Breaking News:

Salam

Perketat Perbatasan, Itu Tindakan Tepat  

Sejak awal pekan ini polisi kembali memperketat pengawasan wilayah perbatasan Aceh‑Sumatera Utara menyusul bertambahnya tujuh kasus baru Covid‑19

SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
Bupati Aceh Tamiang Mursil meninjau Posko Perbatasan Aceh Tamiang, Rabu (17/6/2020) malam. Pemeriksaan di posko ini butuh dukungan personel tambahan dari provinsi dan penambahan alat rapid test. 

Sejak awal pekan ini polisi kembali memperketat pengawasan wilayah perbatasan Aceh‑Sumatera Utara menyusul bertambahnya tujuh kasus baru Covid‑19 di Aceh. Kasus tersebut berawal dari pasangan suami istri yang baru kembali dari Medan, yang kemudian menularkannya kepada lima anggota keluarga lainnya (transmisi lokal).

Menurut Dirlantas Polda Aceh, Kombes Pol Dicky Sondani, pengetatan wilayah perbatasan ini dilakukan di semua pintu masuk, mulai dari wilayah Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Subulussalam. Setiap warga yang masuk akan didata, baik itu warga Aceh maupun luar Aceh. Pendataan dilakukan pada semua kendaraan yang masuk ke Aceh, baik angkutan umum maupun angkutan pribadi. Polisi akan meminta seluruh penumpang mengisi data‑data yang diperlukan dan melakukan pemeriksaan rapid test secara acak (random). Data yang perlu diisi meliputi nama, nomor handphone, dan riwayat perjalanan yang meliputi daerah asal dan daerah tujuan.

"Jadi kami minta, nanti para penumpang bus atau mobil pribadi tidak merasa dipersulit jika disuruh isi data‑data. Ini untuk keselamatan rakyat Aceh, untuk menjaga kita semua dari virus ini," ujar Kombes Dicky.

Tidak hanya itu, polisi juga akan mengawasi warga yang masuk ke Aceh hingga sampai ke daerah tujuannya, termasuk untuk memastikan warga tersebut mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid‑19.

Pengetatan perbatasan ini sebelumnya juga disarankan oleh DPRA mengingat belakangan ini pengawasan di perbatasan mulai longgar karena ada anggapan bahwa Covid‑19 di Aceh sudah berkurang. "Ini di luar dugaan dan harapan kita. Kemarin Aceh dalam posisi yang sangat baik, tapi hari ini di salah satu daerah di Aceh mendapatkan label transmisi lokal. Kami berharap pemerintah bisa meminta bantuan kepolisian untuk memperketat perbatasan," kata Wakil Ketua DPRA, Hendra Budian.

Hal yang sama juga disampaikan Wakil Ketua DPRA, Safaruddin. Ia berharap Pemerintah Aceh kembali memperketat penjagaan di perbatasan, serta memperhatikan beban yang dialami pemerintah kabupaten di perbatasan. "Masyarakat menganggap kasus ini sudah selesai. Tapi akhirnya sudah mulai terjadi karena kita memberikan ruang," katanya.

Sedangkan anggota DPRA dari Fraksi PKS, Dokter Purnama Setia Budi SpOG menilai pembagian zona rawan Covid‑19 (merah, kuning, hijau) justru membuat masyarakat terlena dan menganggap Covid‑19 tidak berbahaya. Padahal Aceh belum aman dan ini terbukti dari kejadian di Lhokseumawe. Wakil rakyat ini juga secara tegas meminta aparat memperketat penjagaan di perbatasan.

Masyarakat juga harus paham bahwa penjagaan perbatasan itu bukan hanya akan dilakukan sekarang, tapi pada saat penerapan new normal, penjagaan di perbatasan juga akan sangat ketat oleh aparat gabungan. Apalagi, mobilitas warga Aceh, untuk sementara ini langsung berhubungan dengan episentrum penyebaran Corona, yakni Medan, Jakarta, dan Malaysia.

Bukan hanya di perbatasan, jika masyarakat dinilai kurang mematuhi protokol kesehatan saat berada di luar rumah, maka prajurut TNI dan Polri juga akan berjaga-jaga di pusat-pusat keramaian seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional, jalan raya, kafe, dan sentra-sentra kuliner lainnya.

 Nantinya, anggota Polri dan TNI yang ditempatkan di tempat keramaian akan mengawasi sekaligus mengingatkan masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak fisik saat beraktivitas di luar. TNI dan Polri melakukan pendampingan di masa transisi hingga masyarakat benar-benar terbiasa hidup dengan protokol normal baru.

Ya, kita berharap penglibatan aparat dalam mengawasi penerapan protokol kesehatan serta pengawasan mobilitas warga antarwilayah, bisa mempercepat Aceh menjadi wilayah hijau seluruhnya. Karena itulah, kita jangan terpaksa mematuhi protokol kesehatan tapi harus atas kesadaran bahwa kita hidup dalam masa normal baru memang harus begitu!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved