Breaking News:

Jurnalisme Warga

Saat Pedang Tumpul sang Seniman Menebas Hati

Ragam perbedaan ini menjadi semboyan negara kita, yakni Bhinneka Tunggal Ika, Semboyan ini berasal dari bahasa Jawa Kuno

Saat Pedang Tumpul sang Seniman Menebas Hati
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

SETIAP daerah di Nusantara memiliki seni budaya yang berbeda-beda, mulai dari Sabang hingga Merauke. Ragam perbedaan ini menjadi semboyan negara kita, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dengan aksara Bali yang ditulis Mpu Tantular dalam bukunya Kakawin Sutasoma sekitar abad ke-14 di Kerajaan Majapahit. Artinya adalah meski berbeda-beda, tetapi satu jua. Dan, itulah Indonesia tercinta.

Aceh, provinsi paling barat Indonesia, juga memiliki banyak ragam seni budaya. Salah satunya yang hampir punah ditelan waktu adalah hikayat Aceh, karya sastra berbentuk puisi atau syair berbahasa Aceh.

Kata “hikayat” berasal dari bahasa Arab, yaitu “hikayah” yang bermakna “cerita”, biasanya dilakoni oleh seorang seniman dengan berbagai kisah menarik seperti kisah sejarah, perang, keagamaan, roman, dan legenda.

Awalnya, hikayat Aceh diciptakan secara lisan dan dihafal oleh penciptanya, juga oleh orang-orang yang biasa mendengarnya.  Di Aceh ada seorang seniman hikayat Aceh yang sangat populer pada masanya, era 1980-an, yaitu Teungku Adnan PMTOH. Dia seorang seniman tutur atau trubadur. Pada setiap penampilanya tokoh seni yang sederhana ini selalu mampu menirukan karakter tokoh yang dilakoninya dalam berbagai kisah hikayat. Sewaktu kecil, saya pernah menyaksikan penampilannya di lapangan bola kampung kami dan saya kagum.

Saya juga penasaran dengan nama seniman yang satu ini, mengapa ada PMTOH pada nama belakangnya. PMTOH sendiri merupakan singkatan dari Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan, perusahaan jasa trasportasi angkutan penumpang darat yang sudah lama sekali ada di Aceh.

Ternyata Tgk Adnan juga yang memopulerkan nama Bus PMTOH,  yaitu transportasi umum yang legendaris, karena hampir sebagian besar masyarakat Aceh ke Jakarta menggunakan bus ini, dan pada masa itu tidak ada pilihan lain.  Namun, ada pendapat yang berbeda dari beberapa orang tua di Peusangan yang pernah menyaksikan penampilan Adnan PMTOH. Konon, kata “PMTOH” diplesetkan asalnya dari kata “peh tem” bahasa Aceh. Artinya, pukul kaleng kosong, sambil membaca syair hikayat Aceh. Versi lain, karena dalam penampilannya Adnan sering menirukan suara bus maupun suara klaksonnya, sehingga PMTOH melekat pada namanya. Saat itu, bus yang terkenal di Aceh adalah PMTOH.

Melakoni tokoh tertentu dalam hikayat Aceh tidaklah mudah karena tidak semua orang mampu melakukannya. Contohnya seperti hikayat perang, tampil dengan memakai pakaian tentara dilengkapi topi dan  pistol mainan, sang seniman mulai bersyair, Ia  sesekali menirukan suara tembakan dan gerak langkah sang tokoh yang dia lakoni, bahkan mampu menirukan suara kuda dan entakan kaki kuda, sehingga kita yang mendengarnya terlena seakan ikut serta dalam ceritanya.

Seni tutur atau hikayat Aceh versi Adnan PMTOH ternyata ada yang mengikutinya di Bireuen, yaitu lelaki berdarah Sigli kelahiran tahun 1958. Dia adalah Tgk Syarifuddin Sabon. Di usia senjanya Syarifuffin terus berusaha memperkenalkan seni tutur atau hikayat kepada masyarakat lokal maupun nasional, terutama pada momen-momen penting, seperti pesta, acara perpisahan, kenduri syukuran, acara hiburan atau acara resmi lainnya.

Saya berkesempatan mewawancari Tgk  Syarifuddin Sabon yang dikenal dengan nama PMTOH Bireuen pada suatu acara di AAC Ampon Chiek Peusangan. Menurutnya, seni tutur ini sudah kurang lebih sepuluh tahun lalu dia tekuni. Ia tertarik pada hikayat Aceh karena dia sebagai orang Aceh wajib dan merasa bertanggung jawab untuk melestarikan budaya tradisi warisan nenek moyang (indatu). Dia juga sangat menyukai isi nasihat lengkap yang terkandung di dalam hikayat, baik itu tentang agama, pendidikan, maupun cerita tentang  sosial dan topik lainnya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved