Breaking News:

Update Corona Nasional

Agar Cepat Sembuh, Ini Saran Psikolog kepada Pasien Covid-19

Jangan memikirkan masa lalu, mengapa saya bisa sampai ke Wisma Atlet. Juga jangan memikirkan bagaimana nanti setelah keluar dari sini.

TRIBUNNEWS/CECEP BURDANSYAH
Pasien berjemur dan saling berbincang di roof top RS Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Minggu (3/5/2020). Wisma Atlet Kemayoran telah dialihfungsikan menjadi RS Darurat Covid-19, setelah pandemi Virus Corona mendera Indonesia. TRIBUNNEWS/CECEP BURDANSYAH 

Menjadi instruktur dalam konseling bagi Kapten Didon sudah hal biasa, karena memang sudah jadi pekerjaannya.

Namun saat mendapat tugas di Wisma Atlet, sebagai manusia, terselip perasaan khawatir.

"Saya bertugas di Papua selama 18 bulan, tidak sekhawatir saat mendapat tugas ke sini.

Kan di Wisma Atlet  ini tak jelas, yang kita hadapi mahluk  tidak kelihatan." katanya.

Menurut Didon, alumni Fakultas Psikologi Unisba dan magister di  UI,  para petugas punya masalah yang sama dengan pasien.

Didon bergabung bersama psikolog dari TNI AL, AU, Polri, warga sipil serta relawan.

Psikolog yang bertugas di Wisma Atlet berjumlah 11 orang.

Mereka bertugas dari pukul 08.00 sampai pukul 20.00 secara bergantian.

YARA Aceh Timur Laporkan Oknum Kadis atas Dugaan Mesum ke Penyidik PNS Satpol-PP    

Kehilangan Job Karena Corona, Keluarga Buruh Ini Tinggal di Becak, Bayinya Memprihatinkan

"Tapi sering juga di atas pukul 20.00 kami stanby, karena harus mendampingi pasien secara khusus atau personal," katanya sambil menyebutkan ia baru saja mendatangi pasien secara personal karena perlu didengar keluhannya.

Selain kerap mendengarkan keluhan alias curhat para pasien,  ia juga menangani keluhan tim medis.

Apa yang dirasakan  tenaga medis itu bisa dibilang lebih berat, karena selain nyawanya terancam dan memendam kerinduan pada keluarga, juga sering mendapat complain dari pasien yang kuran sabar.

Tanggapan Pemain Persiraja Rijal Torres & Mukhlis Nakata Jika Liga 1 2020 Dihentikan Akibat Covid-19

VIDEO - Rumah Warga Miskin di Gandapura Bireuen Roboh Diterpa Angin Kencang

"Tenaga medis itu pelaksana, bukan penentu kebijakan.

Misalnya dalam soal peraturan, kan awalnya kalau sekali swab hasilnya negatif, boleh pulang. Lalu berubah, boleh pulang kalau swabnya dua kali negatif.

Nah tenaga medis hanya melaksanakan aturan, bukan yang membuat.

Tapi pasien komplain dan ngeluhnya ke dokter dan perawat," katanya.(cep)  

Editor: Jamaluddin
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved