Salam

Pemimpin Harus Bijak Menanggapi Kritikan  

Guru Besar UIN Ar‑Raniry, Prof Drs H Yusny Saby MA PhD, mengingatkan kepada seluruh pemimpinan yang kini mendapat amanah

Yusny Saby 

Guru Besar UIN Ar‑Raniry, Prof Drs H Yusny Saby MA PhD, mengingatkan kepada seluruh pemimpinan yang kini mendapat amanah dari rakyat agar selalu rendah hati dan terbuka terhadap kritik dari siapapun.  “Pemimpin tidak boleh cepat merah kuping, jangan cepat marah meski rakyat mengritik habis‑habisan," kata alumnus Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat itu.

Secara khusus, kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Yusny Saby berharap, "Pak Nova harus tetap bisa menyelesaikan semua program Aceh Hebat yang telah dicanangkan bersama Irwandi saat pilkada dulu.” Soal kritikan miring terhadap pemerintahan, Yusny berpesan supaya ditanggapi secara bijak. "Kalau tidak baik lupakan saja, jangan menambah urusan. Karena tidak semua (pengkritik) bisa melihat secra jernih dan detail," katanya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala, Dr Muhammad Nasir MA, menilai kinerja ekonomi 3 Tahun Aceh Hebat menunjukkan progres yang baik. Antara lain, peningkatan dalam aksesibilitas dan kualitas kesehatan, peningkatan konektivitas antarwilayah, peningkatan ketahanan pangan dan energi, peningkatan pelayanan publik dan reformasi birokrasi, serta lainnya.

"Dalam hal pertumbuhan ekonomi saya menilai capaian pertumbuhan ekonomi Aceh masih tergolong moderat. Ke depan agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi perlu penguatan dalam sektor‑sektor ekonomi yang bisa memperkuat pertumbuhan seperti sektor industri, perdagangan, dan sektor jasa," kata Nasir.

Pemerintah Aceh Hebat dinakhodai Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah mulai 5 Juli 2017 lalu. Namun, pada 4 Juli 2018, Irwandi terjaring operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penerimaan gratifikasi pengalokasian penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun Anggaran 2018. Sejak itu, Nova Iriansyah memipin Aceh sendiri, hingga dirinya ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh. Berkaitan dengan tiga tahun Pemerintahan Aceh Hebat itulah harian ini kemarin menurunkan pendapat Yusny Sabi dan Muhammad Nasir. Dan, ringkasan pendapat mereka sebagaimana yang sudah kita sampaikan di awal tadi.

Bicara politik, kritik, dan kepemimpinan, di era sekarang tentu tidak bisa lepas dengan generasi millenial yang  banyak peran penting dalam pembangunan bangsa dan penentu masa depan daerah dan negeri ini. Salah satu ciri generasi millenial adalah kritis. Selain itu, generasi milenial memiliki kecenderungan ingin tahu lebih dalam, hingga mereka akan mengulik lebih jauh tentang hal apa saja yang mereka ingin tahu.

Generasi milenial adalah generasi yang sangat terbuka, kritis, dan selalu mencari kemungkinan terbaik. Pemimpin yang paling ideal bagi  milenial adalah pemimpin yang dapat memberikan dan menyeruakan pendapat serta keinginan mereka dalam berbagai aspek. Dengan 40 persen peran generasi milenial --dalam pemilihan Pemilu 2019-- merupakan kontribusi menentukan nasib bangsa.

Oleh sebab itulah, para pemimpin di Aceh tidak boleh mengabaikan posisi para millenial. Mendekati millenial adalah sebuah keharusan. Dan, mendekati millenial juga tak lepas dengan media sosial. Menurut survei CSIS, sebanyak 81,7% milenial memiliki Facebook, 70,3% memiliki Whatsapp, 54,7% memiliki Instagram. Twitter sudah mulai ditinggalkan milenial, hanya 23,7% yang masih sering mengaksesnya.

Itulah panggung yang terbuka 24 jam bagi para millenial. Di sana mereka berdebat tentang banyak hal. Mengkritik siapa saja, termasuk prilaku pemimpin, dan lain-lain. Gaya kritik di media sosial terkadang menggelikan tapi tak jarang juga mengbaikan kesantunan berbahasa.

Tahun depan, atau menjelang pemilu atau pilkada 2022, posisi tawar para millenial ini sangat tinggi. Dan, siapapun pasti akan berusaha merebut hati mereka. Maka, jika mereka adalah target lumbung yang digarap kelak, sejak kini jangan lihat mereka “sebelah mata”.

Karena itulah, seperti dipesan Prof Yusny,  menjadi pemimpin di era sekarang itu memang harus rendah hati. Harus banyak sabar. Tidak boleh cepat merah kuping. Dan, tentu saja tidak boleh cepat marah.

Terhadap tiga tahun Pemerintahan Aceh Hebat yang kini digawangi sendirian oleh Nova Iriansyah, kita sangat memberi apresiasi, meski seperti dikatakan Yusny Saby, banyak PR yang harus dikerjakan dalam dua tahun terakhir.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved