Breaking News:

Berwudhuk Sebelum ke Sekolah

Jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana tahapan new normal Covid-19, sekolah-sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan

FOR SERAMBINEWS.COM
Rachmat Fitri, Kepala Dinas Pendidikan Aceh. 

Ketika berakhir jam pelajaran, maka guru, tendik, dan siswa harus langsung pulang ke rumah, tetap menggunakan masker, dan tetap menerapkan social distancing dalam berkendaraan, baik sepeda motor maupun mobil.

Rachmat Fitri menekankan, prinsip dasar dan protokol kesehatan yang mencakup aktivitas personal sejak meninggalkan rumah menuju sekolah hingga kembali ke rumah itu diatur sedemikian rupa dengan satu maksud utama. Yakni, agar guru, tendik, dan siswa tidak tertular dan tidak pula menularkan Covid-19 di sekolah, di rumah, maupun di lingkungannya.

Untuk langkah awal, kata Rachmat Fitri, Disdik Aceh memastikan bahwa setiap satuan pendidikan (sekolah) siap melaksanakan protokol kesehatan dan SOP pendidikan. Seterusnya akan dilaksanakan simulasi. Hasil-hasil simulasi inilah yang dilaporkan kepada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh, dalam hal ini Plt Gubernur Aceh.

Yang akan dilaporkan adalah sekolah mana saja yang sudah layak untuk diberikan rekomendasi melaksanakan PBM tatap muka atau justru lanjut belajar di rumah (BDR) pada 13 Juli nanti dan sesudahnya. "Kita harus ekstrahati-hati sekali dalam hal ini. Soalnya, kita masih sangat sulit untuk patuh dan tunduk pada ikhtiar apa yg disepakati dalam protokol kesehatan. Apa lagi amaran ini hanya diemban oleh pemerintah," ujarnya.

Ia berharap ke depan agar para tokoh, baik ulama dan tokoh masyarakat lainnya, mau memerankan fungsinya agar masyarakat melakukan ikhtiar bersama (protokol kesehatan), khususnya jajaran pendidikan untuk berdisiplin menerapkan protokol kesehatan. "Semakin tidak disiplin kita, semakin banyak kasus Covid-19 di Aceh, dan semakin lama lagi anak-anak kita harus belajar di rumah," kata mantan wakil bupati Aceh Barat ini.

Sebagaimana diketahui, pemerintah merencanakan akan memulai tahun ajaran baru 2020/2021 dengan melaksanakan pembelajaran secara tatap muka, setelah sistem pembelajaran daring dilaksanakan hampir satu semester seiring dengan meningkatkan eskalasi penularan virus Corona di negeri ini, tak terkecuali di Aceh. Namun, skenario itu bisa berubah jika di provinsi atau kabupaten/kota tertentu jumlah kasus Covid-19 justru bertambah dan belum menunjukkan tren menurun.

Terpisah, dalam Sidang Paripurna Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Keuangan Pemerintah Aceh 2019 di Gedung Utama DPRA, Selasa (30/6/2020), sejumlah Anggota Dewan memanfaatkan kesempatan interupsi untuk mengingatkan Pemerintah Aceh agar memikirkan matang-matang pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah menjelang dimulainya aktivitas persekolahan pada 13 Juli 2020 nanti.

Ketua Komisi V DPRA, Rizal Falevi Kirani, mengungkapkan jika sebagian sekolah yang mereka datangi mengaku kesulitan dana untuk menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer di setiap ruang kelas. “Banyak sekolah mengaku kesulitan dana. Dana BOS tidak cukup, karena sudah dipakai untuk kegiatan prasarana dan sarana pendidikan lainnya yang sudah diprogramkan lebih dulu,” ungkap Falevi.

Tanggapan juga diberikan anggota Komisi V lainnya, dr Purnama Setia Budi. Ia meminta Pemerintah agar tidak menganggap enteng masalah penegakan protokol kesehatan di sekolah. Aceh disebutkannya memiliki 808 unit sekolah tingkat SMA dan SMK, dengan jumlah siswa mencapai puluhan ribu orang.

“Kalau protokol kesehatan pendidikan tidak ditegakkan secara benar, maka peluang untuk menularnya wabah virus Corona sangat besar,” ungkapnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved