Breaking News:

Opini

Syariat Islam di Aceh "Tertuduh"  

Baru-baru ini beredar opini di jagat maya bahwa pelaksanaan Syariat Islam (SI) di Aceh hanyalah omong kosong, bualan, dan sarat nuansa politis

ist
Dr. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Blang Beringin, Cot Masjid, Banda Aceh 

Hal ini menunjukan bahwa keterkaitan antara perkara aqidah (yang menyangkut keimanan) dengan syariat (yang menyangkut sikap rela dengan pelaksananan hukum Islam) tidak dapat dipisahkan. Ketakwaan mengantarkan seseorang kepada sikap mulia, yakni meyakini Allah Swt senantiasa mengawasinya, baik sedang sendiri, berduaan atau berada di tengah-tengah kerumunan manusia.

Kalau semua muslim Aceh memiliki tingkat ketakwaan seperti tersebut di atas, dipastikan SI akan berjalan secara baik dan benar di tengah-tengah masyarakat. Namun ada kenyataaan yang paradok hampir setiap saat kita saksikan. Masyarakat muslim Aceh kecuali yang dirahmati Allah tidak lagi mengindahkan perintah agama. Mereka dengan bangganya melanggar rambu-rambu agama. Pelanggaran ini bukanlah perkara asing di Aceh. Praktek pelanggaran SI tidak hanya terjadi di kota-kota, malah sudah merambah ke pelosok desa.

Hakikatnya tingkah laku individu dan masyarakat Aceh menjadi indikator berhasil atau tidaknya pelaksanaan SI Aceh. Dilematis memang ketika masyarakat menyalahkan pemerintah, padahal di satu sisi pemerintah telah menyiapkan berbagai regulasi terkait pelaksanaan SI di Aceh, dan di lain sisi masyarakat seakan tidak peduli dengan pelaksanaan syariat di Aceh. Ketidakpedulian itu menyebabkan masyarakat tidak lagi menjadi alat kontrol (pengawasan) terhadap pemberlakuan SI.

Masyarakat sebagai sebuah komunitas tempat terjadinya interaksi yang memungkinkan melakukan pengawasan kepada setiap orang atau sekelompok orang yang melakukan penyimpangan terhadap penerapan masyarakat. Bisa dibayangkan bagaimana takutnya orang untuk melakukan pelanggaran terhadap SI jika semua mata masyarakat siap mengawasi mereka. Sikap tidak tinggal diam terhadap penyimpangan terhadap SI merupakan cermin dari ketaatan pada sabda Nabi SAW: "Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu mengubahnya dengan tangan maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu cukup dengan hati dan itu selemah-lemah iman".

Sebagai orang Aceh sebenarnya kita harus malu, Aceh yang notabenenya sebagai daerah yang kerap dengan nilai-nilai Islamnya, justru praktek-praktek maksiat ada di sekitar kita. Penyimpangan itu di satu pihak merupakan sebuah realitas yang lintas kelas dan status sosial dan di lain pihak tampaknya beban sejarah telah membuat kita hipokrit. Kita masih terus bersiteguh bahwa Aceh sekarang sebagaimana Aceh dahulu yang hijau sejati, warna moralitas sosial Aceh tidak pernah diakui telah berubah dan sekarang ini rakyat Aceh bertendensi hipokrit.

The last but not least, betapa pun hebatnya peran pemerintah dalam menyiapkan regulasi dan menyediakan banyak anggaran, kalau individu  dan masyarakat muslim Aceh tidak memiliki kesadaran dan pemahaman konprehensif terkait SI, maka SI Aceh akan terus menjadi "tertuduh" yang pada akhirnya menjadi dilema.

Ibarat selembar kain sarung pendek, tua lagi usang, artinya jangankan bisa dipakai untuk selimut, untuk menutup aurat saja tidak bisa digunakan karena ditarik ke atas nampak lutut ditarik ke bawah kelihatan pusat. Allahu `alam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved