Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kisah Keluarga yang Sadar Isolasi Mandiri

TERKAIT isu Covid-19 saya punya teman yang tekun melakukan isolasi mandiri. Namanya Rosmaliana, lahir di Lamnga, Aceh Besar

Kisah Keluarga yang Sadar Isolasi Mandiri
IST
SITI RAMHAM, Founder Warung Penulis dan penulis buku Jejak Setapak di Tanah Rencong, melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh

Kedua orang tua mereka sangat mendukung rencana isolasi mandiri yang akan dilakukan Kak Ros dan keluarganya setiba di Aceh. Ayahnya langsung jumpai keuchik untuk memberi tahu tentang rencana kepulangan anak, menantu, dan cucunya dari Jakarta.

“Sore itu, sekitar tiga jam kami bicara lewat telepon. Ada adik juga yang bantuin  bicara dengan orang tua, karena kalau ngomong sendiri tidak sanggup, belum apa-apa sudah nangis,” ujarnya.

Bakda shalat Asar orang tua Kak Ros mendatangi rumah keuchik, menanyakan apakah anak, menantu, dan cucunya boleh pulang atau tidak. Keuchik Gampong Lamnga, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, ternyata sangat mendukung kepulangan mereka. Keuchik bahkan menawarkan isolasi mandiri di rumah dinas dokter di Puskesmas Lamnga yang saat ini kosong.

Kak Ros malah senang diberi kesempatan tinggal di sana. “Alhamdulillah, malah menurut kami itu lebih baik, apalagi kami punya anak kecil, pasti nanti anak-anak kepingin peluk nenek, yahnek, dan para sepupunya,” ujar Kak Ros.

Tapi anaknya merasa aneh dengan rencana isolasi mandiri itu. “Bun, kita kok diisolasi sih?” tanya Jeumpa, “apa biar virus corona nempel di tempat isolasi?"

“Kita pisah dulu dengan yahnek dan nenek selama 14 hari, biar virus coronanya kabur. Setelah itu kita boleh peluk yahnek dan nenek,” jelas Kak Ros kepada Jeumpa, anaknya.

Setelah semuanya fix, sebelum memutuskan beli tiket, mereka konsultasi dengan temannya yang dokter.  Beberapa teman menyarankan untuk mengedukasi anak-anak mereka agar terus pakai masker selama di perjalanan. Hindari kontak dengan siapa pun sebisa mungkin. Semprot barang-barang, koper, baju-baju, sepatu sampai di rumah dengan desinfektan.

Jauh-jauh hari sebelum pulang Kak Ros mengedukasi anaknya bahwa jika pulang ke Aceh nanti anak-anaknya tak bisa bertemu langsung dengan nenek dan yahnek mereka. Mereka tidak dijemput oleh nenek dan yahnek mereka. “Nanti jangan sedih ya kalau kita di rumah isolasi dulu. Ini untuk menjaga agar kita semua sehat,” kata Kak Ros kepada anak-anaknya.

Selama perjalanan menuju Aceh, Kak Ros meminta anaknya untuk tetap pakai masker dan hand sanitizer. Juga tak boleh pegang benda-benda di bandara. “Alhamdulillah, mereka tahan pakai masker sampai ke Aceh,” kenangnya.

Sesampainya di rumah isolasi, semuanya langsung ganti baju dan mandi. Kak Ros berbagi tugas dengan suaminya. “Suami ngajarin ngaji, saya di bagian baca buku cerita. Atau kalau saya lagi sibuk, papanya yang bacakan buku,” ungkapnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved