Langsa Dukung Perlindungan Burung

Pemerintah Kota (Pemko) Langsa memberi dukungan terhadap perlindungan burung dan habitatnya yang akan dituangkan

SERAMBINEWS.COM/ZUBIR
Iskandar Haka memperlihatkan dua jenis burung migran Australia yang kini hidup di pesisir Langsa.   

* Rancangan Qanun Segera Dikeluarkan

LANGSA - Pemerintah Kota (Pemko) Langsa memberi dukungan terhadap perlindungan burung dan habitatnya yang akan dituangkan dalam sebuah qanun. Sebuah Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh bersama LSM Bale Juroeng Langsa, menggelar Forum Discusion Group rancangan qanun (Raqan) Perlindungan Burung dan Habitatnya, di Hanim Cafe Langsa, Senin (29/6).

Kegiatan itu juga dihadiri pejabat Pemko Langsa yang diwakili Asisten I Sekdako, Suyetno AP MSp, perwakilan KPH Wilayah III Aceh, Forum Komunikasi Sub Das Krueng Langsa (FKSDL), LSM Geusaba, sejumlah keuchik pesisir tempat persinggahan burung migrasi.

Suyetno mengatakan penyusunan rancangan qanun ini merupakan inisiasi yang sangat baik dari Gampong Cinta Raja yang bekerjasama dengan lingkungan hidup KSLH, LSM Bale Juroeng, Geusaba, dan lainnya. Dia mengatakan keberadaan burung air (burung migran) di kawasan pesisir Langsa ini, merupakan hal yang langka dan belum tentu ada di pesisir lainnya di Indonesia.

Hal ini membuktikan masyarakat gampong dan pemerhati lingkungan hidup sangat memperhatikan kehadiran burung migran asal luar negeri ini, ujarnya,. Bahkan secara nasional, banyak jenis burung-burung itu terancam punah, sehingga kehadiran burung migrasi ini harus dilindungi dan diberikan kenyamanan di daerah persinggahannya.

Suyetno mengatakan kehadiran burung migrasi ini, memberikan manfaat pada aspek pendidikan, untuk penelitian yang telah dilakukan mahasiswa sejumlah kampus di Aceh dan lembaga-lembaga lingkungan hidup lainnya di Sumut. Ditambahkan, dari aspek kebudayaan dapat merubah kebiasaan petani tambak, bsiasanya memanen udang dan ikan pada siang atau sorea hari, saat ini bisa dilakukan pada malam hari.

Dikatakan, dari aspek ekonomi, daerah pesisir persinggahan burung migrasi ini bisa memberikan peluang bagi masyarakat, karena daerah ini akan menjadi kawasan wisata yang dikunjungi untuk mengamati burung-burung migrasi tersebut. "Pemko Langsa mendukung penuh Qanun Perlindungan Burung dan Habitatnya, dalam rangka pelestarian burung migrasi di daerah pesisir ini," ungkapnya.

Sedangkan Direktur Bale Juroeng, Iskandar Haka SE, menyampaikan Provinsi Aceh belum membentuk Qanun Perlindungan Burung dan Habitatnya, sehingga hal ini penting dilakukan sebagai cikal bakal pembentukan qanun tersebut. Di daerah Langsa, jelas Iskandar, selama ini setiap tahun antara Maret sampai Agustus, puluhan ribu burung migran singgah dan mencari makan di kawasan pesisir Timur Aceh.

Khususnya di daerah pesisir Gampong Cinta Raja, Gampong Sungai Lueng, Gampong Kapa, di Kecamatan Langsa Timur, dan Gampong Sungai Paoh Tanjung, Kecamatan Langsa Barat.  "Di Kota Langsa, empat gampong ini menjadi lokasi persinggahan burung migran ini, hingga 6 bulan lamanya berada di sini mencari makan bahkan beranak-pinak," jelasnya.

Iskandar menambahkan, dari hasil penelitian bersama Bale Juroeng dan pengamat burung nasional, tercatat sekitar 34 jenis migrasi asal benua Asia, Eropa, dan Australia Selama ini, timpal Iskandar, LSM Bale Juroeng terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah pesisir agar tidak mengganggu kehadiran burung asal luar negeri ini.

Ditambahkan, burung akan kembali ke daerahnya saat memasuki musim dingin (salju), dan akan kembali bermigrasi ke pesisir Timur Aceh ini saat musim panas.(zb)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved