Cekgu Zaki ‘Pergi’ Sebelum Sempat Bertemu Ibunya

Dahniar, warga Krueng Mane Aceh Utara, tak bisa menyembunyikan kesedihan mendengar putranya, Muhammad Zaki, meninggal dunia

Cekgu Zaki ‘Pergi’ Sebelum Sempat Bertemu Ibunya
FOTO FACEBOOK M ZAKI
Guru honorer asal Aceh yang bertugas di SD Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, M Zaki berfoto bersama anak-anak papua.

BANDA ACEH - Dahniar, warga Krueng Mane Aceh Utara, tak bisa menyembunyikan kesedihan mendengar putranya, Muhammad Zaki, meninggal dunia. Padahal ia telah berada di Banda Aceh, sedang bersiap-siap berangkat ke Nabire, Papua, untuk menemani anaknya yang sakit keras. Rencana keberangkatan itu pun akhirnya batal.

M Zaki selama ini mengabdi sebagai guru honorer di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Sejak seminggu terakhir, Cekgu kelahiran Cot Kruet, Kabupaten Bireuen 1984 ini, sakit dan dirawat di RSUD Nabire Papua. Kondisinya semakin kritis sehingga kemudian dirawat di unit perawatan intensif (ICU).

Kabar kondisi Zaki yang sakit keras ini awalnya beredar di salah satu grup WhatsApp (WA) pada Sabtu (27/6/2020), yang dikirim oleh T Syahrurrazi alias Sahroel Undock dari Komunitas Awak Droe Only (ADO). Saat dikonfirmasi ulang, Sahroel membenarkan informasi tersebut. Ia mengaku bergabung dalam grup WA ADO Aceh for Papua, komunitas warga Aceh yang ada di Papua.

Informasi terakhir yang ia terima, Zaki sudah dirawat di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Nabire, Papua, sejak seminggu terakhir. Belakangan kondisinya semakin memburuk sehingga Zaki kemudian dibawa ke ruang ICU. Ia dirawat sendirian tanpa ada sanak saudaranya yang menemani.

Kabar itu pun sampai ke telinga ibu Zaki, Dahniar. Menurut Sahroel, selama ini Dahniar tinggal di Krueng Mane menumpang di rumah saudaranya karena tidak punya rumah. Begitu mendengar kabar anaknya sakit, Dahniar sangat berkeinginan berangkat ke Papua.

“Mamanya sekarang ingin sekali berangkat ke Papua untuk melihat anaknya, cuma sekarang agak susah masuk ke Papua di masa pandemi Covid-19, apalagi KTP non-Papua,” imbuh Sahroel Undock.

Karena itu, pihaknya mengaku sedang melakukan koordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 Aceh agar bisa terhubung dengan Gugus Tugas Covid-19 Papua untuk memberangkatkan ibu Zaki ke Nabire. Pada Minggu (28/6/2020) malam, Dahniar berangkat ke Banda Aceh untuk melakukan tes swab, syarat yang wajib dipenuhi jika ingin ke luar daerah.

Rencananya, Dahniar akan berangkat beberapa hari ke depan, ditemani dokter Mirza Subqy. Namun belum sempat tes swab itu dilakukan, kabar duka itu pun datang. Zaki dilaporkan meninggal dunia di sekitar pukul 03.30 Waktu Indonesia Timur (WIT) di RSUD Nabire, Papua. “Rencananya tadi pagi sekitar pukul 09.00 WIB dilakukan tes swab, tapi karena dapat kabar Zaki meninggal dunia, tidak jadi tes,” imbuh Sahroel.

Kabar meninggalnya M Zaki diterima Serambi Senin pagi kemarin dari Cut Asmaul Husna, aktivis perempuan di Aceh yang mengenal almarhum. Ia juga menyampaikan bahwa sejak kemarin Dahniar, ibunya Zaki sudah berada di Banda Aceh dalam rangka keberangakatan ke Papua.

Cut Asmaul Husna mengatakan, begitu mendengar anaknya meninggal dunia, Dahniar mengikhlaskan anaknya itu dimakamkan di Papua. Dahniar malah akan pulang ke Krueng Mane untuk melaksanakan tahlilan bersama keluarga dan warga di kampungnya.

"Hari ini Ibu Dahniar akan pulang sebentar ke Krueng Mane dan Cot Kruet  kerena sudah ditunggu keluarganya di sana," kata Cut Asmaul Husna.

Pagi ini diperoleh kabar dari Cut bahwa jenazah Zaki sudah dishalatkan dan dimakamkan di Nabire, Papua, tepatnya di pemakaman umum Grimulyo Nabire. Selamat jalan Cekgu Zaki, pahlawan Aceh tanpa tanda jasa di Tanah Papua.(dik/yos)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved