Kepatuhan Masyarakat jadi Kunci Sukses Penanganan Corona
Taiwan merupakan daerah paling berisiko terpapar Covid-19 di luar daratan Cina, karena kedekatannya, ikatan, dan hubungan transportasi
* Mahasiswa Aceh di Taiwan Tetap Kuliah Tatap Muka
Taiwan merupakan daerah paling berisiko terpapar Covid-19 di luar daratan Cina, karena kedekatannya, ikatan, dan hubungan transportasi. Hari ini, Taiwan dipuji banyak negara lain karena kesiapannya merespons wabah tersebut. Sejak pertengahan bulan lalu, Taiwan mengumumkan nol kasus baru. Bagaimana sebenarnya kehidupan masyarakat di sana? Berikut kisah mahasiswi asal Aceh, Lina Marlina.
JARAK antara Taiwan dengan daratan Cina hanya dipisahkan oleh Selat Taiwan atau Selat Formosa sejauh 113 kilometer. Karena kedekatan itu lah, ditambah lagi adanya ikatan dan padatnya arus transportasi di kedua negara ini, Taiwan menjadi salah satu daerah paling berisiko di luar daratan Cina.
Sebuah studi awal yang dilakukan oleh Univeristas John Hopkins pada bulan Januari memperkirakan bahwa Taiwan bisa memiliki kasus terkonfirmasi tertinggi kedua setelah Cina. Namun apa yang terjadi? Taiwan justru berhasil menekan angka kasus penularan. 14 April 2020 lalu, Pemerintah Taiwan mengumumkan nol kasus baru. Hingga kini, negara tersebut hanya memiliki 393 kasus positif Corona dan 6 kematian.
Menurut Lina Marlina, aktivitas masyarakat Taiwan selama pandemi Covid-19 terhitung normal, meski pun dilakukan sejumlah aturan pembatasan dan protokol kesehatan. Para mahasiswa bahkan masih tetap mengikuti kuliah seperti biasa, yakni melakukan pertemuan tatap muka di kampus.
Lina merupakan satu dari 31 mahasiswa Aceh yang kuliah di Negeri Formosa tersebut. Saat ini Lina berkuliah di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei. “Proses kuliah masih berjalan seperti biasa, mahasiswa datang ke kelas. Ada juga yang dialihkan ke kuliah online, tapi dengan syarat bila kuota mahasiswa di kelas melebihi 60 orang,” katanya kepada Serambi.
Meski aktivitas perkuliahan mahasiswa tetap berjalan seperti biasa, tetapi setiap mahasiswa yang mengikuti kuliah diwajibkan mengikuti protokol pencegahan Covid-19, mulai dari pemeriksaan suhu tubuh, menggunakan masker, dan menjaga jarak. Mahasiswa juga dilarang berkumpul.
Protokol pencegahan itu juga dilakukan di kantin-kantin kampus. "Kantin di kampus tempat duduknya di sekat agar tidak berdekatan," imbuhnya.
Meski aktivitas masyarakat terbilang normal, namun salah satu kunci keberhasil Taiwan dalam menekan wabah tersebut adalah kepatuhan masyarakatnya dalam menjalankan protokol pencegahan penularan wabah.
“Masyarakat Taiwan sangat patuh terhadap anjuran Pemerintahnya. Umpamanya anjuran penggunaan masker dan jaga jarak, itu sangat dipatuhi oleh warganya,” tutur Lina Marlina.
Bulan Puasa
Selama bulan puasa, para mahasiswa Aceh di Taiwan juga tidak mengalami kesulitan berarti, apalagi negara tersebut masih berada di musim dingin. Hanya saja untuk pelaksanaan ibadah tarawih tidak bisa dilakukan berjamaah karena adanya larangan masyarakat berkumpul.
"Puasa tetap seperti biasa, tapi tarawih kita lakukan di asrama atau tempat tinggal masing-masing," ujar Lina. Puasa di Taiwan lamanya sekitar 14,5 jam, atau berselisih sekitar 1 jam dengan Indonesia.
Demikian juga dengan makanan berbuka. Mahasiswi semester I jurusan Graduate Institute of Electro-Optical Engineering ini mengatakan, di Taiwan tidak sulit mencari makanan Indonesia, sehingga sedikit banyak bisa mengobati kerinduan kepada orang tua dan kampung halamannya. "Ada makanan cateringan Indonesia atau makam di kantin," ungkapnya.
Pertanyakan Bantuan
Lina mewakili mahasiswa Aceh lainnya di Taiwan, juga mempertanyakan program bantuan Pemerintah Aceh kepada mahasiswa di luar negeri. "Ya teman-teman mahasiswa mempertanyakan informasi (rencana bantuan Pemerintah Aceh kepada mahasiswa di luar negeri dalam menghadapi wabah Corona," ujarnya.
Sepengetahuan Lina, jumlah mahasiswa asal Aceh di Taiwan sebanyak 31 orang. Mereka berkomunikasi lewat layanan grup WhatsApp, mempertanyakan rencana Pemerintah Aceh tersebut.
Pemerintah Aceh sebelumnya memang mengumumkan akan menyalurkan bantuan kepada para mahasiswa Aceh yang berada di luar daerah dan luar negeri yang terdampak Covid-19 (Corona). Besaran bantuan yang diberikan mulai dari Rp 1 juta untuk mahasiswa yang berada di luar Aceh (dalam negeri) dan Rp 2,5 juta untuk mahasiswa yang berada di luar negeri.
"Dana bantuan itu akan dikirimkan langsung melalui nomor rekening masing-masing mahasiswa," kata Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Aceh, H T Ahmad Dadek kepada Serambi, Senin (27/4/2020).
Untuk mahasiswa Aceh yang berada di luar negeri, Dadek mengatakan, baru dari Sudah yang mengusulkan permohonan bantuan. Di negeri timur laut benua Afrika ini tercatat ada sebanyak 98 mahasiswa Aceh yang sedang menuntu ilmu. "Sedangkan di luar Aceh (dalam negeri) yang sudah tercatat sebanyak 343 orang," imbuhnya.(dede rosadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/national-taiwan-university-of-science-and-technology.jpg)