Breaking News:

Salam

Jangan Kira Mudah Bersikap Humanis

KAPOLDA Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada mengatakan bahwa salah satu tugas polisi adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat

SERAMBI/M ANSHAR
Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada didampingi Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar (kiri) dan Pemimpin Redaksi, Zainal Arifin berbincang saat kunjungan silaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia, Meunasah Manyang PA, Lambaro, Aceh Besar, Kamis (11/6/2020). 

KAPOLDA Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada mengatakan bahwa salah satu tugas polisi adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Dalam hal ini Polda Aceh akan mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat. Hal itu dinyatakan Kapolda Wahyu Widada saat melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia, Kamis (11/6/2020) pagi.

Kapolda datang bersama Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Ery Apriyono dan Kabid Propam, Kombes Pol H Iskandar ZA, SIK. Sebagaimana diberitakan Harian Serambi kemarin, ini kunjungan perdana Irjen Wahyu Widada ke Newsroom Serambi Indonesia sejak dilantik menjadi Kapolda Aceh pada 11 Februari lalu. Kapolda menginginkan, dalam menjalankan tugasnya semua polisi di Aceh hendaknya melakukan pendekatan yang humanis sehingga citra polisi bisa baik.

Sikap humanis itu, dicontohkan Kapolda bisa dilakukan saat menertibkan pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm.

Wahyu menyarankan agar anggotanya melakukan teguran dengan pendekatan humanis dan tidak selalu dengan tindakan. Dengan memberikan sentuhan hati, Kapolda yakin bahwa setiap orang bisa sadar akan kesalahannya.

Apa yang disampaikan secara khusus oleh Kapolda Wahyu Widada saat bersilaturahmi ke Harian Serambi Indonesia itu sungguh patut diacungi jempol. Pernyataan itu akan dicatat dan diingat publik di Aceh sebagai pernyataan menyejukkan dari seorang inspektur jenderal yang menjadi orang pertama di jajaran Kepolisian Aceh.

Bukan saja kita dukung, seruan dan komitmen seperti ini tentunya akan menyiratkan harapan baru bagi masyarakat terhadap bakal adanya perubahan sikap dan performa ideal personel polisi yang bertugas di Aceh. Sikap yang dimaksud adalah sikap yang lebih humanis, sikap yang memanusiakan manusia. Pernyataan ini tentunya akan menjadi patron atau tolok ukur bagaimana semestinya para polisi di Aceh bersikap dan berinteraksi dengan masyarakat, paling tidak sesama Irjen Wahyu Widada menjabat Kapolda Aceh.

Dengan kata lain, tidak boleh ada (lagi) personel polisi di Aceh yang bertindak kasar, pemberang, dan laku lajak (overacting), apalagi sampai ringan tangan terhadap warga sekalipun ia berstatus tersangka kasus pidana.

Dalam imajinasi masyarakat Aceh setelah pernyataan Kapolda kemarin bakal segera hadir figur-figur pelindung dan pengayom  asyarakat yang mengedepankan pendekatan humanis dalam tindak tanduknya.

Dalam bahasa sederhana, Kapolda Wahyu Widada sebetulnya sedang mendambakan kehadiran sosok polisi di Aceh yang diharapkan menjadi penegak hukum yang humanis, luhur budinya, elok perangainya dan lemah lembut tutur katanya. Polisi yang mencintai dan dicintai masyarakat.

Secara terminologi, polisi yang humanis adalah polisi yang berperikemanusiaan. Polisi yang tidak melukai nurani kemanusiaan melalui perkataan, gertakan, apalagi tindakannya. Juga tidak melanggar etika dan hukum. Polisi humanis adalah polisi yang mendambakan dan berupaya sekuat tenaga memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik berdasarkan asas perikemanusiaan. Polisi humanis itu adalah pengabdi kepentingan terhadap sesama umat manusia. Mereka yang humanis dimaknai juga sebagai penganut humanisme.

Sedangkan humanisme adalah aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. Humanisme juga dikenal sebagai paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting. Ia meletakkan kepentingan hakiki manusia sebagai ‘khalifah fil ardhi’ di atas segalanya. Nah, kurang lebih figur polisi yang seperti inilah yang diinginkan Kapolda Wahyu Widada hadir di Aceh.

Menjadi humanis mungkin tidak mudah bagi sebagian polisi. Terlebih bagi oknum polisi yang selama ini sudahterbiasa kasar dan menganggap pangkat, jabatan, dan senjata adalah atribut yang membuatnya layak bersikap arogan dan wajib dihormati. Menjadi polisi humanis berarti harus siap bersikap tawaduk (rendah hati), tidak gila hormat, bertenggang rasa, jadi pengayom dan sahabat bagi semua. Juga menjadi sosok yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Menjadi sosok ideal seperti ini di era hedonisme dan globalisasi ini sungguh tidaklah mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Kita yakin, para polisi di Aceh, di bawah bimbingan Kapolda Wahyu Widada akan mampu menjawab tantangan ini: menjadi polisi humanis di negeri syariat. Polisi yang menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi seisi dunia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved