Breaking News:

Aceh Stop Sementara Ekspor Pozzolan

Penghentian sementara itu lantaran kedua negara Asia Selatan tersebut masih melaksanakan lockdown, akibat virus corona

SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
PT Pelindo I membongkar peti kemas.SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

BANDA ACEH - Sejak April 2020, ekspor pasir pozzolan dari Aceh ke Bangladesh dan Sri Lanka untuk sementara dihentikan. Penghentian sementara itu lantaran kedua negara Asia Selatan tersebut masih melaksanakan lockdown, akibat virus corona.

Penghentian sementara ekspor pasir pozzolan itu disampaikan General Manajer PT Pelindo I Pelabuhan Malahayati, Sam Arifin Wiwi, kepada Serambi, Kamis (16/7/2020). “Sejak April sampai Juli ini belum ada kegiatan ekspor pasir pozzolan ke Bangladesh dan Sri Lanka. Karena memang saat ini mereka sedang menutup diri (lockdown) akibat mewabahnya Covid-19,” ujarnya.

Dikatakan, kegiatan ekspor pozzolan selama tahun 2020, baru dilakukan tiga--Januari hingga Maret. Ke Bangladesh ekspor dilakukan dua kali dan sekali ke Sri Lanka, dengan volume ekspor masing-masing 30.000 ton. “Setelah itu,  aktivitas ekspor pozzolan dari Pelabuhan Malahayati Krueng Raya belum ada lagi,” ungkapnya.

Meski kegiatan eskpor tak ada, kata GM PT Pelindo I Malahayati Itu, aktivitas bongkar muat peti kemas tetap berjalan di Pelabuhan Malahayati. Dalam satu bulan, tidak kurang ada 5-6 kali kapal pengangkut peti kemas melakukan bongkar muatan di pelabuhan ini. “Karena di Pelabuhan Malahayati juga ada silo Semen Padang, maka setiap bulan kapal semen curah juga melakukan aktivitas bongkar muat.”

Berhenti sementara ekspor pozzolan dari Aceh ke Bangladesh dan Sri Lanka juga diakui Yusri, seorang eksportir. Dikatakan, sejak Maret hingga Juli 2020,  PT Samana selaku eksportir pozzolan belum melakukan ekspor karena belum adanya permintaan. “Pengakuan importir Bangladesh dan Sri Lanka, mereka menghentikan dulu kegiatan akibat lockdown Covid-19,” ujarnya sambil menambahkan bahwa selain pandemi Covid-19, stok pozzolan yang diekspor dari Aceh juga masih banyak dan mencukupi untuk kebutuhan mereka.

Dijelaskan Yusri, selain Bangladesh dan Sri Lanka, Aceh juga pernah mengekspor pozzolan ke Dubai dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab) sebagai bahan baku semen. Volume sekali pengiriman sebanyak 50.000 ton.

General Manager PT Pelindo I Pelabuhan Malahayati Krueng Raya, Sam Arifin Wiwi menambahkan, untuk memuat pozzolan sebanyak 50.000 ton harus dilakukan dua tahap, karena memang kedalaman kolam dermaga di Malahayati kurang dan belum memungkinkan untuk itu.

“Setelah dimuat sebanyak 30.000 ton, kapal pengangkut pozzolan harus digeser agak ke tengah untuk mendapatkan kedalaman agar kapal tak kandas. Setelah itu, sisa 20.000 ton lagi dilansir dengan kapal tongkang,” ujarnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved