Breaking News:

Salam

Demo AS; Semburan Api Dalam Sekam  

Aksi demonstrasi yang diwarnai dengan penjarahan di Amerika Serikat (AS) menyusul penganiayaan keji oleh oknum polisi AS

AFP/ROBERTO SCHMIDT
Polisi yang didukung tentara bersenjata lengkap menangkap seorang pengunjuk rasa yang berdemo dekat Gedung Putih, Washington, AS, Senin (1/6/2020). 

Aksi demonstrasi yang diwarnai dengan penjarahan di Amerika Serikat (AS) menyusul penganiayaan keji oleh oknum polisi AS hingga menewaskan seorang pria kulit hitam, George Flyd, terus menggelinding dan membesar. Presiden Donald Trump terpaksa disembunyikan ke bunker bawah tanah. Sedangkan untuk meredam unjuk rasa berbau rasialis itu, AS mengerahkan Pasukan Garda Nasional ke 15 negara bagian dan Washington DC. Sedikitnya 40 kota di AS memberlakukan jam malam sebagai bentuk pencegahan.

Sampai kemarin unjuk rasa yang diwarnai bentrokan dengan aparat masih terjadi di Minneapolis, Boston, dan Washington. Selama beberapa hari terakhir lebih dari ratusan supermarket dan toko dijarah para warga yang tidak bertanggung jawab.

Meluasnya kerusuhan tersebut membuat Presiden AS Donald Trump marah besar. Dia menyebut para demonstran sebagai penjahat dan kelompok anarkis. “Bersikap tegaslah para wali kota dan gubernur dari Demokrat. Panggil pasukan Garda Nasional sekarang,” teriak Trump.

Mayor Jenderal Jon Jensen, kepala Pasukan Garda Nasional Minnesota, mengungkapkan, mereka telah mempersiapkan diri setelah FBI melaporkan adanya ancaman kekerasan. "Kami memberi tahu Gubernur Minnesota Tim Walz tentang ancaman dan FBI telah memberi tahu Garda Nasional. Walz sepakat mempersenjatai pasukan Garda Nasional," kata Jensen.

Seperti diketahui, kematian Floyd setelah diinjak dengan lutut oleh perwira polisi yang menangkapnya pada 25 Mei lalu memicu kembali kemarahan pada perlakuan polisi terhadap orang keturunan Afrika‑Amerika. Sebelumnya, sebuah kantor polisi di Minneapolis dibakar pada malam ketiga aksi protes atas tewasnya seorang pria kulit hitam tidak bersenjata saat ditahan. Para pejabat AS telah memberikan penjelasan yang berlainan terkait siapa yang bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut, dengan beberapa di antaranya menuding kelompok luar dan individu terlibat.

Erupsi kekerasan tetap terjadi, meskipun mantan petugas polisi Derek Chauvin, 44, yang menyebabkan kematian Floyd, sudah ditangkap dan didakwa pembunuhan tingkat tiga. Dia tampil di pengadilan kemarin. Pembunuhan tingkat tiga merupakan tindakan yang menyebabkan kematian seseorang, tetapi orang yang membunuh tidak bermaksud melakukan pembunuhan.

Lantaran aksi tak mereda, Presiden AS Trump berjanji memasukkan kelompok antifasis, Antifa, ke dalam daftar organisasi teroris. Trump menuduh Antifa memulai kerusuhan di tengah protes atas kematian George Floyd.  "Ini (disebabkan) Antifa dan radikal kiri. Jangan menyalahkan orang lain!" seru Trump.

Senada dengan Presiden Trump, sebelumnya Gubernur Minnesota Tim Walz juga mengatakan bahwa pengaruh asing, supremasi kulit putih, dan kartel narkoba berada di belakang kerusuhan yang kini melanda berbagai negara bagian Amerika Serikat.

Banhyak kalangan melihat, kematian George Floyd membuat isu rasial di Amerika Serikat menyeruak kembali. Kasus ini benar‑benar seperti api dalam sekam, yang tiba‑tiba menyala setelah ada hembusan angin. Apa yang dialami George Floyd mengingatkan banyak orang ke awal awal tahun 1900-an. Yakni ketika fenomena umum di AS, orang‑orang kulit hitam dihukum mati tanpa proses pengadilan yang memadai (lynching). Sejarawan dari Universitas Baylor, James SoRelle, menyebut bahwa hukuman mati yang diarahkan ke orang‑orang kulit hitam semata didasarkan pada rasisme.

Tak sekadar menarget orang‑orang kulit hitam, praktik lynching pun terkadang menyasar komunitas Yahudi sampai Latin. “Lynching telah digambarkan sebagai respons yang dapat dibenarkan terhadap serangan (seksual) terhadap perempuan,” kata SoRelle.

Praktik lynching marak dijumpai di kawasan selatan AS. Kota‑kota di kawasan ini masih mempertahankan ketegangan rasial dalam intensitas yang cukup tinggi sehingga memungkinkan terjadinya kekerasan massa dan penggantungan dalam skala masif.

Kita tak berharap apa yang menimpa Floyd adalah lynching. Kita ingin melihatnya sebagai kriminal pembunuhan tingkat 3 seperti yang dituduhkan kepada oknum polisi yang sudah menewaskan pria kulit hitam itu. Saat ini kita ingin ketegangan di AS segera mereda dengan memberi penghargaan kemanusiaan kapada Floyd setinggi-tingginya. Sebab, kasus kematian Floyd sudah memberi pelajaran tambahan bagi AS tentang bagaimana cara hidup berdemokrasi dan menghargai hak-hak azasi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved