Breaking News:

Mak Ucok, Perempuan Tangguh dari Cot Rabo

Pada masa penjajahan melawan Belanda dan Jepang, banyak perempuan Aceh yang ikut langsung berperang, sehingga tak heran Aceh

Mak Ucok, Perempuan Tangguh dari Cot Rabo
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

Pada masa penjajahan melawan Belanda dan Jepang, banyak perempuan Aceh yang ikut langsung berperang, sehingga tak heran Aceh memiliki banyak srikandi sebagai pejuang perempuan yang gagah dan tangguh menghadapi musuh. 

Pemerintah Republik Indonesia pun kemudian memberikan penghargaan dengan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada para perempuan Aceh yang gugur dalam perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan kemudian Laksamana Malahayati. Bahkan konon katanya baju tradisional perempuan Aceh juga dirancang unik dengan paduan celana panjang, agar mudah dan gesit dalam bergerak. Tidak ada kata takut dan tak ada kata menyerah, mereka berjuang dengan sekuat tenaga demi kemerdekaan.

Ternyata, spirit kepahlawanan masih melekat dalam darah perempuan Aceh, banyak pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki, tetapi mampu juga dikerjakan oleh perempuan, baik itu di desa maupun di kota, mulai dari menanam padi, ibu rumah tangga, sampai ada yang duduk di parlemen. Nah, mungkin inilah yang disebut dengan emansipasi wanita.

Bicara emansipasi dan semangat untuk tetap survive, saya tertarik dengan perjuangan seorang perempuan yang dikenal dengan panggilan “Mak Ucok”. Dari namanya kita pasti membayang perempuan ini dari suku Batak, Sumatera Utara, tapi ternyata dia adalah perempuan asli Aceh. Ayah dan ibunya warga Meuse, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Panggilannya Mak Ucok, bukan pula karena ia punya anak yang bernama Ucok, melainkan karena salah satu anak gadisnya menikah dengan orang Sumatera Utara yang bernama Ucok. Karena bermenantukan orang Batak, perempuan ini pun terkenal dengan panggilan Mak Ucok.

Mak Ucok memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Dia menetap di Gampong Cot Rabo, berjarak ± 5 km dari ibu kota Kecamatan Peusangan, Matangglumpang Dua.

Setelah ditinggal suaminya menghadap Ilahi tahun 2000--saat itu Mak Ucok sedang hamil tiga bulan anak yang ketujuh atau si bungsu--maka otomatis dia menjadi ‘single parent’ yang harus merawat, menjaga, dan menafkahi tujuh orang anaknya sendiri. Dia harus berpikir jernih ke depan, berjuang demi anak-anaknya agar tidak menjadi anak telantar dan berharap belas kasihan dari orang lain.

Membesarkan tujuh orang anak sendirian bukanlah hal yang mudah, banyak liku-liku hidup yang dilalui. Setelah anaknya yang tua mampu mengerjakan tugas rumah tangga dan menjaga adik bungsunya, Mak Ucok pun mulai bergerilya mencari nafkah dengan menjajakan barang dagangan berupa pliek-u ( patarana) dan tauco dari satu kampung ke kampung lainnya, bahkan sampai ke negeri seberang, Malaysia.

Awalnya tahun 2006, dua tahun pascatsunami, dengan bermodalkan uang Rp 2.500.000 untuk pembuatan paspor dan visa kerja, Mak Ucok sengaja tampil garang, seperti preman dengan logat Medan agar dapat memasuki pelabuhan dengan aman tanpa gangguan lingkungan untuk merintangi lautan dari Tanjung Balai menuju Malaysia. Karena barang yang dibawa tergolong banyak, maka dia memilih jalur laut. 

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved