Breaking News:

Salam

Sekolah Tatap Muka di Tengah Dua Kecemasan

Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh (DPRA) memperingatkan pemerintah provinsi ini supaya memikirkan

SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Pelajar MTsN mengikuti upacara pada hari pertama pembukaan sekolah di Pidie Jaya, Senin (15/6/2020) 

Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh (DPRA) memperingatkan pemerintah provinsi ini supaya memikirkan dan menyiapkan secara matang pelaksanaan sekolah tatap muka di musim pandemi Covid-19. Kalangan wakil rakyat itu ada yang meragukan kemampuan sekolah menyiapkan fasilitas sesuai protokol kesehatan di sekolah-sekolah, karena umumnya sekolah tak punya anggaran untuk itu. Sebab, dana BOS sudah lebih dulu habis untuk kegiatan yang diprogramkan sebelumnya.

Berkali-kali para anggota dewan meminta pemerintah untuk sangat berhati-hati menyiapkan cara belajar tatap muka yang paling aman bagi guru, tenaga pendidik, dan siswa sekolah-sekolah, terutama yang di berlokasi di zona hijau. Sedangkan sekolah-sekolah di zona kuning dan merah hingga kemarin belum boleh menyelenggarakan sekolah dengan sistem belajar tatap muka.

Sebagaimana disiarkan harian ini kemarin, bila semuanya berjalan sesuai rencana tahapan new normal Covid‑19, sekolah‑sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh akan kembali beraktivitas pada 13 Juli mendatang. Sehubungan dengan momen penting itu, Disdik Aceh sudah merancang skenario pembelajaran tatap muka yang  bertumpu pada prinsip dasar protokol kesehatan (prokes).

Prinsip dasar tersebut meliputi: guru, tenaga pendidikan (tendik), dan siswa tidak menularkan Covid‑19; guru, tendik, dan siswa dari zona merah tidak diperbolehkan mengikuti PBM tatap muka; menjaga jarak (social distancing and physical distancing; serta tidak ada jual beli makanan dan minuman di lingkungan sekolah/madrasah.

Prinsip dasar lainnya adalah pihak sekolah harus selalu berkonsultasi dengan otoritas kesehatan, tidak menggunakan penanda kehadiran secara 'fingerprint', dan warga sekolah yang berasal dari keluarga orang dalam pengawasan (ODP) dilarang ke sekolah.

Kepala Disdik Aceh, Drs Rachmat Fitri HD MPA mengaku sudah mengatur prinsip-prinsip dasar protokol kesehatan bidang pendidikan di Aceh. Cakupannya meliputi aktivitas personal yang harus dilakukan guru, tendik, dan siswa sejak dari rumah ke sekolah, selama di berada sekolah, dan kemudian dari sekolah ke rumah.

Renacan mengoperasikan sekolah dengan sistem tatap muka sejauh ini masih mendapat tanggapan pro dan kontra, terutama karena adanya kecemasan di tengah masyarakat. Kecemasan itu meliputi, kecemasan orangtua terhadap anaknya yang sudah terlalu-lama tidak sekolah. Sedangkan orangtua lainnya cemas karena hingga kini virus Corona masih terus menyebar di Aceh.

Bagaimana pandangan siswa? Muhammad Zaki Raihansyah, pelajar SMA Negeri 9 Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu mengungkapkan pendapatnya melalui satu tulisan di medai online. “Sebagai pelajar, saya bertanya, apakah sekolah kami akan dibuka dalam waktu dekat? Lalu bagaimana dengan kebijakan sekolah saat new normal?”

Menurut Zaki, apa pun skenario pemerintah dalam pembukaan sekolah, misalnya menerapkan physical distancing, tidak akan efektif dan tetap berisiko selama pandemi ini belum bisa dikendalikan. Jika sekolah atap muka dilakukan terburu‑buru, tidak hati‑hati, dan mengabaikan kurva penularan yang masih tinggi, maka keputusan ini akan sangat berisiko, terutama karena belum ada pihak yang bisa menjamin sekolah steril dari Covid‑19.

Itulah kecemasan yang sangat masuk akal. Pertama anak-anak tak boleh tertinggal pendidikannya, kedua sekolah juga tidak boleh menjadi kluster baru bagi mewabahnya virus Corona.

Kepada Pemerintah Aceh yang sudah berencana menyelenggarakan sekolah tatap muka secara terbatas, kita harap dapat terselenggara senyaman dan seaman mungkin bagi guru dan anak-anak di sekolah, Sebab, setelah terjadinya penyebaran virus itu secara lokal di Aceh dalam tiga pekan terakhir, masyarakat memang sangat cemas. Ada yang buru-buru ingin anaknya cepat bisa sekolah, tapi masih banyak pula yang belum ikhlas melepas anaknya ke sekolah. Makanya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengingatkan, setiap siswa yang ke sekolah harus ada izin orang tua atau wali. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved