, mereka yang kurang beruntung tergantung pada masjid selama bulan Ramadhan.

Dengan perpanjangan periode circuit breaker atau lockdown parsial di Singapura, semua masjid ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Ini berarti bahwa Ramadhan hanya dapat dinikmati di rumah saja.

Namun, tidak semua orang memiliki hak istimewa untuk melakukannya.

Seperti diketahui, setiap tahun masjid-masjid di Singapura akan menyediakan makanan sahur (pra-fajar) dan makanan berbuka puasa gratis bagi mereka yang kurang beruntung di masyarakat.

Tetapi dengan penangguhan masjid saat ini, kelompok-kelompok rentan ini tidak dapat lagi menerima bantuan yang sama.

Untungnya, seorang pria bernama Ruzaini Syazwan berbagi kisahnya tentang bagaimana ia mendistribusikan 250 makanan di bawah #UmbrellaInitiativeSG kepada  orang  yang membutuhkan di Singapura.

Pria ini melakukan hal tersebut karena atas inisiatifnya sendiri, ia melakukan hal ini untuk meringankan penderitaan mereka yang kurang beruntung.

Menurut video berita Media Corp, Ruzaini mengatakan: "Kami (Muslim yang memiliki hak istimewa) sudah dapat merasakan betapa berbedanya Ramadhan tanpa masjid. Jadi saya mulai bertanya-tanya tentang mereka yang bergantung pada masjid untuk makanan sahur dan buka puasa mereka. Bagaimana mereka mengatasinya?,"

Dengan mengambil sumbangan dari komunitas, Ruzaini mengirimkan makanan setiap hari kepada sekitar 50 warga Singapura yang berjuang untuk mendapatkan makanan selama pemberlakuan periode Circuit Breaker.

Selain itu, Ruzaini mengirimkan makanan kepada 30 non-Muslim yang juga berjuang selama periode pandemi ini.

Meskipun itu bermanfaat, Ruzaini mengakui bahwa inisiatifnya kadang-kadang bisa menuntut secara fisik.

Ruzaini saat ini adalah siswa penuh waktu dan harus menghadiri kelas online setiap hari Senin hingga Jumat dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved