Breaking News:

Opini

Lancok Mengajari Dunia Tentang Kemanusiaan  

Bayangkan jika anak-anak kecil Rohingya di perahu yang malang itu adalah anak-anak kita, dan kaum perempuan yang lemah di situ adalah istri kita

Lancok Mengajari Dunia Tentang Kemanusiaan   
IST
Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Aksi mulia warga Lancok ini mengajari dunia tentang kemanusiaan. Tentang makna kemanusiaan yang melewati batas-batas sekat teritorial. Mereka mengajari arti kemanusiaan kepada para penentu kebijakan dunia yang semakin individualis. Faktanya, Muslim Rohingya bertahun-tahun mengalami penderitaan yang mengerikan. Sudah tak terhitung perahu-perahu berisi penuh dengan manusia-manusia Rohingya yang lemah terdampar di berbagai tempat. Di tolak mendarat di berbagai negara. Sudah tidak terhitung jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh dan belahan dunia lainnya.

Dan aksi itu terus terjadi dan seakan sangat sulit dihentikan. Ada pembiaran para pengambil kebijakan dunia terhadap realitas terusirnya etnis minoritas Muslim Rohingya dari tanah air mereka, Rakhine, sebuah Provinsi di Myanmar. Dunia Islam pun seperti tak sanggup berbuat apapun menghentikan kekejaman rezim militer Myanmar yang disupport negara Cina, sebuah negara pemegang hak veto di PBB. Laporan AFP seperti yang dikutip detik.com tahun 2017 lalu menyebutkan otoritas Cina mendukung operasi militer Myanmar di Rakhine, yang memicu eksodus warga etnis minoritas Muslim Rohingya. Cina menyebut operasi itu sebagai upaya menegakkan perdamaian dan stabilitas di Rakhine.

Jadi, proses pengusiran etnis minoritas Muslim Rohingya dari tanah airnya yang kita saksikan dewasa ini adalah genosida sistemik yang didukung negara besar Cina. Kekajaman mengerikan yang kemudian di pentas internasional mereka sebut sebagai upaya menciptakan stabilitas di Myanmar. Begitulah cara mereka membungkus kejahatan terhadap kemanusiaan dengan alasan menjaga stabilitas. Agaknya, dunia Islam sendiri sangat sulit berhadapan dengan Cina.

Apalagi, pada faktanya sejumlah negara mayoritas Muslim memang berada dalam cengkeraman Cina karena terikat utang, yang menurut Mahathir Muhammad sebagai jebakan dan strategi imperialisme Cina. Sebab, negara yang tidak sanggup membayar utang akan berada di bawah kontrol Cina. Alhasil, kekejaman Myanmar terhadap Muslim Rohingya terus berlanjut. Perahu-perahu malang berisi penuh dengan manusia-manusia Rohingya terus terdampar di perairan samudera. Dunia betul-betul menjadi suatu tempat yang buruk dan kejam bagi etnis minoritas Muslim Rohingya.

Lalu, bagaimana kita melihat fenomena ini dengan ajaran Islam yang kita anut? Bukankah Rasulullah Saw dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim telah mengingatkan kita: "Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam."

Warga Lancok telah menunjukkan pengamalan atas hadis ini sehingga mereka dapat mengajari dunia tentang kemanusiaan. Maka malulah para elit-elit yang lebih takut hilang uang atau posisi karena membantu Rohingya ketimbang bertindak menjadi Muslim seutuhnya, mengamalkan ajaran Islam tentang kasih-mengasihi sehingga dunia yang kejam dapat memahami arti kemanusiaan. Wallahu a'lam bishshawab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved