Breaking News:

Jurnalisme Warga

Wacana Taman Bambu di Sungai Tamiang

Sungai memiliki kenangan yang tak terlupakan, salah satunya adalah sebagai sumber air tawar dan irigasi pertanian bagi penduduk setempat

Wacana Taman Bambu di Sungai Tamiang
IST
HUSNI MUBARAK, M.Ag., alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang

OLEH HUSNI MUBARAK, M.Ag., alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang

SUTAMI (Sungai Tamiang) adalah sebuah akronim yang tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh Tamiang. Hal itu dikarenakan sungai tersebut memiliki kenangan yang tak terlupakan, salah satunya adalah sebagai sumber air tawar dan irigasi pertanian bagi penduduk setempat.

Sutami sangat mudah untuk ditemui, sebab secara geografis jalurnya memotong jalan Banda Aceh-Medan sebagai jalan utama antarprovinsi. Salah satu jembatan penghubungnya dikenal dengan istilah ‘Jembatan Seberang’ merupakan salah satu identitas Aceh Tamiang yang memukau di malam hari. Tanpa melalui jembatan ini, bisa dibilang jalur Banda Aceh-Medan akan terputus.

Ketika melintas jembatan ini para pelintas akan melihat begitu lebar dan panjangnya Sungai Tamiang.

Dari atas jembatan juga terlihat jelas bagaimana erosi air sungai mulai merusak permukiman warga hingga ke tingkat yang meresahkan. Melihat kondisi ini, muncullah sebuah ide (wacana) untuk membangun taman bambu di setiap jengkal pinggir Sungai Tamiang. Sejauh ini bambu merupakan salah satu tanaman yang efektif  karena struktur akarnya yang berjenis serabut. Meskipun ada beberapa jenis tumbuhan serabut lainnya yang ideal dibudidayakan di pinggiran sungai, tapi bambu dinilai lebih tepat sebab mengandung nilai luhur dan kearifan lokal Aceh Tamiang.

Kalaulah saya menjadi wakil rakyat (anggota DPR), wacana taman bambu Sungai Tamiang akan menjadi salah satu program prioritas saya. Hal itu dikarenakan konektivitas antara bambu dan Sungai Tamiang memiliki kedekatan sejarah yang tak bisa dipisahkan. Secara pragmatis, penanaman bambu selain bermanfaat mencegah erosi sungai, juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Misalnya, sebagai bahan dasar kerajinan tangan, bahan bangunan perumahan, dan menjadi alternatif pengganti kayu yang eksistensinya mulai langka dan mahal.

Selain berfungsi secara praktis, penanaman bambu saya rasa juga memiliki fungsi historis. Hal tersebut dikarenakan sejarah bambu itu sendiri yang erat kaitannya dengan Raja Tamiang pada masa silam (Raja Pucok Suloh).

Dalam bahasa Tamiang, ‘suloh’  artinya bambu. Dulu, Raja Tamiang adalah sosok bayi yang ditemukan di tengah ladang bambu tapi tidak gatal (kebal) karena kesaktian yang ada pada dirinya. Dengan adanya taman bambu, maka masyarakat juga bisa mengingat sejarah yang mungkin semakin dilupakan, khususnya oleh kaum milenial. Saya rasa, penting bagi putra-putri Tamiang mengetahui sejarah kelahirannya. Selain dapat meningkatkan rasa cinta daerah (nasionalisme), pemahaman sejarah juga sangat mendukung wawasan intelektual demi pengembangan Aceh Tamiang ke depan.

Agenda penanaman bambu di sepanjang Sungai Tamiang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan modal besar, mengingat aliran sungainya cukup panjang dan lebar. Meskipun begitu, saya optimis bahwa wacana tersebut akan terlaksana di kemudian hari demi kemaslahatan bersama.

Sejauh ini, saya bersama teman-teman tengah membangun relasi dan mencari sumber dana agar wacana penanaman bambu di pinggir Sutami bukanlah sebatas buah bibir.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved