Breaking News:

Jeddah Minati Kopi Arabika Aceh

Keran ekspor kopi arabika Aceh ke luar negeri di era new normal Covid-19 mulai terbuka. Pasar ekspor kali ini datang dari Kota Jeddah, Arab Saudi

Seorang petani kopi warga Kampung Blanggele, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah. SERAMBI/MAHYADI 

* Pengiriman Perdana 2 Ton

BANDA ACEH - Keran ekspor kopi arabika Aceh ke luar negeri di era new normal Covid-19 mulai terbuka. Pasar ekspor kali ini datang dari Kota Jeddah, Arab Saudi. Untuk tahap perdana, Aceh akan mengirim 2 ton kopi ke negara Arab tersebut.

Eksportir kopi Aceh, Usuluddin mengatakan, pasca-pembukaan lockdown di Kota Jeddah, mereka minta dikirimi kopi arabika dari Aceh. “Juli ini pengiriman pesanan sebanyak 2 ton akan segera dilakukan,” katanya kepada Serambi, Jumat (10/7/2020),

Dijelaskan, pembukaan pasar kopi dunia yang dimulai dari Kota Jeddah, Arab Saudi, akan memberikan harapan baru bagi petani kopi di Aceh, setelah selama tiga bulan ekspor kopi Aceh ke luar negeri stop sementara akibat pandemi Covid-19.

“Ini peluang baik, apalagi sekarang harga biji kopi mulai bergerak naik. Berkisar Rp 30.000-Rp 40.000/kg, karena pedagang pengepul mulai melakukan pembelian, meski dalam jumlah terbatas,” ungkap Usuluddin.

Hal senada juga diakui Kepala Bea dan Cukai Aceh, Dr Safuadi. Dikatakan perusahaan yang akan mengekspor 2 ton kopi juga mengajukan permintaan surat ke kantor Bea Cukai. Pihak perusahaan saat ini sedang menunggu angkutan kapal laut menuju Jeddah dari Pelabuhan Belawan, Sumut.

Dijelaskan, tahun 2020 ini ekspor terbesar kopi arabika dari Aceh adalah ke Amerika dengan nilai 17,527 juta dolar AS. Kemudian Belgia dengan nilai 5,512 juta dolar, selanjutnya Jerman 2,260 juta dolar, Kanada dan Inggris 1,580 juta dolar dan 1,879 juta dolar.

Sementara itu, Kadisperindag Aceh, Ir Mohd Tanwier menambahkan, meski mulai mengalami perbaikan harga, namun perlu usaha maksimal agar harga kopi Aceh bisa lebih tinggi. “Salah satu caranya adalah dengan resi gudang. Dimana pihak pengelola resi gudang yang ada di daerah sentra produksi kopi menyimpan kopi petani di gudang, untuk kemudian memberikan harga sementara Rp 30.000/kg kepada petani pemilik kopi. Tapi setelah pasar ekspor kopi dunia kembali terbuka, kopi yang disimpan di gudang dengan sistem resi gudang itu, laku dijual dengan harga Rp 50.000-Rp 60.000/kg, maka petani akan mendapat tambahan harga kembali dari pengelola resi gudang, setelah hasil penjualan kopi dikurangi biaya penyimpanan dan pengelolaan resi gudang,” jelasnya.

Untuk melaksanakan sistem resi gudang, kata Mohd tanwier, daerah produksi kopi meminta perbankan untuk menyediakan pinjaman bagi pengelola resi gudang dengan bunga rendah, sehingga pada waktu harga kopi bagus di tingkat eksportir, kopi yang disimpan di gudang bisa dilelang dengan harga yang lebih bagus, dari kondisi sebelumnya.

Sementara itu, Pimpinan Bank Indonesia Cabang Banda Aceh, Zainal Arifin Lubis, sependapat dengan Kadisperindag Aceh, karena penyimpanan melalui resi gudang sangat membantu petani kopi.

“Kopi petani yang disimpan dalam gudang melalui sistem resi, adalah kopi biji yang kadar airnya sudah memenuhi standar ekspor. Sehingga pada saat kopi itu dilelang kepada eksportir kopi, harganya tidak jatuh, melainkan naik dari harga di pasaran,” tandasnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved