Breaking News:

Salam

Kita Terkepung Titik Api

Potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh masih cukup besar. Saat ini, citra setelit menangkap adanya 51 titik api

www.serambitv.com
Kebakaran Hutan dan Lahan gambut seluas 10.5 hektar kembali terjadi di Desa Lapang dan Desa Leuhan Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Kamis (2/7/2020). 

Potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh masih cukup besar. Saat ini, citra setelit menangkap adanya 51 titik api atau hotspot di Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Nagan Raya, Abdya, Aceh Tengah, Pidie, dan Aceh Besar.

“Oleh karena itu, kepada pimpinan daerah di delapan kabupaten itu harus mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang meluas,” kata Deputi I Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Dodi Usodo Hargo di Banda Aceh, Senin (13/7/2020).

Titik-titik api yang terpantau citra satelit itu paling banyak di Aceh Selatan 16 titik, kemudian Aceh Tengah 13 lokasi, Aceh Jaya 8 lokasi, Aceh Barat 6 lokasi, Nagan Raya 6 lokasi, Abdya 1 lokasi, Aceh Besar 1 lokasi, dan Pidie masih nol.

Menurut catatan Pemerintah Aceh, jumlah titik lokasi api pada bulan ini yang terpantau citra satelit untuk seluruh Aceh, totalnya mencapai 144 titik lokasi. Ini perlu perlu dipantau dan diwaspadai pemerintah gampong, camat, kabupaten/kota, provinsi, sampai pemerintah pusat.

“Semua tingkatan pemerintahan itu memiliki tugas dan tanggung jawab masing‑masing sesuai dengan tingkatan pemerintahannya. Sedangkan tugas dan kewenangan masyarakat secara individu dalam pencegahan karhutla adalah mencegah dan menjaga lahan agar tidak terbakar,” kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Sudah lama diakui bahwa Aceh termasuk daerah yang paling rawan kebakaran hutan dan lahan. Hampir setiap tahun pemerinrah, TNI/Polri sibuk memadamkan api yang membakar hutan, kebun, bahkan mengancam pemukiman warga. Kampanye anti karhutla yang digaungkan pemerintah belum mampu menekan kasus-kasus karhutla, terutama yang disebabkan oleh kesengajaan manusia.

Berdasarkan pengalaman bertahun, kalangan “pemadam karhutla” paling tidak mencatat ada enam langkah penting mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pertama, jadikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai musuh bersama.Sangat penting mengkampanyekan dan menjadikan opini bersama bahwa karhutla dan kabut asap adalah derita kita bersama. Karhutla bukan hanya dirasakan masyarakat setempat, tidak hanya di titik terjadinya api, tapi juga daerah lain yang mungkin tidak tahu apa‑apa. Efek karhutla tak pandang strata dan status, mau pejabat, rakyat biasa, tentara, polisi, siapa pun akan terkena. Karhutla adalah musuh bersama.

Kedua, memberikan solusi kepada masyarakat terutama dalam pengolahan lahan pertanian. Memperbanyak cadangan tampungan air atau melakukan rekayasa teknologi, harus dilakukan dari sekarang. Ketiga, membangun pola pikir bersama bahwa karhutla bukan rutinitas tahunan yang harus ditunggu. Arahkanlah sebagian besar program pembangunan untuk peningkatan ekonomi masyarakat yang berefek pencegahan prilaku membakar.

Keempat, peran serta perusahaan dan kalangan swasta di berbagai lokasi harus diperkuat dan dikawal. Pengawalan maksudnya, kegiatan mereka yang bersinggungan dengan gambut harus memiliki jaminan aman kebakaran dan tidak menjadi penyebab kebakaran di tempat lain.

Kelima, sudah cukup banyak pihak yang terlibat dalam mengatasi karhutla, baik unsur pemerintah, masyarakat, LSM, dan bahkan pihak luar negeri. Sangat penting kesamaan gerak dan koordinasi maksimal dilakukan.

Keenam, perlu dukungan pemetaan yang jelas dan terukur terhadap semua lahan yang rentan terbakar dan masyarakat terdampak, baik secara fisik, kesehatan, maupun ekonomi. Terpenting adalah komitmen semua pihak untuk tidak membiarkan lahannya terlantar menjadi santapan api.

Intinya adalah membangun kesadaran bersama bahwa Karhutla bukan persoalan sesaat. Ini sudah menjadi persoalan besar. Jadi, mengatasi karhutla jangan karena takut dikecam dunia internasional, terutama Malaysia dan Singapura yang paling serinmg terdampak jerebu karhutla dari Sumatera dan Kalimantan.

Seorang pakar komunikasi lingkungan mengingatkan, “Sebagai musuh bersama, pemerintah kota dan kabupaten harus bertanggung jawab terhadap persoalan ini. Termasuk pula mendorong seoptimalnya tanggung jawab pelaku usaha. Jangan hanya dibebankan kepada masyarakat yang sebenarnya menjadi korban dari sistem pengelolaan hutan dan lahan yang sejak lama sudah salah,” tandasnya. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved