Jurnalisme Warga

Merayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19

GEUDAM-GEUDUM tambo ka dipeh, tanda ka jadeh uroe raya. (Gedam-gedum beduk dipukul, tanda sudah jadi berhari raya)

Merayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19
IST
ZULKIFLI, M.Kom., Akademisi Universitas Almuslim Peusangan, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

OLEH ZULKIFLI, M.Kom., Akademisi Universitas Almuslim Peusangan, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

GEUDAM-GEUDUM  tambo ka dipeh,  tanda ka jadeh uroe raya. (Gedam-gedum beduk dipukul, tanda sudah jadi berhari raya). Namun, untuk tahun ini gaung suara tersebut sedikit redup, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu gema hari raya mulai berdentum semarak sejak persiapan sebelum Ramadhan dimulai.

Semua masyarakat mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik yang berada di kampung maupun di perantauan, begitu bersemangat mempersiapkan berbagai hal agar ‘tambo’ (beduk) Idulfitri bisa bergema ke seluruh kampung.

Orang yang di kampung pun melakukan berbagai persiapan untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, begitu juga yang di perantauan, melakukan persiapan untuk mudik agar bisa merayakan hari raya bersama keluarga besarnya di kampung.

Akan tetapi, situasi perayaan  Idulfitri tahun ini suasananya agak sedikit layu,  karena kondisi daerah yang masih dalam suasana prihatin lantaran mewabahnya virus yang mematikan, yaitu Coronavirus (Covid-19)

Untuk mengantisipasi penyebaran wabah tersebut,  berbagai kebijakan dan aturan dikeluarkan oleh pemerintah, baik di pusat maupun daerah, mulai dari larangan tidak boleh mudik, tidak boleh takbiran keliling, hingga imbauan agar tidak melaksanakan shalat Id di masjid atau lapangan terbuka, bahkan bagi ASN yang melanggar akan dikenai sanksi.

Di Aceh sejak 27 Ramadhan setiap perbatasan sudah dijaga ketat. Masyarakat dari luar daerah yang ingin masuk ke Aceh,  baik naik kendaraan umum maupun pribadi, sesampainya di beberapa pintu masuk Aceh langsung disuruh putar balik atau putar haluan.

Penumpang baru diizinkan masuk wilayah Aceh apabila bisa menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat Aceh dan mencegah penyebaran wabah virus yang belum ada obatnya, menyebar, atau bertransmisi di daerah, khususnya di kampung-kampung.

Apalagi selama ini fakta menunjukkan bahwa setiap warga Aceh yang terinfeksi virus corona, punya riwayat perjalanan atau baru pulang dari luar daerah. Tak terkecuali dari daerah yang tergolong zona merah corona, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Sebagian kalangan masih menganggap bahwa berbagai imbauan dan aturan yang dikeluarkan pemerintah tersebut tak perlu diindahkan atau dianggap angin lalu saja. Hal ini bisa kita lihat saat persiapan menyambut Idulfitri beberapa hari lalu, hampir semua warung kopi, toko perlengkapan kue, toko pakaian, dan berbagai toko yang menjual aneka kebutuhan Lebaran lainnya penuh sesak oleh pengunjung. Puncaknya ya saat hari mak meugang.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved