Breaking News:

Stok Hewan Kurban 40.334 Ekor

Jumlah stok hewan kurban di tingkat peternak di seluruh kabupaten/kota di Aceh dalam menghadapi Hari Raya Idul Adha

FOR SERAMBINEWS.COM
Rahmandi, Kepala Dinas Perternakan Aceh 

* Kambing/Domba Terbanyak

BANDA ACEH - Jumlah stok hewan kurban di tingkat peternak di seluruh kabupaten/kota di Aceh dalam menghadapi Hari Raya Idul Adha 1441 Hijjriah, sebanyak 40.334 ekor. Dari jumlah itu, persediaan kambing/domba sebanyak 20.121 ekor, sapi 16.722 ekor, dan kerbau sebanyak 3.491 ekor.

“Data itu kita peroleh dari hasil survei Dinas Peternakan Kabupaten/Kota, dua pekan lalu, yang dilaporkan ke Kantor Dinas Peternakan (Disnak) Aceh, minggu ini,” jelas Kepala Dinas Peternakan Aceh, drh Rahmandi MSi kepada Serambi, Kamis (2/7/2020).

Didampingi Kabid Kesehatan Hewan dan Veteriner, drh Muslim, Kadisnak Aceh mengatakan, pihaknya tidak begitu khawatir terhadap persediaan ternak kurban maupun daging meugang lebaran Idul Adha tahun ini. Namun, tambah Rahmandi,  terjadi penurunan daya beli masyarakat akibat dampak ekonomi terkait pandemi Covid-19 yang masih berlanjut.

Stok ternak kurban tahun ini, ungkapnya, lebih banyak dibanding tahun lalu yang hanya 33.709 ekor, terdiri dari sapi 15.691 ekor, kerbau 2.336 ekor dan kambing 16.652 ekor. “Pendataan stok ternak persediaan kurban dan meugang sudah menjadi rutinitas disnak kabupaten/kota. Satu bulan, menjelang hari raya kurban, petugas penyuluh peternakan sudah melakukan pendataan dan penyuluhan terkait kesehatan ternak untuk kurban dan meugang,” jelas Kadisnak Aceh.

Sampai saat ini, ungkap Rahmandi, di Aceh belum ada penyakit menular ternak. Namun demikian, pengecekan terhadap ternak kurban dan meugang wajib dilakukan oleh mantri atau penyuluh kesehatan peternakan yang ada di desa, kecamatan, maupun kabupaten/kota.

Dari hasil pengecekan itu, tambahnya, para pemilik yang ingin menjual ternaknya ke pasar hewan harus benar-benar sehat dan gemuk. Karena pembeli lebih menyukai ternak yang sehat dan gemuk dan berisi, meski harganya sedikit tinggi. “ Ternak yang kurus tidak akan dibawa ke pasar hewan, karena minat pembelinya sangat rendah,” ujar Kadis Peternakan Aceh itu.

Sementara Pengurus Asosiasi Pedagang Daging (Aspeda) Aceh Besar, Safuan mengatakan, stok ternak di tingkat peternak cukup banyak. Hanya saja, harga jualnya tetap tinggi, sementara daya beli masyarakat masih  rendah.

Pengalaman meugang lebaran Idul Fitri lalu, katanya, pada hari meugang harga jual daging mencapai Rp 150.000/kg. Namun daya beli masyarakat sangat rendah, bahkan turun hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. “Akibatnya, banyak peternak dan pedagang yang menanggung rugi karena hasil dagangannya tidak habis terjual,” tuturnya.

Pengurus Asosiasi Pedagang Daging (Aspeda) Aceh Besar, Safuan menyarankan, untuk meningkatkan daya beli pemerintah sebaiknya memberikan subsidi harga daging sekitar Rp 30.000/kg  kepada pedagang. Dengan begitu pedagang bisa menjual dengan harga Rp 120.000/kg.

Tingginya harga daging di Aceh, bukan karena sedikitnya jumlah ternak, tapi karena biaya pengurusan ternak potongnya terus meningkat. Ternak dari luar Aceh juga harga belinya sudah mahal. Seperti dari Lampung, harganya mencapai Rp 46.000/kg, untuk berat kotor. “Jika satu ekor sapi beratnya 500 kg, maka harga belinya sekitar Rp 23 juta,” jelasnya.

Sedangkan sapi lokal, ungkap Safuan, harganya lebih mahal. Harga berat kotornya saja sekarang ini Rp 50.000/kg. Jadi, jika ada satu ekor sapi berat kotornya 250 kg, harga belinya sudah mencapai Rp 12,5 juta.

Sapi-sapi yang banyak dicari panitia kurban dari berbagai desa dan panitia masjid, setiap Idul Adha adalah ternak berukuran sedang dengan harga antara Rp 15 juta-Rp 17 juta/ekor.  “Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi masyarakat pada masa pandemi Covid-19, masih sulit, sehingga semangat  masyarakat untuk berkurban jadi terbatas,” ujar Safuan.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved