Breaking News:

Jurnalisme Warga

Merayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19

GEUDAM-GEUDUM tambo ka dipeh, tanda ka jadeh uroe raya. (Gedam-gedum beduk dipukul, tanda sudah jadi berhari raya)

Merayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19
IST
ZULKIFLI, M.Kom., Akademisi Universitas Almuslim Peusangan, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

Sejauh yang saya amati di wilayah Bireuen, para pembeli dan penjual saat bertransaksi kebanyakan mengabaikan ptotokol kesehatan, misalnya tetap jaga jarak, pakai masker saat ke luar rumah, dan sering-sering cuci tangan pakai sabun dan air.

Dari pantauan saya di pasar, seakan tidak ada kejadian apa-apa terkait mewabahnya virus tersebut. Terbukti, berbagai aktivitas transaksi berlangsung normal seperti hari biasa. Malah lebih banyak orang yang tak pakai masker dibandingkan yang pakai masker. Seolah prahara Covid-19 sudah berlalu dan semua imbauan pemerintah tak perlu lagi dipatuhi.

Bagi sebagian mereka, yang penting adalah hari raya harus berlangsung meriah, tak soal berkumpul ramai-ramai, dan saling berkujung sehingga lupa  menjaga dan mengantisipasi keselamatan jiwa dari ancaman virus corona. Padahal, salah satu cara pencegahan penyebaran Covid-19 adalah dengan disiplin menjaga jarak aman, cuci tangan setelah beraktivitas, dan memakai masker saat ke luar rumah.

Tak terbantah memang bahwa Lebaran Idulfitri bagi masyarakat Aceh menjadi rutinitas tahunan  untuk mengungkapkan rasa gembira dan bahagia bersama keluarga, tetangga, serta sahabat, untuk saling maaf-bermaafan. Juga saling mengujungi, bersilaturahmi antara keluarga dengan orang tua, tetangga, guru, sahabat, dan tokoh yang dihormati.

Selain itu, perayaan Idulfitri juga merupakan peluang terjadinya perputaran uang di tingkat desa, karena banyaknya orang yang berkumpul di kampung, apalagi yang pulang dari perantauan. Ini tentunya menyebabkan perputaran uang di desa menjadi tinggi dan dengan sendirinya akan dapat menggeliatkan roda perekonomian masyarakat.

Akan tetapi, tahun ini karena kondisi Covid-19, banyak perantau yang tidak mudik. Tidak banyaknya perantau yang bisa mudik membuat agak berkurang kesemarakan gaung kemeriahan Lebaran di tingkat kampung, sehingga mengakibatkan berkurangnya perputaran uang di  kampung.

Biasanya, setiap perantau tentunya sudah pasti membawa pulang uang yang telah mereka tabung dan persiapkan khusus untuk mudik. Lantaran mewabahnya virus corona, aktivitas mudik juga berkurang, hal itu sudah pasti perputaran ekonomi di kampung ikut sepi. Kalaupun ada, ya persentase jumlahnya agak menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, untuk saat ini bukan hal itu yang paling utama, yang paling penting adalah mencegah dan menyelamatkan masyarakat dari terkaman virus corona, virus  yang telah memorakporandakan berbagai segmen kehidupan masyarakat, termasuk kemeriahan Lebaran Idulfitri.

Bagi masyarakat Aceh kesakralan Idulfitri tak bisa digantikan dengan perayaan hari lain. Idulfitri telah menjadi momentum rutinitas tahunan sebagai tempat untuk mengungkapkan perasaan gembira yang penuh suasana kebahagiaan bersama keluarga, tetangga, dan para sahabat.

Cuma itu tadi, kondisi pandemi corona telah mengurangi kesemarakan perayaan Idulfitri di sebagian besar wilayah Aceh saat ini. Kondisi yang sama juga terjadi di provinsi lain.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved