Breaking News:

Salam

Jika Terpaksa PSBB, Jangan Setengah Hati

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh menyatakan sangat khawatir atas perkembangan kasus-kasus infeksi Covid-19 yang sangat meningkat

SERAMBINEWS/NASIR NURDIN
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh menyatakan sangat khawatir atas perkembangan kasus-kasus infeksi Covid-19 yang sangat meningkat hingga kemarin. IDI menilai, transmisi lokal yang berkembang cepat juga menandakan tidak disiplinnya masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan berupa jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan. Yang mengkhawatirkan lagi, menurut IDI, munculnya isu new normal membuat sebagian besar masyarakat Aceh menganggap kondisi sudah normal. “IDI sangat khawatir melihat situasi yang terjadi akhir‑akhir ini, terlebih lagi tim medis pun mulai tertular,” kata Ketua IDI Aceh, Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT.

Dalam pandangan IDI, bila hingga 1‑2 minggu ke depan peningkatan kasus masih terus terjadi, maka Pemerintah Aceh mulai harus memikirkan upaya sistemik untuk mengendalikan penyebaran Covid‑19.

Kasus infeksi Covid‑19 (Corona) di Aceh dalam 10 hari terakhir memang meningkat cepat dan sudah sampai pada tahap transmisi lokal. Jika tiga bulan sebelumnya Aceh hanya memiliki 20 kasus, dalam dua minggu terakhir menjadi hampir 60 atau bertambah hampir 40 kasus.

Oleh karena itu, IDI wilayah Aceh menilai sudah saatnya Pemerintah Aceh mengkaji opsi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Banyak kasus impor yang kemudian menjadi sumber transmisi lokal, dalam pandangan IDI, mengindikasikan bahwa perbatasan wilayah Aceh memang harus mendapat penjagaan ketat. “Perbatasan kita belum terjaga secara baik dalam upaya mengurangi resiko orang masuk dan membawa virus Corona. Langkah konkret berupa pengetesan Covid‑19 terhadap mereka yang ingin melintasi perbatasan perlu dilakukan,” kata IDI.

Saran organisasi kedokteran itu mendapat sambutan positif dari kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). “Saya pribadi setuju jika PSBB diterapkan di sini sebagai upaca pencegahan wabah Corona,” kata anggota DPRA, Teuku Raja Keumangan.

Wakil rakyat ini mengingatkan pemerintah bahwa penerapan PSBB itu harus mendapatkan persetujuan seluruh pihak, sehingga ketika kebijakan itu diberlakukan, semua pihak bisa saling membantu terkait konsekuensi atas kebijakan itu. "Kebijakan itu banyak konsekuensinya, maka dibutuhkan dukungan semua pihak,” katanya.

PSBB yang dapat dimaknai sebagai lockdown parsial merupakan salah satu intervensi yang dilakukan pemerintah setelah sebelumnya mengimbau masyarakat untuk menjaga jarak (physical distancing). Kebijakan ini membatasi mobilitas masyarakat, salah satunya dengan menutup sekolah‑sekolah, kantor‑kantor, dan pusat perbelanjaan guna memutus rantai penyebaran virus Corona.

Risiko yang harus ditanggung pemerintah tentu ketersediaan anggaran yang tidak sedikit. Dan, dana itu harus dicari di mana? Tapi, pakar-pakar epidemi di Indonesia mengingatkan bahwa PSBB yang dilaksanakan secara maksimal oleh pemerintah dan masyarakat cukup efektif untuk menekan penyebaran Covid‑19.

Sebagai contoh, ketika penerapan PSBB di DKI Jakarta berhasil memaksa 60 persen masyarakat berada di rumah selama dua pekan, angka jangkitan Covid-19 di DKI langsung turun cepat. Apalagi, jika pemerintah berhasil mengajak lebih 70 persen masyarakat beraktivitas di rumah dalam dua pekan, pasti penyebaran virus itu bisa menurun tajam dan akan gampang dikendalikan.

Lalu, pengalaman lainnya juga terlihat pada sejumlah kabupaten/kota di Pulau Jawa yang tidak disiplin menerapkan PSBB, hasilnya tidak menggembirakan. Penurunan angka jangkitan Covid-19 tidak signifikan. Ini karena hanya sebagian warga yang mampu mengekang diri di rumah, sedangkan sebagian lainnya malah tak peduli pada aturan PSBB.

Justru itulah, jika kemudian Pemerintah Aceh dalam pertimbangannya memutuskan menerapkan PSBB di seluruh atau sebagian Aceh, maka implementasinya harus sangat ketat. Aparat harus tegas dan masyarakat punya kesadaran tinggi untuk berdisiplin. Jangan sampai PSBB itu berjalan setengah hati dan hasilnya bisa sia-sia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved