Salam

Harus Serius dan Cepat Antisipasi Krisis Pangan

Pemerintah Provinsi Aceh menyiapkan diri secara serius menghadapi ancaman krisis pangan secara global yang diperkirakan terjadi November 2020

SERAMBI/M ANSHAR
NOVA IRIANSYAH Plt Gubernur Aceh 

Pemerintah Provinsi Aceh menyiapkan diri secara serius menghadapi ancaman krisis pangan secara global yang diperkirakan terjadi November 2020 sampai Januari 2021. Kesiagan ini dilakukan guna menyelamatkan 5.388.093 jiwa penduduk daerah ini dari kemungkinan krisis pangan sebagaimana diperingatkan oleh Lembaga Ketahanan Pangan Dunia (Food Agriculture Organization/FAO).

Untuk itu, dua hari lalu Plt Gubenur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, memanggil sejumlah kepala dinas untuk berdiskusi dengan para pemangku kepentingan. Dalam forum yang berlangsung santai itu, Plt Gubernur Aceh mengakui wabah Corona sudah menyebabkan sektor ekonomi terganggu cukup parah, sehingga target pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya diprediksi bisa mencapai 5%, sekarang malah menjadi minus. Begitu juga dengan laju inflasi terlihat mulai bergerak naik, dan tidak tertutup kemungkinan akan bisa mencapai dua digit.

Nova menyadari, pemulihan sektor ekonomi ini hanya bisa dilakukan dengan menyiapkan ketersediaan pangan yang cukup. Alasannya, hanya produk pertanian (agrobisnis) yang paling bisa diandalkan dan berharga, yang nantinya akan membuat masyarakat mampu bertahan. "Karenanya, mulai saat ini saya minta Bapak‑bapak supaya bisa berpikir lebih luas, di luar kebiasaan, di luar RPJM, dan itu harus out off the book," kata Nova.

Salah satu cara untuk bisa keluar dari krisis, menurut Nova, harus bisa dilihat dari dua koridor. Yakni, harus tahu kendala apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis. Selanjutnya, apa saja yang disuplai untuk menjadi kebutuhan menghadapi krisis. "Harus ada inovasi untuk menggerakkan masyarakat agar ikut berpartisipasi."

Menghadapi krisis pangan ini, bagi Aceh memang harus ada langkah antisipasi yang cukup baik, mengingat di sini masih terdapat 750 ribu warga Aceh yang hidupnya masih berada di bawah garis kemiskinan. Dan, program sosial safety net (jaringan pengaman sosial) terhadap 3,5 juta orang yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu diharapkan membantu masyarakat miskin tersebut.

Dalam forum itu Kepala Dinas Petanian dan Perkebunan Aceh, A Hanan, mengatakan untuk tahun 2020 Aceh akan surplus padi sebesar hampir 340.000 ton. Pertanyaan kita apakah dengan bencana banjir, tanah longsor, dan lain‑lain yang selama ini menerjang beribu‑ribu hektar tanaman padi petani, masihkah angka perkiraan surplus itu bisa kita percaya?

Beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo mengingatkan sejumlah daerah di Indonesia sudah mengalami defisit pasokan bahan pangan seperti beras, jagung, cabai, bawang merah, telur ayam, gula pasir dan bawang putih. Untuk itu, ia memerintahkan jajarannya untuk memastikan rantai distribusi bahan pokok ke daerah yang mengalami defisit tak terhambat.

Ya, jadi, krisis pangan yang sudah di depan meata memang harus segera diatasi. Pemerintah Aceh belum terlambat untuk melakukan terobosan‑terobosan di sektor pangan. Kita ingat, di akhir 80‑an hingga awal 90‑an, Gubernur Ibrahim Hasan benar‑benar berhasil membuat Aceh ini sebagai lumbung pangan. Itu dicapainya dengan kerja keras yang tak henti. Filosofinya, "jaroe bak langai mata u pasai".

Bagi Aceh, dengan luas lahan persawahan yang memadai dan sumbardaya petani yang masih cukup tersedia, tentu bukan hal yang sulit untuk mencapai surplus produksi padi atau beras yang bukan sekadar 340 ribu ton, tapi jauh lebih dari itu. 

Pemerintahan Nova memang harus menitikberatkan pembangunan di sektor pertanian. Dan, tak boleh ditunda‑tunda. Sebab, jika lengah, maka bahaya kelaparan bisa jadi melanda daerah ini, dan Indonesia pada umumnya seperti diramalkan lembaga pangan dunia FAO.

Langkah antisipasi lain yang perlu dilakukan pemerintah adalah dengan menghentikan konversi dari lahan pertanian ke perumahan. Petani perlu dibantu pupuk, bibit unggul, serta traktor/bajak sawah gratis. Irigasi juga perlu diperhatikan. Jangan terlalu berketergantungan pada pestisida. Anggaran sektor pertanian harus ditambah.

Ingat, Aceh ini memiliki sumber daya alam dan lahan luas, namun belum termanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat ini. Padahal, kalau semua itu terkelola secara  baik, Aceh mampu mempertahankan ketahanan pangan dan terhindar dari krisis pangan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved