Breaking News:

Salam

Menjaga Pintu Supaya Virus Corona tak Lagi Masuk Aceh

Pasangan suami istri warga Lhokseumawe yang baru saja pulang dari Medan, Sumatera Utara, positif terinfeksi Covid-19

Foto kiriman warga
Petugas dari BPBD Lhokseumawe dan didampingi dua Personel TNI Babinsa Pos Ramil Muara Dua, melakukan penyemprotan disinfektan di areal rumah pasutri warga sebuah desa di Lhokseumawe, Kamis (11/6/2020). 

Pasangan suami istri warga Lhokseumawe yang baru saja pulang dari Medan, Sumatera Utara, positif terinfeksi Covid-19. Segera setelah dinyatakan positif Covid‑19, tambah Hanif, keduanya langsung diisolasi dan dirawat di Rumah Sakit Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, kawasan Buket Rata, Kota Lhokseumawe.

 Dengan demikian, sudah 22 warga Aceh yang positif Corona sejak Maret lalu. Dari jumlah itu, satu orang meninggal dunia, tiga orang masih sedang dirawat, dan selebihnya sembuh. “Pasangan suami dan istri dinyatakan positif terinfeksi Covid‑19 berdasarkan hasil lab PCR (polymerase chain reaction)," kata Kadis Kesehatan Aceh, dr Hanif.

Tes swab terhadap pasutri ini dilakukan di Laboratorium Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Menurut Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, perguruan tinggi yang dipimpinnya tidak berwenang mengumumkan hasil swab tersebut, sehingga hasilnya diserahkan kepada Dinas Kesehatan Aceh.

Suami istri yang terinfeksi virus Corona itu baru saja pulang dari ibukota Provinsi Sumatera Utara, Medan. "Info awalnya mereka pulang dari Medan. Tapi, sekarang masih akan di‑assesment lagi, ke mana saja mereka sebelumnya," kata Hanif.

Pasutri dimaksud, saat dinyatakan positif Covid-19  tidak berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) maupun orang dalam pemantauan (ODP). Cuma, karena baru pulang dari luar Aceh mereka punya kesadaran sendiri melakukan swab mandiri.

Dari Lhokseumawe, pasutri ini berangkat ke Banda Aceh dan spesimen lendir tenggorokan maupun lendir hidungnya diambil di sebuah kilinik. Pihak klinik di Banda Aceh itu, lalu  mengirim spesimen itu ke Laboratorium Penyakit Infeksi di Fakultas Kedokteran Unsyiah yang pada Rabu (10/6/2020) menyatakan pasutri ini positif Covid‑19.

Masyarakat tidak perlu cemas, keduanya sudah diisolasi dan mulai dirawat. Anggota keluarga dan orang-orang yang pernah kontak dengan mereka juga sudah dikarantina untuk diswab.

Hanif mengapresiasi pasutri ini karena punya kesadaran yang tinggi untuk melakukan pemeriksaan swab mandiri sepulang dari luar Aceh. Langkah seperti ini sangat dianjurkan kepada siapa pun yang pulang dari luar daerah, terlebih jika daerah yang baru dikunjunginya itu tergolong zona merah Covid‑19, seperti halnya Sumatera Utara, DKI Jakarta, dan Surabaya (Jawa Timur).

Catatan penting bagi kita sebetulnya adalah jangan bepergian ke luar kota jika memang tidak terlalu terpaksa. Sebab, yang namanya ke luar kota bagi orang Aceh umumnya ke Medan, Jakarta, Kuala Lumpur dan Penang (Malaysia). Semua kota-kota yang menjadi tujuan atau transit bagi warga dari Aceh itu jauh-jauh hari sudah dinyatakan sebagai episentrum Corona.

Kemudian di tengah tingginya kesadaran kita bahwa Covid 19 adalah penyakit yang sangat cepat menyebar, tentu kita tak boleh lagi lengah dan menyepelekan protokol kesehatan. Sebab, kita sudah lihat virus ini dapat menginfeksi dengan rentang yang amat lebar, dari yang tidak bergejala sampai berat dan meninggal dunia.

Memang, sejauh ini, koordinasi penanganan virus corona cukup membesarkan hati. Namun, karena belum jelas kapan kasus tersebut akan mereda, maka kewaspadaan perlu dijaga dengan fokus yang tidak kendur. Pemerintah daerah juga ingin kita ingatkan untuk tetap menjaga pintu keluar masuk Aceh agar jangan sampai terjadi “kebocoran”. Ada banyak pintu masuk Aceh yang harus terus dijaga secara ketat, mulai laut, darat, dan udara.

Ini penting karena dalam masa kenormalan baru, tidak boleh ada kelengahan dan kelalaian sedikit pun. Kita sedang berperang melawan virus yang telah membunuh sekitar setengah juta orang di dunia serta mematikan sebagian besar aktivitas ekonomi global. Lengah berarti bencana, lalai ibarat langkah pertama menuju kekalahan. Dalam konteks ini, pemerintah pusat hingga daerah memegang kuasa penting. Merekalah yang pegang kunci syarat dan tahapan, sudah layak atau belumkah setiap daerah menerapkan new normal atau memerah kuningkan status sebuah kawasan terkait Covid-19. Tentu, menggunakan kekuasaan itu tidak boleh sembarangan, sebab taruhannya besar, risikonya tinggi!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved