Breaking News:

Opini

Kurban; Solidaritas dan Sensitivitas

Hari-hari ini, pertengahan Dzulhijjah 1441 Hijriah, masa siklus dari hari-hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat

Kurban; Solidaritas dan Sensitivitas
IST
Muhammad Yakub Yahya, Kader Ikatan Siswa Kader Dakwah (Iskada) 1996, ASN Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag Aceh

Oleh Muhammad Yakub Yahya, Kader Ikatan Siswa Kader Dakwah (Iskada) 1996, ASN Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag Aceh

Hari-hari ini, pertengahan Dzulhijjah 1441 Hijriah, masa siklus dari hari-hari yang penuh berkah. Hari yang sangat bersejarah bagi umat yang Muslim khususnya. Hari ini, hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ketauhidan dalam berketuhanan (Ibrahim `alaihi salam). Sebuah penemuan maha penting di jagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan.

Karena berkat konsep ketauhidan yang ditemukan Nabi Allah Ibrahim, manusia dapat menguasai alam dengan menjadi khalifah fil ardh (bumi). Dari jejak itulah, warisan agama nan hanif (lurus) sampailah ke hati kita, ke daerah kita, lewat jalur jihad dan dakwah Nabi terakhir. Allahumma shalli `ala Muhammad wa `ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Kurban, napak tilas jalan para nabi, dan syuhada. Hari ini, umat Islam di timur dan barat, baik yang sewaktu dengan kita di Aceh ini, maupun yang berbeda dengan kita, telah disatukan oleh Allah sebagai satu umat. Kita merayakan hari Raya Idul Adha bersama-sama sebagai umat Islam, bukan sebagai bangsa Arab, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia.

Kita merayakan hari agung dan suci ini sebagai satu umat, yang diikat oleh akidah yang sama, yaitu akidah Islam. Dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam.

Namun sayangnya, kesatuan kita kadangkala sebagai umat ini, hanya sesaat, saat di depan Tuhan. Sebab, begitu kita selesai mengerjakan shalat Idul Adha, kesatuan itu pun sirna. Lebih 1,7 miliar umat Islam, pagi kini merayakan Idul Adha, itu pun kembali menjadi buih, dan tidak berdaya menghadapi penistaan demi penistaan yang terus menghampiri mereka.

Lihatlah, untuk menjaga kehormatan dan kesucian Nabi Muhammad dan keluarga Baginda, yang terus-menerus dihina dan dinistakan saja, kita tidak mampu. Paling-paling kita hanya bisa mengutuk, mengecam, memprotes atau menuntut agar penguasa negeri kaum Muslim itu menyeret dan mengadili pelakunya.

Tetapi, apakah seruan itu pernah didengarkan? Tentu saja tidak. Karena para penguasa Islam belum semua mampu menjadi penjaga agama ini. Sedikit yang mau menjadi pembela kehormatan Nabi mereka. Bahkan, menjadi penjaga wilayah sekecil kota tercinta ini pun, belum sanggup.

Sebaliknya, mungkin kita malah bahu-membahu dengan para penjajah (penjajagan dalam aspek ideologi, budaya, pendidikan, politik, sosial, dan ekonomi), agar bisa menduduki dan menguras kekayaan alam negeri-negeri kita, mengelabui anak-anak kita. Kalau bukan karena masih ada yang masih peduli dengan Syariat Islam, mungkin nasib negeri ini sudah terjungkir balik perjalanannya. Allahu akbar.

Kondisi ini sudah diisyaratkan oleh baginda Rasulullah saw. Dalam sabdanya, hampir lebih 15 abad yang lalu. Penyakit wahn inilah yang menjangkiti umat Islam, sehingga mereka kehilangan haibah (wibawa), sebaliknya mereka justru menjadi penakut dan pengecut.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved