Breaking News:

Salam

Penyidikan Cepat Bisa Obati Hati Yang Terluka    

Wakil rakyat Aceh, anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum dan HAM, H Nazaruddin Dek Gam menyatakan siap mundur dari DPR RI

FOTO/KIRIMAN TASLIM
Warga membantu pemakaman jenazah Muhammad Basri saat dikebumikan di kuburan keluarga Desa Teupin Gajah Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Senin (11/5/2020). 

Wakil rakyat Aceh, anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum dan HAM, H Nazaruddin Dek Gam menyatakan siap mundur dari DPR RI apabila kasus amuk masa terhadap seorang warga Aceh di Tangerang, Banten,  tidak ditangani secara tuntas. "Saya nyatakan saya siap mundur dari parlemen kalau pengusutan kasus ini tidak selesai dan tuntas," ujar Nazaruddin Dek Gam, Senin (11/5/2020).

Selanjutnya ia mengingatkan masyarakat Aceh supy mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian. "Polisi  bekerja profesional. Seluruh pelaku amuk masa itu  harus diadili dan dihukum Jaminannya, kalau tidak selesai dan tuntas, maka saya siap mundur dari DPR," janji Dek Gam.

Anggota DPR‑RI ini mengaku terus memantau dan berkomunikasi dengan Kapolres Tangerang dan juga Kapolda untuk mengawal kasus tersebut sampai selesai. "Jadi masyarakat jangan terprovokasi isu‑isu yang tidak benar. Sekali lagi, mari kita serahkan penanganannya kepada polisi," imbaunya.

Sampai dua hari lalu, polisi sudah menangkap dua tersangka pelaku amuk massa yang mengakibatkan Muhammad Basri meninggal dunia. Jenazah Basri yang dibawa jalan darat selama dua hari dua malam, pada Senin (11/5) dikebumikan di tanah kelahirannya, Gampong Teupin Gajah, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Kedatangan jenazah disambut ratusan warga setempat dalam suasana haru yang tak terbendung. Ibu korban, Nuraini (60), mengurungkan niatnya untuk melihat wajah anaknya terakhir kali. Padahal sebelumnya ia sudah berpesan kepada aparat desa agar membawa masuk jenazah anaknya ke dalam rumah sebelu dikebumikan. Sedangkan istri korban Irawati (37), dan anaknya Muhammad Fadil (8), pingsan dalam waktu hampir bersamaan. Demikian juga kakak korban, langsung tak sadarkan diri begitu  jenazah almarhum dimasukkan ke dalam rumah.

Kematian korban secara tragis itu memang memancing kemarahan banyak orang, terutama keluarga dan kerabat korban. Di media sosial beribu‑ribu orang mengecam tindakan tak terpuji itu. Makanya, Pemerintah Aceh memberi atensi khusus terhadap kasus ini dengan mengirim perwakilan ke lokasi kejadian serta tempat kasus itu sedang diproses pihak kepolisian.

Karena sudah menjadi perhatian banyak pihak, terutama sangat menyedot perhatian publik, maka tragedi meninggalnya Basri akibat dihakimi massa itu harusnya memang tak boleh dilihat lagi sebagai kasus kriminal biasa. Benar seperti dikatakan Dek Gam bahwa kasus ini harus secepatnya diproses secara tuntas guna mengobati banyak hati yang terluka.

Peristiwa‑peristiwa massa menjadi hakim memang fenomena yang sering kita temui di masyarakat. Aparat keamanan sering tidak dapat melakukan upaya pencegahan ketika main hakim sendiri dilakukan masyarakat yang beringas. Alasannya, jika bukan karena kurang personel, juga karena terlambat datang ke tempat kejadian.

Seorang praktisi hukum mengatakan, "Terlepas dari apakah korban tersebut dihakimi massa karena dia melakukan suatu tindak pidana, berdasarkan ketentuan Kitab Undang‑undang Hukum Pidana (KUHP), pelaku main hakim sendiri dapat dituntut secara pidana. Dalam hal ini, mengingat si korban kehilangan nyawa akibat pengeroyokan tersebut, dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP diatur bahwa: Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun."

Namun perlu pula Anda ketahui, bahwa pengusutan kasus penganiayaan yang dilakukan orang banyak (main hakim sendiri) sering menemui kebuntuan, mengingat bahwa pelaku penganiayaan tidak hanya satu atau dua orang. Prinsip hukum pidana yaitu, siapa yang berbuat dia yang bertanggung jawab. Tetapi karena melibatkan orang banyak, sehingga susah sekali menentukan siapa pelaku yang paling bertanggung jawab.

Itulah masalahnya hingga Dek Gam berusaha mendobrak kebiasaan itu dengan mempertaruhkan jabatan dan pengaruhnya sebagai anggota DPR‑RI. Sama seperti H Nazaruddin Dek Gam dan Pemerintah Aceh, masyarakat pun berharap polisi dapat segera menuntaskan proses penyidikan kasus ini. Selain untuk mengobati hati yang terluka, perasaan yang sedang marah, juga supaya kasus‑kasus semacam ini tak terulang lagi di mana pun.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved