Breaking News:

Perbedaan antara Pegadaian Syariah dan Konvensional

Dalam rangka mendukung implementasi Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Aceh

Perbedaan antara Pegadaian Syariah dan Konvensional
For Serambinews.com
Ferry Hariawan, Vice President PT Pegadaian Area Aceh

BANDA ACEH - Dalam rangka mendukung implementasi Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Aceh, maka seluruh lembaga keuangan yang beroperasi di provinsi ini beralih ke syariah dari konvensional.

Untuk menambah pemahaman terkait syariah dan konvensional, Serambi merangkum tentang perbedaan antara Pegadaian Syariah dengan konvensional dengan mewawancarai Vice President PT Pegadaian Syariah Area Aceh, Ferry Hariawan, Jumat (3/7/2020).

Ia menyampaikan, yang paling membedakan antara syariah dan konvensional, berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 25 tentang Rahn dan Nomor 26 tentang Rahn Emas yaitu terutama terkait dengan penetapan jasa simpan atau mu’nah, itu tidak boleh dikaitkan langsung dengan uang pinjaman.

“Jadi kalau disyariatkan itu yang digunakan perhitungan dari taksiran barang. Filosofinya lebih ke tukang parkir, jadi kalau punya mobil, motor kemudian dilihat sama tukang parkir perkiraan mobilnya sekitar Rp 100 juta misalnya. Kemudian kalau disimpan dikenakan biaya jasa simpan per hari missal Rp 8.000 atau Rp 10.000 dan ini mau disimpan berapa lama satu bulan atau dua bulan, itulah bayar jasa simpan tadi,” jelasnya.

Ia kembali menjelaskan, jasa simpan tersebut digunakan untuk apa saja, karena Pegadaian sudah memelihara barang yang disimpan itu, maka membutuhkan biaya listrik, membayar satpam, serta membersihkan dan menghidupkan kendaraannya. “Berbeda dengan konvensional, itu filosofinya dia menghitung uang itu digunakan kemudian bayar per bulan sekian persen. Beda paling dasarnya disitu,” sebutnya.

Ferry menambahkan, di syariah biaya administrasinya juga ada. Pegadaian atau lembaga keuangan boleh mengambil biaya administrasi sebesar kira-kira tidak memberatkan nasabah, dan itu diperuntukkan untuk kegiatan yang sifatnya seperti kebutuhan kertas dan listrik.

Dan ketika menggadaikan barang-barangnya, maka petugas akan melakukan cek list terhadap barang tersebut. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi perselisihan ketika si nasabah mengambil kembali barangnya. “Kalau spionnya pas masuk dua, kemudian ketika diambil nasabah tinggal satu maka itu kewajiban Pegadaian. Dan ini baik itu konvensional maupun syariah sama, tetap dilakukan cek list,” katanya.

Ferry juga menyebutkan ada sejumlah produk dari Pegadaian Syariah yang memberikan kemudahan kepada nasabah, seperti Rahn Hasan yaitu pinjaman Rp 500 ribu, maka dikembalikan juga Rp 500 ribu tanpa dikenakan biaya administrasi dan jasa simpan.

Selain itu juga ada Gadai Peduli merupakan program selama Covid-19 atau virus corona yang sudah dimulai sejak Mei hingga akhir Juli 2020. Dalam program ini, nasabah bisa meminjam maksimal Rp 1 juta dan dikembalikan juga Rp 1 juta tanpa biaya administrasi.

“Ini dilakukan untuk membantu masyarakat ditengah pandemi saat ini. Di Aceh antusiasme paling tinggi terhadap Gadai Peduli ini adalah di Langsa. Ada tiga segmen yaitu untuk ibu rumah tangga, pegawai setingkat staf, buruh, serta pedagang yang membutuhkan modal untuk usaha gorengan juga bisa,” demikian katanya.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved