Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menanti Durian Runtuh di Gampong Lheut, Lamno

BEBERAPA hari lalu saya mendapat undangan dari rekan Muhammad Iqbal dari Gampong Lheut, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, untuk mengunjungi

Menanti Durian Runtuh di Gampong Lheut, Lamno
IST
ILHAM ZULFAHMIL, Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, melaporkan dari Lamno, Aceh Jaya

OLEH ILHAM ZULFAHMIL, Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, melaporkan dari Lamno, Aceh Jaya

BEBERAPA hari lalu saya mendapat undangan dari rekan Muhammad Iqbal dari Gampong Lheut, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, untuk mengunjungi kediamannya dalam rangka mencicipi durian langsung dari kebunnya.

Menyikapi hal itu saya menyusun rencana bepergian dan memustuskan untuk berangkat pada hari Minggu pagi. Bersama dua rekan lainnya, yakni  Firman SPdi dan Muhammad Radhi, kami berangkat naik sebuah mobil tepat pukul 09.00 dari Kota Banda Aceh. Di perjalanan kami mampir sebentar untuk membeli oleh-oleh.

Perjalanan ke lokasi kami tempuh kurang lebih dua jam. Suasana di perjalanan tampak ramai. Sebagian besar masyarakat sedang menghabiskan akhir pekannya di tempat-tempat wisata yang ada di sepanjang jalan menuju Lamno, seperti pantai, sungai, air terjun, dan puncak Geurutee.

Mendekati Gampong Lheut kami coba hubungi Muhammad Iqbal yang ternyata sudah sedari tadi menunggu di persimpangan. Sebagaimana adat masyarakat Aceh yang memuliakan tamu, kami diajaknya mengungujungi rumah beliau terlebih dahulu. Kami berjumpa dengan orang tuanya dan meneguk segelas air seraya mencicipi sepotong dua potong kue. Tak lupa pula sang rekan mempersiapkan sekantong pulut bakar untuk disantap bersama durian di kebunnya.

Menuju kebun durian kami naik sepeda motor. Jarak perlajanan ke kebun durian berkisar 500 meter dari rumah Iqbal atau sekitar 1 km dari jalan raya Banda Aceh-Calang. Perjalanan ini melewati hamparan sawah di mana benih-benih padi siap untuk ditanami.

Di sepanjang perjalanan kami juga kerap jumpa penduduk yang sedang mengangkut durian dari kebunnya untuk dijual kepada beberapa agen lokal (muge) alias penggalas yang sudah menunggu di persimpangan. Setelah muatan kendaraan sang agen penuh, durian-durian itu pun meluncur untuk diperjualbelikan kepada masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya.

Sesampai di kaki bukit kami parkir kendaraan, lalu berjalan kaki sambil menikmati suasana kebun durian di sisi kiri dan kanan jalan. Tak hanya durian, saat kami datang, tanaman lainya seperti rambutan dan langsat pun sedang berbuah lebat. Beberapa pemilik kebun terlihat sibuk mengawasi pekerja yang sedang memanen rambutan, mengumpulkan, mengikat, serta mengangkut rambutan untuk dijual kepada agen.

Suasana perbukitan terlihat cukup sibuk saat itu. Sesekali kami dikejutkan oleh suara dentuman akibat adanya durian yang jatuh. Semakin keras suaranya, pertanda semakin besar ukuran durian yang jatuh. Mendengar suara tersebut, tak jarang secara spontan muncul ekspresi dan reaksi “alah mak eu”.  Nah, “alah mak eu” inilah yang kemudian ditabalkan sebagai nama durian-durian andalan dari Gampong Lheut.

Kami ikut diajak menapaki puncak kebun. Sejauh mata memandang terlihat hamparan sawah dan tanaman durian serta rambutan yang memenuhi bukit. Sangat jarang ditemui tanaman hutan lainnya, sebagian besar hanya durian dan rambutan saja.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved