Breaking News:

JURNALISME WARGA

‘Ndaling Khutung’, Tradisi Khas Aceh Tenggara

Trandisi ndaling khutung (menunggu durian jatuh) merupakan sesuatu tradisi yang unik di kalangan masyarakat Aceh Tenggara (Agara)

‘Ndaling Khutung’, Tradisi Khas Aceh Tenggara
IST
MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Banda Aceh

MUHADI KHALIDI, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Aceh Tenggara

Trandisi ndaling khutung (menunggu durian jatuh) merupakan sesuatu tradisi yang unik di kalangan masyarakat Aceh Tenggara (Agara). Biasanya, ndaling khutung ini dilakukan bersama dengan keluarga maupun teman pada malam hari, dengan semua peserta adalah kaum laki-laki.

Tradisi ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi sekaligus mengingat kenangan-kengangan masa lalu bersama teman-teman sambil menyantap durian langsung dari pohonnya. Meskipun gelap, ditambah dinginnya angin malam, tak memudarkan semangat para ‘pencari’ durian walau hanya menggunakan lampu teplok atau senter.

Tradisi ndaling khutung ini hanya ada sekali dalam tahun, tepatnya pada bulan Juni sampai Agustus. Pada momen inilah buah durian sedang berbuah dengan lebatnya. Setiap pemilik pohon biasanya dengan sengaja dan suka rela mengundang sanak famili bahkan teman guna memakan durian secara langsung. Percaya atau tidak, meskipun buah yang sama, namun menyantap durian yang langsung jatuh dari pohonnya ternyata terasa lebih nikmat. Seperti itulah kira-kira pengalaman saya ketika diajak oleh teman (Ayat Selian) untuk ndaling khutung di kebunnya.

Kebun durian Ayat terletak di desa Kuta Tujung, sekitar lima belas menit dari kediamannya. Ketika tiba di kebun tersebut, saya dan teman-teman lainnya beristirahat sebentar mengeluarkan perlengkapan yang sudah dipersiapkan dari rumah. Adapun perlengkapan itu berupa kain sarung, obat nyamuk oles, dan senter sebagai penerang. Tidak lupa pula kami mempersiapkan bahan makanan mentah untuk dimasak bersama-sama di tenggah hutan nantinya. Meskipun bahan masakan hanya seadanya, yakni berupa daging bebek, air mineral, dan beberapa bumbu, tapi suasana pedesaan tentu membuat makanan apa saja menjadi lahap untuk dikonsumsi.

Momen unik lainnya, tidak lengkap rasanya pada saat ndaling khutung tidak ditemani dengan masakan tasak telu (masak tiga).  Ini merupakan aneka masakan tradisional yang terdiri atas tiga bumbu, yaitu daun serai, bawang merah, dan cabai rawit. Ketiga bumbu inilah yang kemudian dikemas sedemikian rupa sebagai penyedap alami daging bebek. Sebuah kuliner yang sangat nikmat disantap pada saat ndaling khutung. Apalagi melakoninya sembari bercerita masa lalu dengan teman sejawat, membuat waktu berjalan begitu cepat tanpa rasa kantuk dan bosan.

Biasanya, proses menunggu durian jatuh ini dimulai pada pukul 20.30 sampai dengan 04.30 WIB atau sebelum azan subuh berkumandang. Setelah itu para pemburu durian jatuh itu pulang ke rumah dengan membawa hasil ndaling khutung yang didapat selama begadang.

Sebenarnya tradisi ini sudah lama dipraktikkan oleh masyarakat Agara. Dahulu ada filosofi di kalangan masyarakat Agara yang sampai sekarang tetap dipertahankan, yaitu mpung kite khut-khut (milik kita bersama).  Istilah ini mengajarkan bahwa setiap ada rezeki yang diberikan Allah kepada pemilik kebun buah, pemilik tersebut selalu membagikannya kepada saudara, teman, dan tidak lupa kepada tetangga. Hal ini dilakukan agar buah-buahan yang dibagikan tersebut menjadi berkah dan makin bertambah di kemudian hari.

Agara sendiri yang punya semboyan ‘Sepakat Segenep’ merupakan daerah yang terkenal dengan wisata buah, khususnya durian. Saat musim duren, banyak pembeli dari Provinsi Sumatera Utara maupun daerah lainnya (seminggu sekali) datang ke Agara untuk membeli duren dalam jumlah besar. Mereka dengan sengaja membawa mobil pikap untuk memuat duren dan kemudian dijual ke berbagai tempat. Tidak sedikit pula para tauke (pemborong) dari Agara menjualnya langsung ke daerah luar, terutama ke wilayah Medan dan sekitarnya.

                                    Wisata durian

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved