Breaking News:

Opini

Islam Memuliakan Perempuan

Perempuan digambarkan sebagai sosok permata indah, lembut, identik dengan keindahan, kecantikan dan wewangian

Islam Memuliakan Perempuan
IST
Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota Ikat-Aceh

Oleh Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota Ikat-Aceh

Perempuan digambarkan sebagai sosok permata indah, lembut, identik dengan keindahan, kecantikan dan wewangian. Maka, tak jarang sebuah produk menggunakan jasa perempuan demi memikat pelanggan karena memang perempuan punya pesona dan magnet tersendiri. Namun tak sedikit baliho, iklan, dan produk lainnya terlihat perempuan berpose dengan bagian tubuh indahnya yang tanpa menyadari bahwa itu bagian dari eksploitasi.

Atau mungkin perempuan itu sendiri merasa tak ada masalah sehingga begitu menikmati karena dianggap sebuah perestasi yang menghasilkan banyak materi, bangga dapat mengobral kecantikan, menampilkan postur tubuh yang ideal, sebagaimana masyarakat Banda Aceh akhir-akhir ini dihebohkan dengan sekelompok wanita bersepeda (gowes) yang mengenakan kostum merah muda dengan mempertontonkan lekuk tubuhnya, ketat, dan transparan.

Sebelum Islam, kondisi perempuan sungguh memprihatinkan. Mereka layaknya sebuah barang yang boleh diperdagangkan sesuka hati, keberadaan mereka hanya sebagai pemuas nafsu laki-laki. Konon Yunani yang terkenal dengan peradabannya masih menganggap perempuan sebagai sarana kesenangan belaka, bahkan Romawi membolehkan seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya. Sedangkan masyarakat Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya, perempuan tidak memiliki hak apapun terhadap dirinya, tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Ahli waris bisa menggauli mantan istri ayahnya, dan mereka bisa menikahkannya dengan siapa saja tanpa harus menyerahkan mahar.

Pada masa itu, perempuan harus mencari suami sendiri dengan cara melacurkan dirinya memasangkan bendera di atas rumahnya sebagai tanda bahwa dia siap untuk dilacur. Di sisi lain, jika seorang laki-laki menikahi perempuan, ternyata dalam perkembangannya sang suami ada perasaan kurang suka, dia bebas menahan, memboikot dan membuat suasana supaya istrinya tidak merasa nyaman di sampingnya, tidak pula mencerainya dan tidak pula menggaulinya. Suami akan melepaskan dan menceraikan istri jika sudah membayar tebusan yang sudah ditentukan suami.

Begitulah kondisi perempuan sebelum Islam, ia dianggap hina sehingga harus dimusnahkan sebagaimana ungkapan Alquran, "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup), ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." (QS. An-Nahl: 58).

Islam mengangkat derajat perempuan bahkan kedudukannya setara dengan laki-laki, tak ada yang lebih mulia antara yang satu dengan yang lain kecuali hanya ketakwaannya. Wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki sebagaimana ungkapan Alquran "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik laki-laki maupun perempuan" (Q.S. Ali Imran: 93).

Islam memberikan hak perempuan sedemikian rupa, berhak mendapatkan hak waris bahkan dalam akad nikah pun harus berdasarkan persetujuan dan restunya, tak boleh ada pemaksaan kehendak, bahkan bukanlah dianggap perempuan durhaka jika dalam pemilihan jodohnya tidak mengikuti selera orang tuanya. Artinya perempuan punya hak atas dirinya dalam menentukan pasangan hidup dan masa depannya selama tidak bertentangan dengan tuntunan agama. Perempuan juga memiliki hak cerai dengan cara khuluk atau cerai gugat bahkan apa yang telah diberikan oleh suami tidak boleh diminta kembali.

Islam tidak pernah mengekang hak perempuan, memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam menuntut ilmu, mereka boleh beraktivitas dan aktif dalam berbagai bidang pekerjaan. Bahkan di masa Nabi ada yang bekerja sebagai perias pengantin, perawat, bidan, dan sebagainya. Islam membenarkan perempuan aktif dalam berbagai kegiatan, bekerja dalam berbagai bidang di dalam maupun di luar rumahnya selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam suasana terhormat, sopan, serta mereka dapat memelihara agamanya. Perempuan mempunyai hak bekerja selama pekerjaan itu membutuhkannya, dan norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.

Perempuan saudara sekandung kaum laki-laki, bersamanya laki-laki akan mendapat ketenangan, lahir batin. Darinya akan muncul energi positif berupa rasa cinta, kasih sayang, saling membantu dalam mewujudkan hidup nyaman dan penuh kebahagian, mendidik dan membimbing generasi manusia yang akan datang. Islam memuliakan perempuan, tidak boleh disakiti dan dizalimi sebagaimana sabda Nabi saw, "Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan," dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku".

Islam juga melindungi perempuan dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, dan merendahkan martabatnya dengan mengatur cara  berpakaian yang menutupi seluruh tubuh agar terlindungi dari fitnah, sebagaimana Q.S. al-Ahzab: 59 "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Begitulah konsep Islam yang sungguh memuliakan perempuan, namun muncul pemikiran bahwa perempuan harus disamaratakan dengan laki-laki secara keseluruhannya, tanpa membedakan mana yang fitrah dan sifatnya fungsional. Mereka menuduh bahwa Islam tidak menghargai kedudukan perempuan, memasung kebebasannya, terkungkung dalam penguasaan kaum laki-laki serta hidup dalam kehinaan.

Anehnya, sebagian muslimah kita terpengaruh, sehingga rela mengumbar auratnya dengan mengatasnamakan seni dan kebebasan, padahal perempuan mulia dan terhormat adalah yang menutup auratnya secara sempurna, menjaga kehormatannya dan keluarganya, bahkan perempuan yang dinilai cantik bukan karena faras dan body-nya tetapi karena ilmu, akhlak, dan sopan santunnya.

Jangan mudah terpengaruh dan terperdaya dengan bujuk rayuan setan, apalagi dengan cara menggadaikan kehormatan dan harga diri. Jangan silau dengan kegemerlapan dunia, hanya untuk mendapatkan pengakuan dan pujian seperti cantik, keren, gaul dan sebagainya. Jadikan perempuan-perempuan muslimah sebagai panutan, seperti Maryam yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, Asiyah istri Firaun yang berhati lembut, Khadijah pengorbanan dan baktinya terhadap suami, Aisyah memiliki kecerdasan dan keberanian yang menjadi rujukan para sahabat.

Perempuan adalah laksana madrasah yang akan mencetak generasi yang cerdas, untuk itu persiapkan bekal dengan banyak membaca, aktualisasi diri dan sebagainya, terlebih di era milineal saat ini yang membutuhkan skill dan wawasan. Jangan hanya fokus dengan handphone, atau menghabiskan waktu duduk manis di depan TV untuk mengukuti gosip dan sinetron serta indahnya pesona drama Korea. Hiasi diri dengan amal saleh, belajarlah secara sungguh-sungguh dengan mendalami ayat-ayat Alquran, hadis Rasulullah agar selamat di dunia maupun di akhirat. Wallahu A`lam bi al-Sawab! (agustinhanafi77@yahoo.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved