Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menjadi Kader HMI

Saya mengenal organisasi kader mahasiswa tertua ini dari buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dibawa pulang bapak saya ke rumah kami

FOR SERAMBINEWS.COM
HASNANDA PUTRA, Kepala BNN Kota Banda Aceh dan mantan ketua umum HMI Cabang Kota Jantho Aceh Besar, melaporkan dari Banda Aceh 

OLEH HASNANDA PUTRA, Kepala BNN Kota Banda Aceh dan mantan ketua umum HMI Cabang Kota Jantho Aceh Besar, melaporkan dari Banda Aceh

Menjadi HMI adalah cita-cita saya sejak di bangku SMP. Saya mengenal organisasi kader mahasiswa tertua ini dari buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dibawa pulang bapak saya ke rumah kami di Gampong Pulo Masjid 1, Tangse, Pidie.

Masa perkenalan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selanjutnya adalah melalui bacaan di beberapa majalah, seperti Tempo yang rajin dibawa paman dari Banda Aceh. Dalam berbagai literatur, nama Nurcholish Madjid dan Akbar Tandjung menjadi mantan ketua umum PB HMI yang paling saya kenal sekaligus kagumi.

Beranjak SMA, saya menjadikan pustaka sebagai ruang kelas kedua, sehingga banyak buku yang saya pinjam, dan sebagian besar bacaan yang paling saya minati adalah sejarah. Padahal, saat itu saya mengambil jurusan fisika.

Memasuki tahun 1995 saat duduk di bangku kelas 3, sekolah kami kedatangan abang-abang mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Tangse (Imata, sebelum berubah nama menjadi Fokusmata). Para senior SMA Tangse yang datang ini memberi motivasi kepada kami untuk kuliah sekaligus membahani try out  ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Dalam sebuah pemaparan, ketua rombongan yang juga orang kampung saya, Fadhlullah TM Daud (kini menjabat Wakil Bupati Pidie) ikut memperkenalkan HMI.  Dari perkenalan melalui buku dan informasi senior itu, saya mulai memahami pergerakan mahasiswa dan beberapa contoh organisasi mahasiswa. Hijrah ke Banda Aceh tahun 1995, saya melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi swasta. Namun, setahun kemudian saya ke luar karena merasa jurusan tersebut tidak cocok dengan cita-cita saya.

Berada di Universitas Serambi Mekkah (USM) sejak 1996 saya mulai menemukan bakat dan minat di sini. Buku-buku yang banyak saya baca sejak SMP dan berlanjut hobi korespondensi di SMA, sangat membantu saya menemukan ide dalam mengasah keterampilan menulis. Saat itu surat pembaca di Harian Serambi Indonesia menjadi wadah menulis pertama sekali bagi saya. Dari situlah beberapa senior, di antaranya Mariadi, menjagokan saya sebagai kandidat Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) pada tahun 1997. Cuma, dalam pemilihan waktu itu saya tidak menang dan hanya kebagian menjadi ketua 1 sesuai dengan perolehan suara.

Seterusnya, kegiatan eksternal SMPT lebih banyak saya yang wakili, hingga tiba waktunya pada Mei 1998 terjadi gelombang reformasi mahasiswa. Bersama beberapa senior dan teman-teman kampus, kami mengorganisasi aksi dan ikut serta ambil bagian dalam banyak demonstrasi.

Dalam beberapa perjalanan aksi ke Jakarta, saya intens berdiskusi dengan Ketua Umum Badan Eksekutif  Mahasiswa Universitas Abulyatama, Islamuddin. Dari obrolan itu, Bang Islamuddin mendorong saya untuk masuk HMI. Belakangan Islamuddin ST pernah menjadi Wakil Wali Kota Sabang dan kini Plt Wakil Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS).

Tidak banyak membutuhkan waktu untuk mengenal HMI karena sejak SMP saya sudah membaca berbagai gerakan organisasi kader terbesar di Indonesia ini.

Akhirnya, dengan bantuan Bang Islamuddin di tahun 1999 saya dan beberapa kawan mendaftar sebagai calon anggota HMI di Kampus Unaya. Kebetulan saat itu, HMI Cabang Persiapan Kota Jantho sedang membuka pendaftaran kader untuk didik melalui Basic Training atau Latihan Kader 1 sebagai pelatihan pertama untuk menjadi anggota HMI.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved