Sabtu, 25 April 2026

Kiprah Pak Din

Masih Setia Pasok Minyak Tanah untuk Konsumen

Namun demikian, warga yang masih setia memakai minyak tanah untuk memasak dengan kompor juga masih lumayan banyak. Konsumen

Editor: hasyim
SERAMBI/ZAINUN YUSUF
Pak Din (55), pedagang keliling minyak tanah mendatangi konsumennya di Blangpidie, Abdya dengan becak mesin, Jumat (17/7/2020). 

Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah di pasaran semakin langka di Aceh sejak beberapa tahun terakhir, termasuk di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Langkanya stok di pasaran seiring dengan menurun drastisnya para konsumen karena sebagian besar masyarakat beralih menggunakan elpiji untuk memasak.

Namun demikian, warga yang masih setia memakai minyak tanah untuk memasak dengan  kompor juga masih lumayan banyak. Konsumen ini tidak hanya di pelosok desa, tapi juga ada di kawasan perkotaan seperti Blangpidie, Susoh, Jeumpa, dan Setia. Tak heran, menjelang lebaran seperti sekarang ini, permintaan minyak tanah meningkat, terutama sebagai bahan bakar memasak beragam kue hari raya dengan kompor minyak.

Hanya saja, karena stok sulit diperoleh di pasaran lantaran penjual tinggal satu dua pedagang saja di kawasan Blangpidie, membuat konsumen mengeluh sebab sering kehabisan stok. Untung saja masih ada sosok Pak Din (55), pedagang keliling yang menjajakan kebutuhan minyak tanah secara eceran sampai pelosok ke desa antarkecamatan dengan menggunakan becak mesin.

Warga Desa Alue Dama, Kecamatan Setia ini sudah menggeluti profesi berdagang minyak tanah itu sejak puluhan tahun lalu atau sebelum bahan bakar yang pernah sangat merakyat ini digantikan elpiji. “Pernah saya coba beralih mengangkut semen dengan becak, namun tapi saya tak sanggup lagi mengangkatnya,” kata ayah dua anak ini.

Karena masih banyak warga menggunakan kompor bahan bakar minyak tanah membuat Pak Din terus bertahan sebagai pedagang keliling minyak tanah. Bahan bakar tersebut diisi dalam drum, lalu dipasarkan dengan angkutan becak mesin. Pak Din, memang sudah punya langganan tersendiri. Bukan saja di Kota Blangpidie, Susoh, Jeumpa, Setia sekitarnya, bahkan dipasarkan sampai ke Alue Jambe, Desa Gunung Samarinda, Kecamatan Babahrot yang merupakan daerah perbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya.

Stok minyak tanah diperoleh Pak Din dari Sumatera Utara dan dipasarkan eceran keliling sampai pelosok desa seharga Rp 20.000 per bambu (2 liter) atau 1 liter Rp 10.000. Satu hari bisa habis satu drum isi 120 liter minyak. Jika permintaan meningkat seperti menjelang hari raya seperti sekarang ini, menurut Pak Din, minyak tanah yang dijajakan bisa laku dua drum (240 liter). “Jika ada langganan yang telepon, maka segera saya antar ke rumah,” ujarnya.

Penghasilan dari berdagang minyak tanah secara keliling, sebut Pak Din, cukup untuk menghidupi kebutuhan hidup anggota keluarganya, termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Satu di antara dua anak Pak Din pada tahun ini mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. 

Kecuali berdagang keliling minyak tanah, Pak Din juga menyambi usaha tani menanam padi di sawah. Tanaman padi pada musim tanam rendengan kali ini juga sudah memasuki masa panen. “Tapi harga gabah di tingkat petani terus bergerak turun, dan terakhir berkisar antara Rp 4.800 sampai Rp 4.900 per kg,” tukas Pak Din.(zainun yusuf)           

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved