Salam

Kita Diimbau Berlebaran Sambil Mencegah Corona  

Sejak pukul 10.00 Wib, Kamis (21/5/2020), seluruh kendaraan atau angkutan umum dari Sumatera Utara (Sumut) tak boleh masuk ke Aceh

KOMPAS.COM/KARNIA SEPTIA KUSUMANINGRUM
Menjelang hari raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan dan toko pakaian di Kota Mataram ramai dijejali warga yang akan membeli baju lebaran.(KOMPAS.COM/KARNIA SEPTIA KUSUMANINGRUM) 

Sejak pukul 10.00 Wib, Kamis (21/5/2020), seluruh kendaraan atau angkutan umum dari Sumatera Utara (Sumut) tak boleh masuk ke Aceh. Larangan tersebut juga berlaku untuk kendaraan pribadi, kecuali bisa menunjukkan surat bebas Covid‑19 atau Corona. Larangan tersebut sebagai upaya keras dan tegas pemerintah mencegah berkembangnya wabah virus mematikan itu di daerah ini. Sampai kemarin pihak kepolisian tidak menjelaskan kapan larangan sementara ini akan berakhir.

"Mulai tanggal 21 Mei, pukul 10.00 WIB, semua angkutan umum yang akan masuk Aceh akan diputar balik masuk ke Sumut. Penjagaan kita lakukan di Tamiang, Singkil, Subulussalam, dan Aceh Tenggara," kata Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Aceh, Kombes Pol Dicky Sondani’

Kapolda Aceh menerapkan hal itu usai mengikuti rapat secara daring bersama Menkopolhukam, Menko Maritim, dan Kasatgas Penanggulangan Covid‑19, Doni Monardo. Pelarangan itu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona, mengingat Aceh saat ini masih berstatus zona hijau.

Hasil zoom meeting memang memutuskan bahwa kebijakan pemerintah tentang larangan mudik tetap harus dilaksanakan secara konsisten. Sebab mudik dikhawatirkan berpotensi menyebabkan terjadinya serangan Covid‑19 gelombang kedua di Indonesia.

Ledakan arus mudik diperkirakan akan terjadi pada 21‑23 Mei 2020, dan diprediksi bakal banyak warga Indonesia yang bekerja di luar negeri akan kembali ke Tanah Air. Karena itulah, terhitung sejak 21 Mei 2020, Polda Aceh melarang semua angkutan umum masuk ke Aceh.

Terhadap kendaraan pribadi akan diizinkan masuk ke Aceh jika penumpang di dalamnya bisa menunjukkan surat keterangan bebas Covid‑19 dan wajib menjalani pemeriksaan cepat (rapid test). "Apabila tidak ada surat keterangan (bebas Covid‑19), maka kendaraan akan (diminta) putar balik ke wilayah Sumut," tegasnya lagi.

Kebijakan ini diambil mengingat penerapan protokol kesehatan di Aceh masih belum maksimal. Masyarakat masih banyak tidak menggunakan masker saat keluar rumah dan tidak menerapkan physical distancing dalam kehidupan sosial. "Ini sangat berbahaya dalam penyebaran Covid‑19 di Aceh," pungkasnya.

Lantas bagaimana dengan angkutan umum dan kendaraan dari Aceh yang keluar menuju Sumut? Terkait hal ini, Polda Aceh mengimbau pemilik angkutan agar tidak lagi mengoperasionalkan kendaraanya menuju Medan. Meski pihaknya tidak melarang kendaraan dari Aceh ke luar, namun ia memastikan kendaraan yang sudah keluar itu tidak akan bisa lagi memasuki Aceh.

Untuk kendaraan umum lintas kabupaten/kota masih diizinkan beroperasi. Tetapi syaratnya, sopir dan semua penumpang wajib menggunakan masker. Setiap kendaraan yang melintas akan diperiksa di setiap check point. Penumpang dan sopir akan dicek suhu tubuh. Di tiap terminal juga dicek penumpang yang akan berangkat.

Selain itu, masih dalam rangka pencegahan Corona, Plt Gubernur Aceh juga melarang semua pegawai negeri melaksanakan shalat hari raya di masjid-masjid atau tanah lapang. Para ASN juga diminta tidak beranjak dari wilayah tugasnya masing-masing selama hari raya. Bagi yang meninggalkan tempat tugas atau melakukan mudik, maka akan dikenakan sanksi berat.

Perasaan ketidakterimaan terhadap kebijakan itu memang dirasakan banyak orang. Hasrat untuk bersilaturrahmi dengan sanak keluarga di kampung di hari raya Idul Fitri sebagaimana biasanya sangat memberontak ketika dilarang. Begitu juga dengan shalat ied yang biasanya kita laksanakan beramai-ramai di masjid-masjid dan tanah lapang, merupakan hala yang sangat membahagiakan di hari kemenangan itu.

Untuk Ramadhan dan Idul Fitri kali ini, pemerintah dan pemangku kekuasaan lainnya dengan berat hati melarang kebiasaan itu. Semuanya tentu demi mencegah virus Corona mewabah di daerah ini. Oleh karenanya, -- seperti sudah diserukan secara bertubi-tubi dalam hampir tiga bulan terakhir– maka larangan mudik dan larangan berkumpul ramai-ramai untuk kepentingan apapun hendaknya kita hindari. Jikapun harus berkumpul ramai di luar rumah, maka jaga jarak dan jangan lupa mengenakan masker!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved