Breaking News:

Jurnalisme Warga

Lezatnya ‘Gule Pliek Kuwah Cue’ di Kaki Gunung Kulu

WANITA gigih ini bernama Nurhayati (44), putri asli Aceh Besar. Mak Ati, begitu ia biasa disapa, merupakan pemilik Rumah Makan Mak Ati

Lezatnya ‘Gule Pliek Kuwah Cue’ di Kaki Gunung Kulu
ZAHID FARHAN BIN ZULFIKAR, alumnus Unissa Brunei Darussalam, melaporkan dari Lhoong, Aceh Besar

OLEH ZAHID FARHAN BIN ZULFIKAR, alumnus Unissa Brunei Darussalam, melaporkan dari Lhoong, Aceh Besar

WANITA gigih ini bernama Nurhayati (44), putri asli Aceh Besar. Mak Ati, begitu ia biasa disapa, merupakan pemilik Rumah Makan Mak Ati dan terbilang sukses dalam memopulerkan gule pliek kuwah cue, makanan kesultanan Aceh pada masanya.

Rumah makan di khaki Gunung Kulu, Aceh Besar, itu menjadi favorit banyak orang, terutama para penyuka gule pliek kuwah cue. Komposisi gulai ini terdiri atas aneka sayur mayur ditambah dengan pliek-u atau patarana (ampas dari proses memasak minyak kelapa yang dikeringkan), lalu diolah dengan menambahkan cue atau siput sedot setelah dipotong ekornya. Nama cue ini berbeda-beda di sejumlah daerah. Ada yang menyebutnya langkitang, ada jugayang menyebutnya tengkuyung (Black faunus ater colour).

Kini, semua masyarakat bisa mencicipi gulai mewah dengan rasa cue yang gurih dan nikmat berkat tangan terampil Mak Ati. Dialah sosok yang memopulerkan kembali gule pliek cue sehingga menjadi primadona di tanah Aceh atau paling tidak di kawasan Aceh Besar hingga Aceh Jaya.

Sejak berumur 13 tahun, Mak Ati sudah mulai belajar memasak. Lahir dari keluarga yang kurang mampu, membuatnya harus berjuang keras menjadi sosok yang mandiri. Ia hanya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Setelah itu ia sempat bekerja di sebuah rumah makan di Pasar Aceh pada tahun 1989-an, tapi ternyata inilah takdir Allah atasnya.

Setelah Aceh diguncang gempa dan tsunami pada 2004, semua warga kembali membangun dan membuka lembar baru. Dengan berbekal kemampuan memasak yang ia miliki, Mak Ati coba membuka jalan hidup sebagai pedagang kaki lima dengan berjualan nasi. Hanya bermodalkan rak kecil, ternyata masakannya dengan cepat bisa diterima masyarakat. Para volunteer  yang ketika itu masih lalu lalang menjadi penikmat masakannya. Lama-kelamaan, Mak Ati memberanikan diri menyewa toko kecil untuk tepat usahanya. Berselang satu tahun, Mak Ati bisa membuka sendiri warung masakan buatannya.

“Berselang satu tahun, kami sudah bisa membuka yang kini berada di kaki Gunung Kulu, Lhoong, Aceh besar,” ucap wanita paruh baya ini.

Di rumah makannya yang sederhana itu, menu gule pliek cue hanya ada ketika hari Jumat saja, tapi semakin banyak penikmat gule pliek cue yang ingin menikmatinya setiap hari. Akhirnya, Mak Ati pun menyediakan gule pliek cue  setiap hari.

Kini, papan nama ‘Gulee Pliek Tersedia Kuah Cue’ terpampang di warung yang bersebelahan langsung dengan jalan utama Meulaboh-Banda Aceh. Banyak pengendara lintas barat Aceh yang singgah hanya untuk sekadar memenuhi keinginan mencicipi gule pliek kuah cue. Awalnya nama tersebut sempat dicemooh para pengendara yang lewat ataupun pengunjung yang datang, sebab nama tersebut dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

“Awalnya kami sempat dicemooh karena nama rumah makan yang kuno, Gule Pliek gitu, jadi seperti dianggap remeh dengan nama itu,” ujarnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved