Opini

Pemenang di Hari Kemenangan  

Rasanya seperti kemarin baru dimulai dan tak ingin cepat mengahirinya. Fenomena ini seakan mirip dengan apa yang dialami Rasulullah Saw

Pemenang di Hari Kemenangan   
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag , Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Oleh M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag , Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Tidak terasa Ramadhan begitu cepat berlalu, dan kini kita mulai menikmatai suasana Lebaran. Rasanya seperti kemarin baru dimulai dan tak ingin cepat mengahirinya. Fenomena ini seakan mirip dengan apa yang dialami Rasulullah Saw, ketika menerima wahyu seusai beliau menyelesaikan haji wada'.

Momen ini juga menjadi asbabun nuzulnya surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya: 'Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.'

Sebagian riwayat menjelaskan bahwa ayat ini merupakan firman yang terakhir diturunkan. Dimana isinya memberitakan bahwa Nabi diseru untuk memberikan kabar gembira karena Islam sudah disempurnakan, dan umat Muslim berhak merayakan kemenangan.

Mengetahui itu sebagai pertanda ayat terakhir, Nabi seolah tak ingin menerimanya, sebuah perasaan gembira namun diiringi rasa kesedihan karena berhentinya sebuah risalah yang mulia.

Ketika para sahabat mendengar kabar kemenagan itu, semuanya berbahagia kecuali Abu Bakar. Abu Bakar lebih memilih berdiam diri di kamarnya hingga menangis tesedu-sedu. Begitu keras tangisannya, hingga membuat sahabat yang lain penasaran; `Mengapa Abu Bakar bersedih di saat mendengar berita gembira?' Singkat cerita, ternyata Abu Bakar menangis karena di balik kebahagiaan itu ia menyadari bahwa ajal Rasulullah Saw sudah dekat.

Sahabat awalnya merasa marah dengan pemikiran Abu Bakar, namun ketika Nabi sendiri mengklaim bahwa apa yang diduga oleh Abu Bakar benar, maka sahabat lainnya juga ikut menangis. Kejadian ini kemudian menjadi sebuah bukti bahwa Abu Bakar adalah sosok yang paling pintar dibanding sahabat yang lainnya.

Begitu juga apa yang dialami menjelang Idul Fitri, sebuah kabar gembira karena Islam akan menyambut hari kemenangan. Namun tidak sedikit pula umat Muslim yang bersedih karena bulan yang begitu agung sudah berlalu.

Meskipun kemenangan yang dimaksud dalam ayat di atas dalam konteks melawan kafir yang memusuhi Islam, namun esensinya tak jauh berbeda; karena pada hari Idul Fitri umat Islam meraih kemenangan dalam konteks memerangi hawa nafsu.

Apalagi ketika menyadari bahwa lamanya hidup tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa menjamin; apakah umur sampai pada Ramadhan tahun depan atau justru duluan berpulang di hadapan-Nya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved