Breaking News:

SALAM SERAMBI

Waspadai Bahaya Banjir di Tengah Wabah Covid-19

SUDAH jatuh tertimpa tangga. Itulah tamsilan yang kini tepat disematkan kepada sejumlah kabupaten/kota di Aceh yang sedang kerepotan

SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Anak-anak bermain dalam genangan banjir yang merendam pekarangan rumah di Muara Pea, Desa Ketapang Indah, Singkil Utara, Aceh Singkil, Sabtu (2/5/2020). 

SUDAH jatuh tertimpa tangga. Itulah tamsilan yang kini tepat disematkan kepada sejumlah kabupaten/kota di Aceh yang sedang kerepotan menghadapi wabah virus corona, tiba-tiba harus berhadapan pula dengan bencana banjir, bahkan tanah longsor.

Bencana berganda ini, antara lain, dialami oleh warga Jiem-Jiem dan Abah Lueng, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, seperti diberitakan Harian Serambi Indonesia edisi Minggu (3/5/2020) kemarin. Akibat banjir yang dipicu oleh hujan deras dalam durasi lama, pangkal jembatan (abudment) kerangka baja di Jiem-Jiem Pidie Jaya ambruk pada Jumat (1/5/2020) petang.

Kerangka baja pada jembatan yang ambruk itu panjangnya lebih dari 20 meter, sehingga kendaraan roda empat maupun roda dua tak bisa melintas. Ratusan warga yang berada di Desa Abah Lueng dan Jiem-Jiem terpaksa mencari jalan alternatif, yakni jalur irigasi melalui desa tetangga untuk bisa ke luar masuk dua desa yang bertetangga itu. Tak ingin mobilitas warga terhambat lama, pemkab harus membangun jembatan darurat agar pejalan kaki dan pengendera sepeda motor bisa segera melintas.

Sementara itu, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil juga dilanda banjir sejak Jumat hingga Sabtu (2/5/2020) siang. Di antara desa yang terendam banjir adalah Muara Pea, Sukamakmur, Ujung Bawang, dan Paya Bumbung. Selain banyak rumah warga yang tergenang, banjir juga merendam pekarangan SMA Negeri 1 Singkil Utara.

Banjir juga meluas di Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, pada Sabtu pagi. Jika sehari sebelumnya hanya tiga desa yang terendam, esoknya bertambah menjadi empat desa karena hujan deras kembali mengguyur.

Belasan desa di Aceh Barat juga kebanjiran akibat hujan deras, sehingga Krueng Meureubo meluap dan merendam sejumlah rumah warga.

Sedangkan di Gampong Keude Padang, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan luapan air sungai mengikis tebing sungai sehingga dua rumah di desa itu terpaksa dikosongkan lantaran terancam ambruk ke sungai. Masih di Aceh Selatan, 20 hektare tanaman padi terendam banjir di Gampong Panton Luas, Kecamatan Sawang. Hamparan padi yang terendam banjir itu terancam gagal panen.

Selain banjir, hujan deras di sejumlah wilayah di Aceh juga menyebabkan tanah longsor. Imbasnya, seperti terjadi di Pidie dan Aceh Barat menyebabkan jalan Geumpang-Meulaboh putus pada Jumat malam setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Akibatnya, 50 meter badan jalan tertutupi longsor, berupa pepohonan dan bercampur kerikil. Hingga kemarin tumpukan material longsor di badan jalan itu belum juga dibersihkan.

Sementara itu, buldozer dikerahkan ke Beutong Ateuh, Nagan Raya, Sabtu, untuk membersihkan material yang menutupi badan jalan akibat longsor sehari sebelumnya.

Badan jalan Bebesan-Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah juga sempat beberapa jam putus total akibat tertutup meterial longsor pada Jumat malam. Pemicunya lagi-lagi hujan deras dalam durasi lama.

Nah, cuplikan berita bencana, banjir dan tanah longsor, dari sejumlah kabupaten di Aceh itu cukup membuat hati kita masygul. Terutama bila dikaitkan kondisi kejiwaan rata-rata penduduk Aceh saat ini yang sedang galau dan khawatir menghadapi wabah corona. Apalagi hari demi hari jumlah penderita corona di Aceh terus meningkat, sudah mencapai sebelas orang, meski yang meninggal baru satu orang.

Untuk itu, semua kita yang bermukim di bumi Aceh ini harus meningkatkan kewaspadaan dalam menyikapi bencana banjir dan longsor yang kini mengancam. Apalagi pada minggu-minggu dan bulan depan, ancaman ini bakal semakin nyata, mengingat Aceh mulai memasuki musim penghujan. Anomali cuaca menyebabkan musim penghujan di Aceh datang lebih cepat satu atau dua bulan sebelum bulan Juli. Dampak dari anomali cuaca dan curah hujan yang tinggi inilah yang harus kita waspadai agar semuanya bersikap “sedia payung sebelum hujan” dan “sedia sampan sebelum banjir” melanda.

Di sisi lain, agar beban psikologis masyarakat Aceh yang tengah dirundung musibah beruntun ini bisa berkurang atau menjadi landai-landai saja, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota harus siap siaga dengan bantuan masa panik. Terlebih kepada korban banjir dan korban longsor yang terpaksa mengungsi. Jangan terlalu fokus memberi bantuan kepada warga yang diprediksi rentan tertular corona, tapi mengabaikan para korban bencana alam. Bersikaplah adil, proporsional, dan cepat tanggap.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved