Breaking News:

Bank Aceh Diminta Kembali Salurkan KUR

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Selasa (23/6/2020), melakukan pertemuan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh

FOTO HUMAS DPRA
Ketua Komisi III DPRA, Khairil Syahrial memimpin pertemuan dengan OJK Aceh di ruang Banmus DPRA, Selasa (23/6/2020). 

BANDA ACEH - Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Selasa (23/6/2020), melakukan pertemuan dengan Otoritas Jasa Keuangan  (OJK) Aceh, di ruang Banmus DPRA. Pertemuan yang dipimpin Ketua Komisi III, Khairil Syahrial itu dihadiri Kepala OJK Aceh, Aulia Fadly.

Salah satu pembahasan yang dibahas mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendukung pengembangan Usaha mikro kecil menengah atau (UMKM) di Aceh. Komisi III berharap Bank Aceh Syariah (BAS), selaku perbankan daerah bisa mengeluarkan KUR untuk UMKM.

"Kita tadi lebih fokus mempertanyakan kenapa KUR tidak diberikan oleh Bank Aceh kepada UMKM. Padahal KUR itu merupakan aplikasi atau kontribusi nyata perbankan terhadap masyarakat," kata Khairil didampingi anggota komisi.

Hadir dalam pertemuan itu yaitu Zainal Abidin (wakil ketua komisi), Hendri Yono (sekretaris komisi), serta anggota, Khalili, Tantawi, Marhaban Makam, Martini, Mukhtar Daud, Wahyu Wahab Usman, Asrizal H Asnawi, dan T Sama Indra.

Khairil mendorong Bank Indonesia (BI) membantu Bank Aceh Syariah agar bisa kembali memberikan pembiayaan atau pinjaman bagi pelaku usaha. Begitu juga dengan OJK Aceh agar memberikan predikat baik kepada Bank Aceh Syariah.

Khairil menegaskan pihaknya saat ini sedang berupaya agar kehadiran Bank Aceh Syariah bisa dirasakan manfaatnya bagi daerah. "Jadi kita ada isu bahwa kami (Komisi III) mengobok-obok Bank Aceh (Syariah) itu salah besar. Itu argumen yang tidak mendasar," ujar politisi Partai Gerindra itu.

Sementara Kepala OJK Aceh, Aulia Fadly dalam pertemuan itu menjelaskan bahwa saat ini Bank Aceh Syariah tidak bisa memberikan pinjaman kredit kepada UMKM. Penyebab utamanya karena bank tersebut sedang menanggung beban kerdit macet dari pelaku usaha.

"Bank Aceh dulu pernah menjadi penyalur KUR di bawah tahun 2015. Dan pada tahun 2015 dihentikan program KUR karena banyak kredit macet. Dari total kredit yang mereka salurkan, 70-80 persen tidak lancar atau macet, sementara kita tolerasinya 5 persen" ungkap Aulia.

Aulia menyampaikan untuk menjadi penyalur KUR, perbankan garus mengajukan sejumlah persyaratan. Sebenarnya, kata dia, Bank Aceh Syariah sudah mengajukan persyaratan untuk menjadi penyalur KUR, tapi terkendala pada satu syarat lagi.

"Bank Aceh sudah mengajukan semua syarat. Semua persyaratan sudah diminta kecuali tingkat stor kredit macet di UMKM yang masih sangat tinggi. Sementara syarat bagi bank penyalur KUR, minimal 5 persen kredit macetnya. Makanya Bank Aceh belum bisa menjadi penyalur KUR," ujar dia.

Padahal, lanjutnya, tahun ini bunga KUR sudah diturunkan satu digit menjadi enam persen dibanding sebelumnya tujuh persen. Bank Aceh Syariah, menurut Aulia, terkendala pada masih tingginya kredit macet dari pelaku usaha.(mas) 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved