Kreativitas di Masa Pandemi, Budi Daya Tanaman dengan Teknik Hidroponik
Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Biasanya dikerjakan dalam kamar kaca dengan mengunakan medium air
Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Biasanya dikerjakan dalam kamar kaca dengan mengunakan medium air yang berisi zat hara. Sistem bertani inilah yang tengah digalakkan sejumlah pemuda di Kampung Asir-Asir. Tidak butuh waktu lama, hanya berkisar 20 hingga 30 hari, tanaman sudah siap dipanen. “Awalnya hanya mengisi aktifitas di rumah selama adanya wabah corona. Tapi setelah dihitung-hitung potensinya lumayan juga,” kata seorang petani hidroponik, Alfi Syahrin kepada Serambi Jumat (8/5/2020).
Menurut Alfi Syahrin, bertani tanaman hidroponik tidak membutuhkan tenaga layaknya petani tanaman muda yang menggunakan media tanah. Bahkan, tidak harus membutuhkan lahan yang luas karena bisa dikembangkan di samping rumah. “Kalaupun kita punya profesi lain, tidak akan mengganggu karena sistem kerjanya cukup sederhana,” ujarnya.
Dia sebutkan, sistem bertani hidpronik mulai dilirik oleh kalangan pemuda di Kampung Asir-Asir. Selain cara kerja yang mudah, bisa mengisi waktu selama adanya penerapan pembatasan sosial akibat wabah virus corona. “Di kampung ini, sudah ada sekitar 10 orang pemuda yang mulai mengembangkan sistem tanaman hidroponik ini,” sebut Alfi.
Alfi mencontohkan, berbagai tanaman sayuran seperti bayam, sawi, selada kangkung, serta tomat dan cabai bisa dikembangkan secara hidroponik. “Masih banyak lagi jenis tanaman lain yang bisa dikembangkan secara hidroponik. Tapi untuk saat ini kami masih fokus pada pengembangan tanaman sayur,” contohnya.
Media tanam, kata dia, menggunakan pipa paralon 2,5 inci. Setiap satu batang paralon, bisa memuat hingga belasan lubang tanam. Untuk jenis sawi dan selada, setiap lima lubang tanam, bisa menghasilkan sayur seberat 1 kilogram. “Saya sekarang sudah punya sebanyak 460 lubang tanam, sekali panen bisa mencapai 90 kilogram lebih,” rincinya.
Untuk harga tanaman hidroponik, tentu lebih mahal bila dibandingkan dengan sayuran yang ditanam secara konvesional. Alasannya, tanaman hidroponik tanpa menggunakan zat kimia seperti pestisida. “Perkilonya, kami jual sekitar Rp 20 ribu. Dan bisa panen setiap 20 hingga 30 hari dalam setiap bulan,” imbuh Alfi.
Ketika disinggung terkait dengan pasar, Alfi Syahrin mengaku sejak adanya pandemi Covid-19, permintaan dari memang cafe-cafe menurun. Tetapi justru permintaan dari rumah tangga masih stabil, bahkan bisa dikatakan meningkat. “Kadang-kadang orang malas ke pasar, mereka pesan kami antar langsung ke rumah. Makanya, kalau dari sisi pasar tidak sulit,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan seorang pemuda Kampung Asir-Asir lainnya, Hamzah Usmindra. Dia mengembangkan hidroponik hampir mencapai 3.000 lubang tanam di pekarangan rumah. Usaha tersebut merupakan sampingan karena Hamzah merupakan seorang ASN. “Usaha ini tidak mengganggu tugas utama sebagai ASN. Tapi tetap menghasilkan dari sisi ekonomi,” kata Hamzah.
Menurutnya, dari 3.000 lubang tanam miliknya, tidak sekaligus dipanen, melainkan ada target harian, mingguan, serta bulanan. “Jadi, setiap sekali panen bisa mencapai 120 kg sayuran, seperti sayuran sawi dan selada. Alhamdullillah, di tengah pandemi virus corona dan adanya pembatasan aktifitas, kami tetap bisa menambah pendapatan, walau sedikit-sedikit,” pungkasnya.(my)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/alfi-syahrin-kampung-asir-asir-kecamatan-lut-tawar-kabupaten-aceh-tengah.jpg)