Breaking News:

Kelestarian Hutan Mutlak untuk Antisipasi Banjir

ACEH bagai tak henti dirundung banjir. Belum tertangani sempurna dampak banjir bandang di Aceh Besar maupun banjir luapan di Banda Aceh

Serambinews.com
Lumpur dan kayu gelondongan terseret banjir bandang yang menerjang Kampung Cemparam Pakat Jeroh, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, Rabu (13/5/2020). 

ACEH bagai tak henti dirundung banjir. Belum tertangani sempurna dampak banjir bandang di Aceh Besar maupun banjir luapan di Banda Aceh yang terjadi 8-10 Mei 2020 lalu kini giliran Aceh Tengah diterjang banjir bandang.

Musibah banjir bandang melanda Kampung Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (13/5/2020) sekira pukul 15.30 WIB. Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia sejak Kamis hingga Jumat kemarin, lokasi terjadinya banjir tersebut masih dalam kawasan Kota Takengon serta daerah yang padat penduduk sehingga puluhan rumah terimbas dan beberapa di antaranya dilaporkan rusak.

Sebagian warga yang terdampak banjir bandang terpaksa mengungsi seperti yang dialami warga Keutapang, Aceh Besar, akhir pekan lalu. Keberadaan pengungsi di Takengon mengundang Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada untuk datang berkunjung, Kamis (14/5/2020). Para pengungsi dan masyarakat Aceh Tengah diajak Kapolda untuk menjaga hutan.

Ini ajakan yang sangat rasional sekaligus menggugah. Kapolda tampaknya langsung tahu bahwa rentetan kejadian banjir di Aceh Besar, Aceh Singkil, Bireuen dan yang terbaru di Aceh Tengah itu semua ada hubungannya dengan makin gundulnya hutan di hulu daerah terjadinya banjir.

Ini hendaknya menjadi iktibar bagi semua kita sesuai posisi dan kedudukan kita masing-masing. Bagi pemerintah kabupaten dan kota, banjir di bulan Mei ini hendaknya makin menyadarkan penguasa bahwa meskipun di luar musim penghujan yang namanya banjir, bahkan banjir bandang, bisa saja terjadi di wilayahnya. Tentu banyak faktor yang ikut berkontribusi sebagai penyebabnya. Curah hujan yang tinggi dalam durasi panjang pastilah diklaim sebagai penyebab utama. Tapi curah hujan yang tinggi sebetulnya tidak akan memicu banjir jika hutan kita tidak gundul.

Bukan rahasia lagi bahwa laju deforestasi di Aceh sangatlah tinggi. Kurang lebih 32.000 hektare tutupan hutan Aceh musnah setiap tahun. Moratorium logging yang dicanangkan Gubernur Irwandi Yusuf tahun 2008 kini bagaikan tak berbekas. Para perambah hutan leluasa beraksi, bahkan terkadang dideking oleh oknum aparat keamanan tertentu. Ini yang membuat banyak kawasan di Aceh langsung banjir begitu hujan deras mengguyur. Indikasi kuat adanya korelasi antara hutan yang gundul dengan banjir bandang terlihat pada kasus banjir Takengon dan sebelumnya kerap terulang di Aceh Tenggara.

Tiap kali terjadi banjir bandang selalu saja di antara material banjirnya terdapat kayu yang sudah ditebang ikut hanyut terbawa arus ke permukiman warga. Ini menandakan fungsi ekologis dan hidrologis hutan terus dirusak karena pohon-pohonnya ditebangi. Setelah ditebangi, diam-diam diangkut berangsur-angsur ke luar hutan.  Sisanya yang belum sempat diangkut itulah yang biasanya terseret air bah lalu menghantam rumah warga dan jembatan sehingga kerap ambruk.

Kapolda dan jajarannya tentu tahu tentang ini, sehingga masyarakat korban banjir diimbau untuk menjaga hutan. Kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistem adalah kunci utama yang mutlak harus dijaga bersama agar banjir bandang dan banjir luapan tidak terus terulang melanda sejumlah daerah rawan banjir di Aceh.

Untuk itu, kita harapkan ketegasan aparat keamanan, khususnya polisi hutan dan Polri agar benar-benar mengawal keutuhan hutan Aceh dari tangan-tangan jahil para perambah. Kita ingin hukum lingkungan ditegakkan, perambah hutan ditindak, dan reboisasi digalakkan. Hutan Aceh yang telanjur gundul di sana-sini harus ditanami kembali atau paling tidak jangan ditambah lagi kerusakannya.

Untuk semua itu, kita berharap banyak kepada aparat keamanan. Kapolda sudah mengimbau masyarakat agar menjaga hutan. Kita pun menyampaikan seruan yang sama kepada aparat kepolisian agar jangan segan-segan menindak siapa pun yang melakukan penebangan liar atau illegal logging di Aceh.

Selain itu, hendaknya tak seorang pun oknum aparat keamanan di Aceh yang bersekongkol dengan para penjahat lingkungan hidup tersebut. Jangan sampai ada pagar yang makan tanaman. Kalaupun ada, biarlah ia menjadi cerita lama.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved