Breaking News:

Berita Aceh Tengah

Yusra Habib Abdul Gani Rampungkan Naskah “Legenda dan Falsafah Gayo”  

Cendikiawan Gayo yang banyak menulis sejarah dan politik, Dr. Yusra Habib Abdul Gani, SH, telah menyelesaikan naskah buku berjudul...

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Penulis sejarah, Dr Yusra Habib Abdul Gani SH. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

 SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Cendikiawan Gayo yang banyak menulis  sejarah dan politik, Dr Yusra Habib Abdul Gani SH, telah menyelesaikan naskah buku  berjudul “Legenda dan Falsafah Gayo.” Naskah tersebut sudah dikirimkan ke penerbit di Jakarta dan tinggal menunggu diterbitkan dalam bentuk buku.

“Alhamdulillah, naskah  sudah saya kirimkan ke penerbit. Kita tunggu proses lebih lanjut dari penerbit,” kabar Yusra Habib dalam percakapan melalui WA dengan Serambinews.com.

Buku tersebut memuat legenda yang hidup di Gayo, tapi Yusra Habib menitikberatkan pandangannya terhadap fasalah dalam legenda tersebut. Di antara legenda yang menjadi perhatiannya adalah  “Atu Belah Atu Bertangkup,” legenda yang sangat popular di Gayo, mengisahkan tentang perempuan yang ditelan batu. Legenda lainnya,  Peteri Ijo, perempuan jelita yang menghuni Danau Laut Tawar dan beberapa legenda lain.

“Saya menangkap banyak filosofi dalam legenda-legenda itu,” ujar Yusra Habib yang kini bermukim di Denmark.

Sebelum ini Yusra Habib juga menulis buku “Kerajaan Linge” dan “Marechausee di Gayo Lues” melengkapi buku-buku yang sudah terbit terlebih dahulu yakni: Malapetaka di Bumi Sumatera (1993); Mengapa Sumatera Menggugat (2000),; Status Acheh Dalam NKRI (2008); Self-government (Study Banding Tentang Desain Administrasi Negara)  tahun 2009 dan lain-lain.

Ahmad Yani Tinggalkan Rumah Sewa yang Digranat, Ini Tujuannya

Jangan Panik! Asteroid Pembunuh tidak Hantam Bumi

Di sela-sela itu, ia juga mempublikasikan tulisan terkait keunikan Aceh masa lalu, yang menganut sistem monarki, tapi rajanya atau sultnan Aceh tidak seluruhnya berasal dari darah turun temurun, sebagai galibnya penganut  monarki, seperti berlaku di Inggris, Spanyol, Denmark, Norwegia, Sweden, Malaysia, Arab Saudi, Bahrain, Emirat Arab, Qathar, Brunei Darusalam dan lain-lain.”Tidak di Aceh! Di Aceh lain sekali ceritanya,” kata Yusra Habib. Keunikan monarki ala Aceh ini bisa disimak di laman FaceBook miliknya.

Ia menyebutkan, Sultan Aceh pertama dan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam bernama Meurah Johansyah, dilantik pada 22 April 1205, memerintah (1205-12035), merupakan anak sulung dari Reje Linge 1, adalah orang Gayo, bukan Suku Aceh Pesisir.

“Anehnya, Orang Gayo (khususnya Kerabat keluarga Reje Linge) dalam lipatan sejarah; tidak pernah meng-claim- supaya tampuk kepemiminan Aceh Darussalam tertinggi dikembalikan semula kepada orang Gayo (keturunan kerajaan Linge),” tulisnya.

 “Masa dahulu ternyata, Aceh mengenyampingkan semua pertimbangan hal-hal yang berbau zuriyat (anak keturunan) Sultan langsung untuk diangkat menjadi Sultan Aceh. Di Aceh, siapapun boleh menjadi Sultan, asalkan syarat untuk itu dipenuhi. Syaratnya begitu ketat -baik bentuk fisikal dan psykhis- calon Sultan mesti memenuhi syarat yang ditentukan,” kata Yusra Habib.

 Ia mencontohkan, ketika pemilihan dua calon Sultan Aceh –Mahmudsyah dan Zainal Abidin– pada tahun 1870. Majelis Kerabat Sultan Aceh terpaksa membatalkan Zainal Abidin menjadi calon Sultan Aceh saat itu, hanya lantaran di sebelah bagian atas alis mata kiri beliau terdapat bekas luka cacat. Akhirnya pilihan jatuh kepada Sultan Mahmudsyah, memerintah (1870 – 1874).

Keunikan-keunikan itu ia paparkan cukup detil, dan kelak semua ini akan diterbitkan pula dalam bentuk buku tersendiri.

Lahir di Kenawat, Aceh Tengah 12 April 1954. Sejak 1998 bermukim di Denmark. Saat ini menjabat Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark. Pernah menjabat Duta Besar Negara Aceh Merdeka untuk Malaysia, 1997 – 27 April 1998, aktivis Aceh Merdeka di Malaysia dan Scandinavia 1991 – 15 Agustus 2005.

Menamatkan studi bidang hukum di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan lulus ujian negara di Fakuktas Hukum UI pada 1984. Pernah menjadi dosen dan nara sumber di berbagai diskusi.(*)

Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Aceh Selatan Fokus Rapid Test ASN di Tiga SKPK, Ini Alasannya

Hancur Dihantam Air Bah, Irigasi Skunder di Tangkueng Sakti Pidie Mulai Diperbaiki

Meski Masuk Zona Merah, Lhokseumawe Sudah Masuki 15 Hari Nol ODP dan PDP

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved