Opini

Recovery Koperasi Pascapandemi  

Setiap 12 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi. Boleh jadi peringatan hari jadi kali ini berada dalam suasana yang memiriskan hati

Recovery Koperasi Pascapandemi   
IST
Ishak Hasan, Dosen Unsyiah, ditugaskan di UTU

Ishak Hasan

Dosen Unsyiah, Titugaskan di UTU Meulaboh

Setiap 12 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi. Boleh jadi peringatan hari jadi kali ini berada dalam suasana yang memiriskan hati. Betapa tidak, sejak awal 2020 hingga saat ini kita masih berada dalam kondisi pandemi Covid-19. Kondisi ini menambah beban, bahkan sebagian mungkin dapat membenamkan pertumbuhan koperasi yang sebelumnya memang masih belum menggembirakan. Jauh sebelum Covid-19 menjadi pandemi, hampir sebagian dunia dihadapkan pada perbincangan tentang isu perang dagang Cina-Amerika Serikat.

Sejak merebaknya isu perang dagang tersebut sedikit tidaknya dunia perkoperasian Indonesia telah mendapatkan catatan buruk akibat dampak negatif bagi perkembangan lembaga ekonomi rakyat ini. Dampak buruk tersebut meliputi pelambatan daya beli produk koperasi dan UMKM oleh pasar, volume usaha, pelayanan untuk anggota dan kesempatan kerja pada bisnis koperasi. Di masa pandemi dari beberapa sumber menginformasikan di antaranya Republika Online 16 April 2020 memberitakan bahwa ada 56 persen penjualan koperasi dan UMKM terjadi tren menurun.

Sekitar 18 persen mengaku kesulitan dalam hal distribusi, dan 22 persen dalam hal permodalan. Ini semua berawal dari terganggunya dukungan bahan baku yang berefek kepada menurunnya vulume prouksi, distribusi, dan pendapatan usaha.

                                                                                                                                          Daya hidup

Daya hidup koperasi dalam berbagai krisis sebenarnya sudah sangat teruji. Sejak kelahirannya pada akhir abad ke-18 memasuki awal abad ke-19 sampai saat ini koperasi memang sudah terbiasa berlayar dan bertahan dalam krisis, karena memang koperasi terlahir dari buah kesengsaraan hidup manusia. Sejak digagas oleh Rober Owen di sebuah industri tekstil di Kota Rochdale, Inggris Koperasi telah berhasil lolos sebagai sebuah model organisasi ekonomi dan sosial yang relevan dengan nasib buruk rakyat akar rumput.

Pada masa awal Revolusi Industri 1.0 di Inggris, koperasi terbukti mampu menyambung hidup ratusan bahkan ribuan orang tertindas secara ekonomi. Memasuki revolusi sosial di Perancis juga banyak koperasi yang terlantar. Saat perang dunia ke satu dan ke dua lebih banyak lagi koperasi yang hanya bisa bertahan hidup, bahkan bangkrut. Ketika dunia dilanda krisis ekonomi yang hebat yang dikenal dengan masa depresi tahun 1930-an hampir semua negara terpuruk secara ekonomi, daya hidup koperasi terjadi pelambatan. Konstraksi ekonomi yang membawa krisis pertengahan tahun 1997 juga banyak institusi koperasi dan UMKM menderita.

Sungguh pun kondisi buruk tersebut telah dilalui dengan berbagai dinamikanya, koperasi tetap masih menjadi pilihan bagi kelompok marginal untuk bertahan hidup guna memenuhi berbagai kebutuhannya. Bahkan, dilaporkan pada saat krisis moneter yang kemudian menjalar kepada krisis kepercayaan politik dan sosial pada 1997 di Indonesia tidak sedikit koperasi dan UMKM masih bisa bertahan hidup, bahkan volume usahanya bisa surplus.

Makanya tidak heran jika Endress dalam Munkner (2000) menulis bahwa; "Koperasi sudah sangat tua menyelamatkan orang-orang tertindas secara ekonomi, mampu menolong para petani, perajin, dan pedagang kecil bertahan hidup dan berusaha di masa sulit yang diakibatkan oleh adanya reformasi ekonomi, baik pertanian, industri dan politik ekonomi liberal. Koperasi menjadi alternatif yang tepat, tidak saja di masa serba kekurangan, tetapi juga di masa serba makmur. 

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved