Breaking News:

SALAM SERAMBI

Mencegah KIA agar Tak Layu Sebelum Berkembang

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan kasus mundurnya PT Trans Continent--perusahaan multimo­da nasional

www.serambitv.com
Setelah lebih sembilan bulan bertahan, akhirnya PT Trans Continent mulai menghitung ulang investasi mereka di Kawasan Industri Aceh (KIA) di Ladong, Aceh Besar. 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan kasus mundurnya PT Trans Continent--perusahaan multimo­da nasional--dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Be­sar, karena merugi sekitar Rp 600 juta setiap bulan di tengah ke­tidakpastian iklim berusaha di kawasan itu.

Konkretnya, PT Trans Continent menarik alat-alat kerjanya dari Ladong setelah dilakukan peletakan batu pertama (groundbrea­king) pada 31 Agustus 2019 lalu oleh Pelaksana Tugas Guber­nur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT.

Alasan CEO Trans Continent mundur dikarenakan KIA Ladong belum layak disebut sebagai kawasan industri, sebab belum me­miliki infrastruktur dasar. Air bersihnya belum ada, listrik belum memadai, kawasannya pun tergenang karena drainasenya tak sempurna. Jalan di dalam kawasan juga belum teraspal, pagar­nya pun baru ada di bagian depan.

Selain itu, sudah lebih sembilan bulan sejak peletakan batu pertama, belum ada kepastian hukum tentang bagaimana skema perjanjian dan tata kelola antara PT PEMA yang mewakili Peme­rintah Aceh dengan PT Trans Continent sebagai investor.

Kasus mundurnya perusahaan milik Ismail Rasyid, putra Aceh itu dinilai Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sebagai prese­den buruk bagi iklim investasi di Aceh.

Sebagaimana disuarakan Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin ke­marin, perusahaan milik jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh itu seharusnya menjadi magnet bagi in­vestor lain untuk menanamkan modalnya di Aceh.

Di sisi lain, mundurnya PT Trans Continent dari Ladong menun­jukkan adanya persoalan dalam tata kelola kawasan industri ter­sebut. Terkait hal itu wajar rasanya jika Ketua DPRA menyaran­kan agar Pemerintah Aceh mengkaji lagi skema pembangunan KIA Ladong tersebut.

Selain itu, pantas pula pihak DPRA prihatin terhadap kondisi tersebut karena akan memperburuk citra dan performa KIA. Dari semula diharapkan mampu menjadi penggaet perusahaan-peru­sahaan luar untuk berinvestasi di Aceh, tapi faktanya jangankan investor dari luar masuk Aceh, investor asal Aceh saja angkat kaki. Padahal, Ismail Rasyid sudah memiliki komitmen kuat un­tuk membangun Aceh melalui investasinya di KIA Ladong.

Jelas saja langkah mundur yang dilakukan PT Trans Continent ini menjadi pukulan telak bagi Pemerintah Aceh yang selama ini getol menggadang-gadang KIA Ladong sebagai lokomotif pertum­buhan ekonomi Aceh melalui dunia industri dengan investasi ber­skala besar.

Tak berlebihan pula rasanya bila Ketua DPRA sampai pada praduga: Pemerintah Aceh hanya pandai beretorika soal investa­si, tanpa ada implementasi konkret di lapangan.

Terhadap klaim ini tentunya masih kita tunggu klarifikasi bah­kan pembelaan diri dari Pemerintah Aceh. Namun, apa pun nada pembelaan diri itu nantinya tidak cukup menyelamatkan keadaan karena satu kesempatan emas sudah terlepas dari Aceh dengan hengkangnya PT Trans Continent dari KIA Ladong.

Kita juga patut bertanya mengapa selamban itu proses peng­adaan air bersih di kawasan industri itu? Terlalu jauhkah Ladong dari jaringan pipa PDAM Tirta Montala? Tak adakah siasat lain untuk mengalirkan air bersih ke Ladong? Kita sungguh heran, ka­rena di tempat lain air laut pun bisa disuling orang menjadi air ta­war atau dengan menggunakan teknik sumur bor dengan keda­laman tertentu.

Drainase yang tak beres sehingga kalau hujan tergenang itu juga persoalan sepele sebetulnya jika Pemerintah Aceh benar-benar ingin menghadirkan KIA Ladong sebagai kawasan industri andalan di Aceh.

Melengkapi pagar sekeliling KIA tersebut juga bukan hal yang sukar. Sama tak sukarnya bagi PLN untuk menambah daya lis­trik di kawasan itu sesuai kebutuhan kawasan industri. Tapi tam­paknya kesungguhan atau keseriusan yang belum ada. Kebu­tuhan dasar yang diperlukan investorbelum mampu kita penuhi. Anehnya, promosi ke luar untuk menggaet calon investor terus digencarkan, tapi yang sudah ada tak dilayani dan diurus dengan baik. Nah, sekarang benahilah segera apa yang kurang itu. Ja­ngan nanti calon investor lain ogah ke KIA Ladong karena masa­lah yang mereka hadapi sama saja dengan yang saat ini dialami PT Trans Continent. Benahi segera KIA Ladong agar ia tidak layu sebelum berkembang dan jangan sampai pengelolanya dicap: nafsu besar, tenaga kurang.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved