Breaking News:

Jurnalisme Warga

Trik Meredakan Rasa Takut di Masa Pandemi

Perbincangan tersebut hampir selalu menjadi bahasan hangat di warung kopi, tempat kerja, pasar, kompleks perumahan hingga ke ruang keluarga

Trik Meredakan Rasa Takut di Masa Pandemi
IST
NELLIANI, M.Pd., Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar

OLEH NELLIANI, M.Pd., Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar

PEMBERITAAN tentang virus corona di Aceh belakangan ini cukup menyita perhatian masyarakat. Perbincangan tersebut hampir selalu menjadi bahasan hangat di warung kopi, tempat kerja, pasar, kompleks perumahan hingga ke ruang keluarga.

Namun, kali ini bukan tentang grafik yang semakin melandai, zona hijau ataupun new normal. Pembicaraan kali ini lebih kepada kecemasan masyarakat terkait pemberitaan media yang kian gencar akibat semakin melonjaknya kasus Covid-19 di Aceh.

Pemberitaan media yang terkesan berlebihan membuat ketakutan dan kecemasan masyarakat bertambah-tambah. Selain takut terinfeksi Covid-19, masyarakat juga cemas karena stigma mengerikan yang dibuat oleh media. Media berlomba-lomba menghadirkan informasi tentang virus corona dengan judul bombastis dan mengerikan. Baru membaca judulnya saja sudah membuat napas sesak, maka ada sebagian masyarakat yang menghindari untuk baca informasi atau berita seputar pandemi global ini. Salah satunya yang bersikap seperti ini adalah Kak Yan, bukan nama sebenarnya. Kak Yan seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di sebuah gampong di Banda Aceh. Meskipun berprofesi sebagai ibu rumah tangga, Kak Yan bisa dibilang sangat update tentang isu-isu terkini terkait virus corona. Berbagai informasi seputar Covid-19 selalu diikutinya, baik dari siaran televisi, media sosial: Facebook, WhatsApp, maupun Instagram. Ia juga suka membaca surat kabar dan sering terlibat curah informasi bersama ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. Ketika saya tanya kenapa terlalu aktif, “Biar tak ketinggalan info,” sahutnya.

Namun, akhir-akhir ini Kak Yan berbeda. Dia sudah jarang mengikuti siaran tentang Covid-19, juga jarang aktif di media sosial. Dia tak lagi bersemangat membahas berita mengenai corona. Ketika saya tanya alasannya apa, “Tidak bisa tidur,” ujarnya.

Pengalaman yang Kak Yan alami merupakan contoh kecil bagaimana informasi yang dikonsumsi bertubi-tubi--bisa jadi tanpa saringan terlebih dahulu–dapat mengganggu kondisi kesehatannya. Selama berminggu-minggu hampir semua surat kabar menampilkan berita tentang pandemi corona di halaman depan. Sebagai upaya menarik perhatian publik, judul pun di kemas “semenarik” mungkin, lengkap dengan angka-angka dan perhitungan statistik.

Ibarat papan skor dalam sebuah pertandingan, isinya pun tak jauh mengenai naik turunnya angka-angka positif-negatif yang terkena corona. Berapa yang sembuh, berapa yang terinfeksi, dan berapa yang meninggal. Tidak ketinggalan juga informasi terkait ODP, PDP, maupun OTG yang terkadang cukup membingungkan pembaca. Apalagi ketiga istilah itu kini tak dianjurkan lagi untuk digunakan, karena sudah diganti Menteri Kesehatan dengan istilah kontak erat, suspek, probabel, dan kasus konfirmasi.

Tidak dapat dipungkiri, dalam masa pandemi sekarang ini kita sangat membutuhkan media, baik itu media massa, online, maupun media sosial. Hal tersebut terkait dengan keperluan kita mengakses dan mendapatkan informasi tentang perkembangan Covid-19 dan kebijakan terkini menyangkut aturan beraktivitas di era new normal atau adaptasi kebiasaan baru.

Informasi tersebut sebagai landasan kita berpijak dan bersikap menghadapi hari-hari yang belum lepas dari ancaman corona. Tentu kita tidak mengharapkan menjadi salah satu korban karena memilih tidak peduli terhadap informasi mengenai pandemi ini dan abai dengan aturan pemerintah untuk tindakan pencegahannya.

Namun sayangnya, dalam pemberitaan Covid-19 media kerap hadir dengan berita yang sering membuat kaget pembaca. Pemberitaan lebih terkonsentrasi pada kisah-kisah para korban, sehingga masyarakat susah membedakan antara fakta dan opini. Padahal, rasa takut dan cemas sangat berpengaruh pada daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, “Kecemasan dan kekhawatiran dapat memengaruhi imunitas tubuh sehingga rentan terkena Covid-19.” (antaranews.com, 3/3/2020).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved