Breaking News:

Salam

Banjir, Banjir, Hutan tak Melindungi Kita Lagi  

Bencana banjir semakin meluas di Aceh. Hujan deras yang turun nyaris merata di seluruh Aceh telah membuat banyak sungai meluap

Dokumen Polsek Langkahan   
Rumah di Desa Buket Linteung dan Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara mulai terendam banjir, Minggu (17/5/2020) malam. 

Bencana banjir semakin meluas di Aceh. Hujan deras yang turun nyaris merata di seluruh Aceh telah membuat banyak sungai meluap dan merendam gampong‑gampong di sekitarnya. Bencana banjir tersebut terjadi mulai dari Aceh Timur hingga Nagan Raya. Sedangkan warga Tekengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan dalam kondisi cemas karena wilayah terancam tanah longsor dan banjir bandang dari berbagai arah.

Kondisi warga di beberapa daerah yang terkena bencana sangat memprihatinkan. Mereka harus mematuhi protokol kesehatan terkait virus Corona. Mereka juga harus menjalankan ibadah puasa sambil melakukan berbagai persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah. Di tengah keterbatasan bergerak itu, mereka juga harus menghadapi berbagai bencana alam, mulai banjir, jalan putus, hingga tanah longsor.

Petani dan nelayan yang merupakan mayoritas korban bencana alam itu betul‑betul terpukul. Banyak tanaman padi di sawah yang dipastikan gagal panen. Padahal, itu merupakan harapan penting di tengah larangan beraktivitas di luar rumah. Demikian juga banyak nelayan yang tak bisa melaut karena kondisi di darat sangat mencemaskan.

Harapan mereka kepada pemerintah adalah bantuan! Mulai bantuan pangan, uang, hingga bantuan layanan kesehatan secara gratis tanpa berbelit‑belit oleh berbagai administrasi. "Mau berobat gatal‑gatal akibat banjir saja, kita diminta surat ini itu," kata seorang warga korban banjir.

Keadaan banjir hingga Minggu (17/5) malam dilaporkan, di Aceh Timur ada 11 desa dari lima kecamatan yang terendam banjir, dengan ketinggian air bervariasi mulai 30‑100 Cm. "Karena sungai meluap setelah hujan deras," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Ashadi SE.

Banjir luapan juga terjadi di Kota Lhokseumawe. Dua desa di Kecamatan Muara Satu terendam banjir akibat meluapnya sungai Beureughang (Blang Kolam) di Aceh Utara, pada Sabtu (16/5/2020) sekitar pukul 20.00 WIB. Informasi dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Lhokseumawe, ada sejumlah rumah di Gampong Cot Trieng Dusun B dan Ujong Pancu yang terendam.

Dalam waktu bersamaan, sungai di Gampong Blang Guron, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, juga tiba‑tiba meluap sehingga mengibatkan banjir. Puluhan rumah dan ratusan hektar sawah terendam air dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa.

Banjir juga melanda kawasan pesisir barat Aceh. Di Kabupaten Aceh Jaya dilaporkan ada 12 desa dari dua kecamatan yang tergenang banjir, menyusul hujan deras yang turun dari sore hingga malam kemarin. Empat desa di Kecamatan Setia Bakti dan delapan desa di Kecamatan Darul Hikmah.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, juga mengakibatkan air sungai meluap dan menyebabkan puluhan rumah warga di Desa Seumantok, Kecamatan Pante Ceureumen, terendam banjir. Luapan air sungai itu sempat membuat warga panik dan berusaha menyelamatkan barang‑barang penting agar tidak ikut terendam air. "Ketinggian air di dalam rumah berkisar 10‑50 cm," kata Sekdes Seumantok, Abdul Malik.

Di tengah musim hujan yang belum akan berhenti dalam satu atau dua hari ke depan, kita ingin mengingatkan bahwa bencana itu tidak selalu datang tidak secara tiba‑tiba. Banjir dan tanah longsor adalah musibah yang rutin mendatangi daerah‑daerah tertentu. Musibah itu terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena keseimbangan alam kita terganggu. Itulah yang mengundang bencana‑bencana seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, datang dengan kekuatan merusaknya di luar perkiraan kita.

Kita semua sudah maklum bahwa hutanlah yang mempunyai kemampuan untuk menjinakkan banjir. Hutanlah yang mempunyai batas‑batas mengelola kelebihan air yang turun dari curah hujan yang begitu tinggi pada bulan‑bulan musimnya,  agar  tetap menjadi rahmat sebagaimana Allah telah atur takdirnya untuk itu.

Tapi  manusia mengeksploitasi sumber daya tersebut dengan kerakusan yang semakin menjadi‑jadi. Alih fungsi hutan terjadi di mana‑mana. Deforestasi yang mengancam eksistensi hutan justru menjadi agenda di mana‑mana.  Dan hasilnya kita lihat sendiri: banjir bandang yang sering meluluhlantakkan desa‑desa di Kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Barat, Nagan Raya, Singkil, Subulussalam, dan lain‑lain. Jadi, seruan klasik kita adalah mari selamatkan hutan!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved