Wawancara Eksklusif

Tinggal di Rumah Kunci Sukses Redam Covid-19

ANIES Baswedan sudah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua tahun delapan bulan atau sejak 16 Oktober 2017

IST
ANIES BASWEDAN, Gubernur DKI Jakarta 

ANIES Baswedan sudah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua tahun delapan bulan atau sejak 16 Oktober 2017. Secara bertahap, janji kampanyenya mulai ditunaikan. Salah satu konsep yang sering digaungkan adalah open government (pemerintahan terbuka), yang berpijak pada tiga poin yakni transparansi, partisipasi dan kolaborasi. Ia mengklaim sudah menerapkan hal tersebut dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Berikut wawancara eksklusif (bagian 2-Habis) redaksi Warta Kota dengan Anies Baswedan.

Apakah konsep open government sudah mulai berjalan di masyarakat?

Konsep itu sudah berjalan. Sebagai contoh, kami membangun jaringan transportasi. Bukan pemprov yang membangun jaringan bus kecil, tapi yang dibangun adalah JakLingko untuk berkolaborasi. Dari situ, jumlah armadanya melonjak tinggi karena kami bermitra dengan Transjakarta. Contoh lain, adalah papan informasi transportasi untuk memudahkan masyarakat dan wisatawan mancanegara dan domestik ada di sejumlah halte. Itu tidak dibuat oleh DKI, tapi  oleh Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ), hasil kolaborasi.

Bagaimana penerapan open government saat pandemi Covid-19 saat ini?

Ketika masa pandemi, bisa saja kami bikin laboratorium sebesar-besarnya, tapi nggak begitu. Justru yang kami kerjakan adalah mengonsolidasikan 41 laboratorium. Jadi, kami bukan membeli PCR sebanyak-banyaknya, tapi yang sudah ada kita kerjakan dalam sebuah kolaborasi. Rumah sakit juga kami undang. Sampai sekarang ada 67 rumah sakit yang masuk dalam jaringan untuk menangani Covid-19. Jadi, semangat open government kita wujudkan di sini, begitu juga sampai pada kegiatan sosial.

Bagaimana dengan open government saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi?

Kami mengundang beberapa ahli profesi, seperti dokter ahli penyakit paru, dokter olahraga, organisasi atlet, dan sebagainya untuk merumuskan bersama. Misalnya bagaimana cara memakai masker saat berolahraga, dan (tata cara) itu dilakukan secara kolaborasi.

Sejauhmana efektivitas kolaborasi masyarakat dan Pemprov DKI saat menanggulangi Covid-19?

Pahlawan dari pengendalian Covid-19 adalah rakyat Jakarta. Ketika Pemprov DKI memutuskan untuk berada di rumah, lalu orang di Jakarta itu tetap berada di rumah. Saya rasa warga Jakarta boleh bangga, bahwa ketika kami memutuskan untuk melakukan pembatasan, lalu disusun kebijakan (PSBB) dan masyarakat memilih untuk menaati. Begitu dikatakan di rumah, sekitar 60 persen warga Jakarta berada di rumah. Ini dahsyat, karena 60 persen dari 11 juta warga Jakarta mau berada di rumah.

Ketaatan dan persatuan itu tinggi sekali. Bayangkan saat kami mengundang tokoh agama untuk meniadakan kegiatan, mereka menyepakatinya demi mencegah penularan Covid-19. Berbeda saat kami meniadakan kegiatan sekolah dan perkantoran, hanya melalui surat keputusan saja. Karenanya, Jakarta sebagai kota kemenangan itu betul. Bahwa kerja kolektif untuk menang menghadapi pandemi Covid-19.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved